CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 60 : NASEHAT DADANG


__ADS_3

Rona mengerti Siska dan Asep butuh penyelamat juga perlu ruang yang banyak untuk berdua. Maka ia pun berjalan mendekati Siska.


"Ambu sudah tua, ga bisa liay anak muda deket sedikit. Pasti di kita apa apa. Ini Asep tadi cuma memastikan bekas makan Siska tadi tidak meninggalkan bau dinpermukaan wajahnya. Makanya jarak mereka sangat dekat tadi." Rona mencari cari alasan yang paling masuk akal agar keduanya tidak merasa terperosok pada rasa malu yang makin dalam.


Asep dan Siska hanya saling pandang.


"Oh... iya Sis. Maaf abah baru bisa jenguk sekarang. Abah bawakan buah saja ya, tuk cemilan." Dadang ikut seolah tak melihat kejadian yang baru saja mereka lihat secara live streaming.


"Eh... i ...iya bah. Terima kasih, maaf merepotkan." Jawab Siska malu malu.


"Siska... kamu jangan pusing memikirkan biaya perawatan selama di sini ya. Semua tante yang tanggung. Jangan buru buru minta pulang. Berobatlah hingga tuntas. Nanti ada Miska, ART di rumah tante minta menemani kamu tidur di sini." Ujar Rona lalu pandangannya ke arah Asep.


"Bukannya kami tidak percaya dengan Asep. Hanya mungkin kamu risih saat ingin BAB atau BAK. Asep juga pasti tak bisa membantu kamu sampai di dalam kamar mandi. Bukan muhrim." Rona melanjutkan kata katanya dengan tegas.


"Naha Sep... kamu cemberut? kamu teh kecewa nya tidak jadi tidur berduaan sama si eneng Siska...?" Ambu lagi lagi menggoda Asep yang sudah berhasil meredakan badai dalam dadanya.


"Henteu atuh ambu, mah." Bantah Asep merasa tertuduh.


"Ambu ... geus ah. Kasihan atuh si Asep di goda terus." Dadang menegur ibunya.


"Kalian teh, tidak liat saja gimana kitu wajah si Asep mah, waktu ambu minta dia jagain Siska. Ternyata... ehceeem."


"Sudah Mbu. Maaf ya Sis. Ambu suka bercanda. Asep, kalo mau nginap di sini juga ga papa. Miska tante kirim hanya jaga jaga, kalau Siska kesulitan ke kamar kecil saja." Asep dan Siska mengangguk.

__ADS_1


"Iya.. orang bujang laki laki dan perempuan teh, tidak baik berdua duaan dalam ruangan yang sama. Bisa muncul setan. Sok... biar saja atuh si Miska teh jadi setan. Dari pada kalian berdua khilaf alias berbuat dosa. Nenek bilang itu berbahaya." Mulut ambu mana bisa di rem. Tapi gimana mau di stop juga, sebab yang ia sampaikan itu benar.


"Kami permisi dulu ya. Cepat sehat ya Sis." Dadang sudah lebih dahulu memilih cepat pergi saja. Kasihan pada Asep yang semakin ambu pojokkan karena ulah mesum mereka buat tadi.


Asep tidak hanya mematung, ia pun beranjak mengikuti ketiga orang tuanya tersebut, untuk mengantarkan ke depan.


Dadang memperlambat langkahnya, berlagak ada sesuatu yang ia ambil dari balik celana panjangnyam Sehingga ia tertinggal dari Ambu dan Rona.


"Sep..."


"Iya bah..."


"Jangan main main sama anak gadis orang. Abah malu." tegur Dadang saat hanya berdua dengan Asep, saat kedua wanita yang ia cintai itu terus melangkah meninggalkan ruang rawat inap tadi.


"Asep tidak perlu minta maaf pada abah. Tapi, harus lebih tegas dengan diri Asep sendiri. Kamu sudah dewasa, menikahpun sudah layak. Pekerjaan punya. Sandang, papan, juga sudah ada. Wajar saja jika Asep sudah mulai memikirkan untuk berumah tangga. Tapi, tolong. Jaga harga dirimu juga jaga kehormatan wanita. Sia sia ibadahmu, tak berguna amal baktimu selama ini mengurus ambu, jika kamu tak pandai mengendalikan diri saat bersama seorang gadis." Dadang sungguh menganggap Asep seperti anaknya sendiri. Maka merasa berhak untuk menegur dan menasehati Asep saat berbuat sesuatu yang agak menyimpang.


"Abah pernah muda, bahkan abah pernah sangat gila dalam hal jatuh cinta pada tante Rona mu itu. Tapi satu hal yang tetap abah jaga adalah kontak fisik yang kami lakukan hanya setelah kami telah halal di mata Allah." Dadang menerawangkan kenangan masa lalunya bersama Rona.


Yang kala itu, hububgan mereka sangat di tentang oleh Hildimar Herold. Semakin Dadang berusaha menjaga kehormatan Rona untuk tidak di renggut sebelum waktunya, justru Rona semakin ingin ia miliki dalam waktu cepat.


Rona tak ingin kehilangan pria baik, sopan dan sangat mengerti karakter kerasnya kala itu. Maka, menyerahkan diri untuk di buat hamil sebelum nikah pun. Pernah Rona minta pada Dadang, agar ayahnya segera merestui hubungan mereka.


Dadang laki laki normal, masa ia sanggup terus menerus menahan diri untuk sabar, dan tidak mengerepeh grepeh tubuh Rona yang proporsional.

__ADS_1


Maka saat ia yakin cinta mereka kuat dan tak terpisahkan. Dadang memilih menikahi Rona di kampung kelahirannya saja secara diam diam, tanpa restu sang ayah. Namun di akui secara agama. Bagi mereka saat itu, yang penting mereka tidak berbuat zinah. Tidak melanggar ketentuan Allah, dan urusan dengan manusia. Bisa mereka bicarakan pelan pelan, di waktu lain.


"Jika yakin Siska pilihanmu... seriuslah. Temui orang tuanya, pastikan kamu yang akan bertanggung jawab jika ada sesuatu hal terjadi padanya. Tetapi, jika masih ragu. Jangan beri harapan dalam bentuk apapun pada nya. Juga jaga jarak, jangan buat orang lain berpikir kamu adalah kekasihnya." pesan abah menepuk punggung Asep, lantas berlalu meninggalkan Asep.


Diam diam Asep mencerna perkataan Dadang dengan seksama. Sambil bertanya pada hatinya yang baru sadar, jika tindakannya tadi sungguh di luar batas kewajaran.


Asep juga bingung, dapat dorongan dari mana, sehingga saat melihat bibit Siska berbicara tadi. Tiba tiba ia sosor saja dengan gemesh. Tapi nikmat. Kenapa nikmat? Karena respon yang ia rasakan adalah sesuatu yang lambut. Tak menggebu namun membuatnya terbuai hingga lupa waktu. Seketika merasa nyaman, seolah keduanya sedang berinteraksi tanpa kata, namun menghadirkan rasa yang membuat mereka hanya bisa saling mengerat, melalui manuver manuver lembut membuat seluruh aliran darahnya mengalir lancar, kerja jantungnya memompa kuat bahkan saraf otaknya berkata, rongga itu adalah tempat ternyaman dari antara rongga yang pernah ia jelajah sebelumnya.


Dengan Laela...? ya iyalah. Masa dua tahun pacaran belum pernah cip ok an. Yakin hanya dengan Laela? Ya ... ga lah. Asep hanya pendiam. Tapi tidak dengan sikapnya. Tapi bukan karena dianya yang nakal. Hanya ketampanannya yang kadang membuatnya terperangkap dalan godaan godaan para betina yang kadang memamg menjebaknya dalam sebuah kondisi yang memaksanya, kadang melakukan hal di luar batas normal. Ah... Asep menyunggar ranbutnya lalu melangkah ke dalam ruang rawat dengan pelan untuk kembali menemui Siska.


"Maaf yang tadi ya..." ucap Asep pelan masih dengan rasa malu yang masih tersisa di dalam hatinya.


"Maaf aja ga cukup untuk seseorang yang sudah menerobos segelan bibirku, A'a..." Ujar Siska berani.


Bersambung...


Aiiissh... susah payah nyak nulis sambil godok ketupat buat besok.


Nyak di kasih kopi ngapaaa...?


Biar lancar gitu nulisnya gaees.


Makasiih semuanya...❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2