CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 161 : AMBU MERAJUK


__ADS_3

Apa yang ada di dalam pikiran Gita dan Gilang sekarang selain bahagia? Sama dengan Nyak, juga readers semua, senang pasti. Walau beberapa waktu lalu kita sempat agak gimana gitu. Saat baru tau Gita hamil. Perangai yang jauh berbeda, manja, ambekan dan sebagainya. Sempet kesel dan mengira Gita lebay. Tapi kesininya, merasa wajar, sebab di dalam perut itu ada dua pribadi yang berbeda. Mungkin itu yang membuat Gita seperti bukan dirinya.


"Hallo anak anak ayah. Sehat, sehat di dalam sana ya. Ayah, jaga dari luar saja." Usap Gilang pada perut Gita yang memang mulai menonjol. Saat mereka sudah berada di tempat tidur mereka setelah sudah sampai rumah.


"Yakin jaga dari luar saja, A' ... ?" pancing Gita, pada Gilang yang nyata sudah lama jaga diri dan bersahabat karib dengan sabun sabunan di kamar mandi.


"Jangan mancing. Ntar kepentok pala mereka, Neng."


"Mang berani, A?"


"Ya ngak lah. A'a sayang banget sama kalian semua. Ayah ngalah, sumpaah."


"Ikhlas A' ...?"


"Masa ga ikhlas. Itu di buat juga sengaja. Dalam keadaan sadar. Apapun resikonya, harus A'a terima."


"Maaf ya A ... " Gita melow.


"Kenapa minta maaf. AGi yang makasih. Eneng udah mau hamil, langsung dua lagi. A'a beneran seneng lho." Elus Gilang gemas dengan perut itu.


"Jangan ke bawah bawah ngelusnya. Nanti bablas loo." Gita mengelus rambut Gilang. Ia paham suaminya hanya menahan diri selama ini. Bukankah, kini ia adalah pria beristri yang tentu sudah terbiasa menyalurkan hasratnya dengan teratur.


"Iya ... Mampir doang. Kangen tau." Tukas Gilang menyentil si iting-iting yang memang lama tidak di sambangi oleh si Jaka.


"Neng ... Besok ada acara di Cisarua. Mau ikut?" Gilang mengalihkan fokus pembicaraan mereka.


"Peresmian ya ... Boleh juga. Pasti banyak makanan deh di sana." Gita sudah berandai andai akan kudapan yang akan di sajikan besok.


"Tanya Ninik deh, dia urusan catringan."


"Heem ... Lama juga Eneng ga kontak sama Ninik. Eneng belum sungguh berhenti kerja, kok rasanya udah kaya pengangguran ya A. Sekarang. Atau emang, Eneng sudah di pecat ya. Kelamaan libur."


"Siapa yang berani pecat pemilik saham 15persen di perusahaan?" tanya Gilang pada Gita.


"Gimana?" tatapan heran Gita pada suaminya tak mengerti.


"Kevin itu kakak nya Eneng. Saham kalian berdua malah sama besarnya dengan miliknya."

__ADS_1


"Masa ... Kak Kevin hanya punya 15 persen  juga, sisanya?"


“70 persennya semua saham ibu Monalisa Hildimar.” Jawab Gilang yang sejak pertama kenal Muna memang taunya namanya Mona, ya selalu nama itulah yang menjadi panggilannya.


“Oh … iya. Kakak kan bucin pake bingit.” Simpul Gita merasa jika yang kakaknya lakukan adalah hal yang wajar.


“Suami sayang istri, Neng.”


“Iya. Besok a’a gitu juga ga sih. Kalomisal punya perusahaan sendiri.”


“Enggak.” Jawabnya singkat.


“A’a … ga mau ngutamain Eneng?”


“Bukan gitu. A’a ga pernah mau membayangkan punya perusahaan atau semacamnya. A’am gini-gini aja. Asal punya uang untuk beli makan sehari-hari, bis anabung dikit buat biaya pendidikan anak-anak kita nanti. Ya udah.”Jawabnya hendak terlelap karena kantuk mulai datang.


“Sesederhana itu …?”


“Maunya semewah apa sih? A’a sudah bersyukur punya Eneng. Dan semoga Eneng mau terus di samping a’a menjalani hidup yang tidak berlebihan ini.” Aaaah Gilang memang selalu so sweet.


Cup, kening Gita di kecup Gilang. Memberi respon betapa ia setuju dengan pemikiran istrinya.


“Tidur … mumpung semua yang di tubuh a’a udah ngantuk.” Hah … bahkan saat jantuk menderanya. Gilang sempat saja bercanda.


Jika Muna sudah berdamai bahkan mulai menikmati kehamilan ke tiganya. Gita tentu lebih berbahagia saat tau janin yang ia kandung ada dua di dalam perutnya. Berbeda dengan Siska yang masih berjuang mendapatkan garis dua. Tapi bukan hal yang meresahkan, sebab usia pernikahan mereka baru dua minggu, tanpa cicilan di awal sehingga menunggu dan terus berjuang adalah hal yang dia dan Asep lakukan.


Ambu memang sudah tua, tapi tidak renta. Sehingga Siska kadang merasa terbantu untuk urusan rumah. Sebab nenek suaminya itu, masih sangat rajin mengayunkan sapu dan alat kebersihan lainnya di dalam rumah yang mereka tempati bertiga. Ambu, bukan tipe orang tua yang merepotkan juga taksuka berpangku tangan. Bahkan jika Siska terlambat bangun, justru ambu yang sudah menyiapkan sarapan untuknya dan suami.


“Ambu … jangan suka repot-repot untuk kami. Siska ga enak kalo sarapan saja Ambu yang buat.” Ujar Siska yang baru saja duduk di meja makan.


“Teu masalah atuh, Siska. Ambu teh perlu olah raga.”


“Iya … olah raga ya … jalan pagi aja di depan rumah. Urusan masak sama bebersih, Siska bisa kok bagi waktu.”


“Siska ga suka masakan Ambu?” biasa kali, orang tua ya. Kita mikirnya gimana, mereka menerima maksud kita gimana.


“Tidak Ambu, bukan gitu. Siska sayang Ambu. Ga mau Ambu capek atau kecapekan. Banyak istirahat saja.” Siska menyampaikan maksudnya dengan kata-kata yang sopan tetapi Ambu sepertinya malah tersinggung.

__ADS_1


“Iya gini … kalo sudah tua dan peyote. Semua pekerjaan ga boleh Ambu lakukan.” Ujarnya merajuk. Dan melengos masuk ke dalam kamarnya.


Asep sempat melihat Ambu masuk kamar, menutup pintu dengan suara yang agak nyaring. Sambil merapikan pakaian kerjanya, Asep melangkah mendekati Siska, mencium kening Siska lalu duduk di kursi makan sebelah istrinya.


“Ambu kenapa Nyi …?” tanya Asep yang curiga ada sesuatu terjadi.


“Tau …” Jawab Siska cuek dan mulai menyendokan nasi goreng buatan ambu ke piring Asep.


“Kok, nutup pintu kamarnya ga kaya biasanya …?” Asep kembali melempar pandangannya kea rah kamar Ambu. Wanita tua yang selalu memenuhi segala kebutuhannya selagi jomblo.


“Ga sengaja kali.” Siska malas menjelaskan apapun pada Asep.


Asep cuek saja, lalu menikmati sarapan paginya dengan tenang.


“Akang … hari ini, aku ke Cisarua. Ikut acara peresmian anak cabang perusahaan Pak Kevin. Mungkin sampai sore ya acaranya. Pamit.” Ujar Siska setelah mereka berdua sudah menyelesaikan sarapan pagi dalam kesunyian.


“Oh … iya. Silahkan. Maaf tidak bisa menemani dan ikut. Salam selamat dan sukses saja buat mereka semua ya, Nyi.” Ujar Asep.


“Iya, nanti ku sampaikan. Aku berangkat ya.” Pamit Siska lagi.


“Akang antar …?”


“Tidak Kang, sebentar lagi Tama jemput. Tuh … udah datang.” Siska sudah beranjka menuju depan rumah. Sebab jemputannya memang sudah datang.


Tok


Tok


Tok


“Ambu … Asep mau berangkat nih. Pamit ya.” Asep cucu yang sopan dan baik. Tak pernah luntur kasih sayangnya pada Ambu bahkan walau sudah beristri. Mendorong pintu yang ternyata tida terkunci. Ingin mencium tangan


orang tua itu sebab akan melakukan perjalanan.


“Lho … kok tasnya penuh. Ambu teh mau kamana?” tanya Asep bingung melihat ada dua tas pakaian terisi penuh dan padat di kamar Ambu.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2