CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 168 : LAPORAN MUNA


__ADS_3

Maaf ya readersku yang baik hati. Sekarang memang musim hujan, maunya memang selalu yang dingin dingin empuk. Tapi jiwa nakal nyak otor ga bisa sejauh keinginan para readeR tersayang. Untuk adegan selanjutnya antara Gita dan Gilang silahkan di lanjutkan. Nyak gallau kalo ngikuti kemaunan otak kotor nyak, kandungan Gita bisa keguguran. Akibat kebanyakan gaya mereka berhubungan. Jadi, silahkan para readers aja yang touring tanpa nyak bimbing ya. Selamat bertravelling  he…he.


Semua pasangan suami istri yang lama menginginkan hadirnya buah hati juga tau, betapa rindunya ingin memiliki dan betapa ingin menjaga juga betapa bohong jika dalam masa kehamilan muda itu tak pernah terbesit untuk melakukan hubungan intim. Namun, kembali ke pribadi masing-masing untuk mengatasi hal semacam itu. Keinginan istri untuk tetap mengabdi, melayani dan memberi hak pada suami merupakan idaman semua wanita. Demikian pula suami yang ingin tetap menjadi pelindung istri, menafkahinya secara lahir dan bathin juga merupakan tugas pokok suami yang ingin mereka lakukan dengan aman tanpa resiko atau penyesalan di lain waktu. Untuk itu hanya Gilang dan Gita yang tau, apa yang mereka lakukan setelah kata bersambung yang author  semat di akhir cerita.


Satu purnama terlewat sudah dengan segala aktivitas penduduk bumi yang heterogen. Rona dan Dadang sudah kembali ke Indonesia. Tentu dengan kondisi yang sehat namun tetap tidak berani melakukan aktivitas berat.


“Kenapa perut mu besar lagi?” pertanyan pertama yang Rona tanyakan pada anak tunggalnya saat sudah tiba di rumah mereka di Jakarta.


“Hmm … Naya mau punya adik lagi, Ma.” Jawab Muna datar.


“Waaaw. Alhamdulilah, terima kasih kasih mama dan abah banyak cucu.” Peluk Rona senang mengetahui Muna kembali berbadan dua.


Muna tidak menjawab, memang harus bersyukur hanya kalau ingat cara hamilnya itu yang kadang buat Muna agak sebal.


“Mama sama Abah akan tinggal di Jakarta …? Apa akan sesekali menengok rumah sakit?” tanya Muna pada kedua orang tua kandungnya saat sudah berada di ruangan santai mereka.


“Tidak Nak, kami sudah menyerahkan semuanya padamu. Abah mau tenang saja. Abah mau pulang ke desa. Kami akan tinggal bertiga bersama ambu.” Jawab Abah Dadang dengan pasti.


“Maaf, abah. Sebenarnya kemarin managemen rumah sakit agak tidak sehat. Apakah Abah siap untuk mendengarkannya?” dengan penuh kehati-hatian Muna hendak berbagi beban yang beberapa bulan terakhir ia hadapi.


“Soal korupsi yang di lakukan oleh Pak Mahmud dan Bu Sinta …?” Abah Dadang justru sudah menyebutkan nama oknum yang selama ini hanya meperkaya diri mereka sendiri dalam rumah sakit tertentu.

__ADS_1


“Abah sudah tau …?”


“Abah tau, tapi belum sempat mencari buktinya. Selama ini Abah hanya selalu mendapat surat penguduran diri dari beberapa  Dokter yang merasa jasanya tidak di bayar sesuai ketentuan.Dan Abah hanya bisa membijaki serta memberikan beberapa kali surat teguran saja pada pegawai administrasi. Sampai tampuk kekusaan itu jatuh ke tangan mu dan abah sakit. Abah hanya berharap kamu dan Kevin bisa mengatasi masalah tersebut hingga tuntas.” Papar Abah Dadang serius.


“Kerugian kita mencapai Milyaran rupiah, Bah. Belum lagi nama baik kita di mata para dokter dan perawat yang tak layak mendapat insentif semua mempengaruhi citra rumah sakit kita menjadi buruk. Muna sudah mendapatkan semua bukti dan kronologis sejak kapan mereka melakukan menyalah gunakan dana.” Lanjut Muna bersemangat.


“Apa sudah ke ranah hukum?” Dadang memastikan keputusan sang anak.


“Tidak. Kami menempuh jalur damai bersyarat.”


“Apa itu …?”


“Mengembalikan semua dana yang di selewengkan serta berhenti tanpa pesangon.”


“Cukup kepalanya yang kita pukul. Untuk badan dan ekornya akan menyesuaikan saja. Waktu pengembalian dana yang mereka selewengan pun hanya dalam waktu 3 bulan. Jika itu tidak sanggup di bayarkan, jeruji besi adalah finalnya.” Sambung Muna tegas. Ia benar-benarseperti tidak sedang berbicara denagn ayahnya sendiri. Melainkan semacam berorasi untuk meyakinkan seseorang agar satu ide dengannya.


“Apakah perjanjian ini sudah saling di sepakati ?” Dadang masih memastikan yang Muna sampaikan, jangan sampai itu hanya bualan atau masih dalam tahap rencana saja.


“Sudah Bah, perjanjian bermetrai di saksikan notaris dan pengacara rumah sakit. Kami juga sudah melakukan sidang terbuka dalam hal ini di hadiri oleh beberapa memegang saham rumah sakit yang masih memiliki kewenangan.” Lapor Muna pada sang ayah.


“Alhamdulilah. Tak salah tampuk kekuasaan itu jatuh padamu. Tak masalah kamu adalah perempuan, tapi darah Hildimar sungguh mengalir dalam tubuhmu. “ Puji Dadang sungguh bangga pada anak tunggal mereka. Anak yang sama sekali tak pernah mereka rawat dan didik. Namun dengan doa yang mereka panjatkan agar Muna di pelihara oleh orang baik, ternyata terjawab oleh waktu.

__ADS_1


“Muna mau saja menolak … tapi. Hah, sayang Muna anak tunggal.” Rutunya memegang perut.


“Sudah lah. Terimakan saja takdirmu. Yang penting jangan kamu ulangi pada keturuanamu. Tak enak menjadi anak tunggal. Dan Mama bahagia melihatmu selalu kuat menjadi ibu hamil.” Puji Rona pada Muna tak hentinya bersyukur.


“Maaf merepotkanmu ya, Mona. Harus mengurus anak, hamil juga mengurus rumah sakit. Semoga Kevin selalu sabar menghadapi kalian semua.” Harap Rona dengan pias penuh iba.


“Alhamdulilah, Abang selalu mendukung pekerjaan Muna, Ma.” Jawab Muna menenangkan sang ibu, agar tidak selalu ada dalam mode rasa bersalah karena sudah merusak tatanan kebahagiaan sang anak.


“Kevin sibuk di Bandung …?” tanya Dadang memastikan pada Muna.


“Tidak Bah, yang di Bandung sudah di pegang oleh Gilang suami Gita.”


“Oh … jadi Kevin sekarang bisa fokus sama rumah sakit kita …?” tanyanya lagi.


“Tidak juga, Rumah Sakit selalu Muna yang pantau. Abang sekarang fokusnya di Cisarua. Bulan lalu baru saja buka anak cabang perusahaannya di sana.” Jelas Muna pada orang tuanya yang biasanya saat bervideo call ria, tak pernah membahas soal pekerjaan.


“Luar biasa. Semakin bertambah jumlah anak kalian, bertambah juga perusahan suamimu. Terbaiik.” Puji Dadang pada menantunya tersebut.


Obrolan terhenti saat pintu utama kediaman Hildimar terdengar di ketuk.  Sepertinya mereka kedatangan tamu sore itu.


“Permisi Nyonya. Ada Mbak Zahra ingin bertamu.” Ucap seorang pelayan yang sudah membukakan pintu dan menyilahkan Zahra istri Daren untuk masuk menemui mereka yang sedang bersantai, berbagi cerita  sembari menikmati kudapan yang di buatkan oleh pelayan di rumah tersebut.

__ADS_1


“Haai … apa kabar mu Zahra?” Peluk Muna pada istri Daren tersebut. Walau Muna sempat melihat ada pandangan sembab pada iris mata Zahra.


Bersambung ….


__ADS_2