
Siska tak jadi menyambut remote televisi yang Asep julurkan untuknya dia lebih tertarik untuk memandang wajah Asep, mencari kebenaran dari sorot mata teduh milik pria idolanya tersebut.
"Sis..." Panggil Asep. Tapi Siska tetap mematung dengan tatapan yang masih sama, penuh tanya ke arah Asep. Baginya ini tuh kayak mimpi. Mimpi paling indah yang ia wujudkan di dunia nyata.
"Siska... kamu kenapa? kesambet?" tanya Asep melepas remote televisi lalu memegang kedua bahu Siska, mengguncang-guncang kedua bahu itu dengan pelan.
"Kamu kenapa sih...? please, jangan bikin aku panik lagi." Suara Asep terdengar khawatir, bingung melihat ekspresi Siska yang tiba tiba memucat dengan tatapan aneh ke arahnya.
"A'Asep... Please deh, cukup ususku yang meradang. Jangan A'a buat aku sesak nafas juga..." Siska akhirnya bicara sambil memegang dadanya.
"Dadamu sakit? kamu sesak napas...?" dengan polosnya Asep bertanya pada Siska.
Lagi lagi Siska tak menjawab, hanya tangan kirinya masih di dada dan berusaha menarik nafasnya dalam dalam.
"Siska serius, jangan buat aku panik lagi." Asep setengah memohon memastikan jika Siska baik baik saja.
"Oksigen, oksigen..., aku butuh oksigen. Otakku kekurangan pasokan udara A'a. Membuat telingaku pengeng. Tapi aku tadi nggak salah dengar kan?" Jawab Siska yang masih shock dengan pernyataan Asep yang tiba tiba.
"Gak, Sis beneran. Yang ku sampaikan tadi itu sungguh-sungguh. Please jangan buat aku panik lagi." Asep bicara lebih tegas kali ini.
"Bisa diulang ? Tadi kamu ngomong apa? Sepertinya selain sesak nafas aku juga agak terganggu dengan ingatan, mendadak lupa dengan apa saja yang sudah kamu ucapkan tadi padaku." Siska sengaja dong ingin lagi mendengar untaian kata yang Asep ungkapkan padanya.
__ADS_1
"Sis..., beneran, Maaf ya, kalau selama ini aku terlihat dingin dan kaku. Aku belum bisa mengerti dengan perasaanku sendiri, tapi setelah memikirkan semuanya. Maaf jika aku selama ini tidak peka. Aku terlalu menikmati semua perhatianmu, walaupun hanya lewat chat ringan kita selama ini. Dan saat membawa kamu ke rumah sakit ini tadi, aku tuh berdoa agar penyakitmu tidak parah agar kamu cepat pulih dan baik-baik saja. Lalu saat mendengar obrolan dengan ibumu tadi, aku justru lebih merasa bersalah lagi mengapa selama ini hanya kamu yang perhatikan aku, sudah makan atau belum tetapi aku tidak begitu sering membalas dan melakukan hal yang sama. Besok aku tidak ingin menanyakan kamu sudah makan atau belum lagi. Tapi Makanan apa yang akan kamu makan? Aku sayang kamu, Sis." Skak mat, kalimat pamungkas itu akhirnya keluar dari mulut seorang Asep Suparta.
"Aaaaaaccch." Siska berteriak histeris dia merasa seolah-olah plafon Rumah Sakit itu runtuh menimpa kepalanya, dia hanya sakit radang usus. Tapi sekarang mengapa hatinya yang bergejolak, bergemuruh, bagai tertimpa tanah longsor mendera dadanya? Siska hampir gila mendengar pernyataan Asep sudah bertahun-tahun ia ingin dengar dari Asep Suparta.
"A'Asep..., please jangan bilang kamu sedang bohong." Siska segera sadar, tak ingin berlama lama dalam keadaan yang mungkin hanya semu.
"Tidak Sis, ini beneran. Aku ingin menjadi bagian yang terpenting dalam hidupmu." Ungkap Asep lebih sungguh. Jangan tanya kerja jantung Siska ya gaes, kita semua tau bagaimana perasaan Siska selama ini, bagai pungguk merindukan bulan. Tapi, apa yang terjadi di ruang rawat inap Siska sekarang. Mengapa seolah perasaannya bagai gayung bersambut. Bahkan Siska tak perlu menurunkan harga dirinya untuk menembak Asep.
"A'Asep tolong cubit tanganku, biar aku sadar kalau ini bukan mimpi." Pinta Siska mengulurkan tangannya ke arah Asep.
Oh OMG Asep bahkan tidak menarik tangan yang Siska julurkan ke arahnya. Melainkan menarik tengkuk Siska dengan kedua tangannya dan segera menempelkan bibir miliknya pada bibir Siska, tiba-tiba kedua organ kenyal itu tertempel melekat. Mukut Siska tadi masih terbuka saat terakhir kali dia berbicara, dan Asep ternyata selama ini hanya pendiam secara verbal tapi tidak dengan tindakannya. Dia justru lihai menye sap, menelusuri, menyapu rongga mulut memiliki Siska. Mengabsen deretan putih di dalamnya.
Kali ini Siska benar-benar merasa kehabisan oksigen. Sungguh di luar dugaannya. Tak sesuai ekspektasinya.
Keduanya tengah berada dalam suasana sunyi namun syahdu. Mentransferkan segenap rasa yang ternyata selama ini mereka tahan. Siska memang baru melakukan hal itu, tetapi gerakan lembut indra pengecap milik Asep yang tersangkut, bagai tersesat tak menemukan jalan keluar dari dalam rongga mulut Siska itu masih terlihat betah, berdecak decak di dalam sana
Sampai ada suara pintu terbuka dan sebuah teriakan.
"Astagfirullahaladzim, Aseeeep...!!!" dengan terpaksa pertautan bibir tadi pun terai dengan sendirinya.
Siska dan Asep memutar kepalanya menoleh ke arah asal suara teriakan tadi berasal. Ternyata yang datang adalah Ambu, Rona dan Dadang.
__ADS_1
Kebayangkan bagaimana malunya kedua Insan tersebut, kedapatan sedang melakukan ciuman panas di ruang rawat inap tersebut.
"Ini teh, si borokokok bilangnya tidak mau jaga... malah gigit-gigitan begini atuh. Asep Jelaskan sama si Ambu mah." Ambu sudah dengan nada dasar G \= DO nya menghardik Asep menahan tawa juga menahan rasa bahagia yang bergejolak di dalam hatinya, dia senang akhirnya cucunya sadar bahwa Siska harus dijadikan sebagai cucu menantunya.
"Oh... anu, ambu." Asep masih bingung, gugup tidak bisa lagi berkata-kata. Apalagi membuat alasan mengapa ia melakukan hal tadi terhadap Siska. Baru kurang lebih 8 jam Siska berada di rumah sakit tersebut, di awal masuk ia di diagnosa kena penyakit radang usus, tapi kesininya sudah bertambah jadi sakit asma, hingga kesulitan bernafas. Dan sekarang mau amnesia atau mungkin dia akan pura-pura gila saja, karena malu kedapatan melakukan ciuman panas dengan Asep di ruangan itu.
Ambu terkekeh sendiri, sambil berjalan menuju ranjang pesakitan yang di duduki oleh Siska.
"Ha... ha... anak jaman sekarang teh, tidak bisa di tebak. Ambu teh, masih ingat bagaimana wajahmu tadi, yang sangat terpaksa supaya mau jaga Siska. Eleeh... eleh, ulah kitu atuh Sep, kalau tidak mau jaga mah, jangan di gigit juga atuh bibir si eneng gelis mah." Ambu benar benar puas mempermalukan kedua insan di landa panah asmara itu. Siska buang muka, dan Asep ingin segera menghilang saja dari muka bumi ini, saat itu.
Asep wajahnya tidak lagi putih melainkan kemerahan, mirip tomat yang baru akan masak. Sungguh asep malu bukan kepalang telah tertangkap basah pada malam itu.
Bersambung...
Maaf.... udah mau lebaran kan ya?
Nyak dah gatal mau nulis part romantis. Batal ga yakπ€
Makasiih yaa
πΉπΉββππππ
__ADS_1