
Gilang tidak seegois yang di pikirkan. Masa kecilnya boleh suram, masa lalunya juga sedikit kelabu. Namun bukan haknya untuk membalas semua keburukan tersebut dengan hal yang tak baik, yang hanya justru menunjukkan egonya.
Maka, Gilang sungguh telah berpasrah untuk menerima Gibran bahkan siapapun yang nantinya akan menggantikan posisi istrinya di kantor.
Di kantor suasana tampak lengang. Sebab semua jadwal sudah di sederhanakan bahkan untuk 2 minggu ke depan. Hal itu terjadi karena para petinggi perusahaan akan bertolak ke Cikoneng untuk menghadiri acara pernikahan Siska dab Asep.
Acara memang akan di laksanakan pada hari sabtu, agar pegawai perusahaan dan pabrik bisa ikut hadir dalam acara sakral Siska yang juga sebagai pegawai bahkan sekretaris pada PT. MK. Farma.
Namun pada kamis pagi Kevin sekeluarga sudah terlihat berada dalam mobil Van nya yang jangan di tanya lagi kemewahan fasilitas di dalamnya. Tentu berbanding terbalik dengan fiturisasi mobil yang Gilang dan keluarganya tumpangi.
Ya... mereka kali ini menggunakan mobil yang mampu di beli oleh Gilang, yang tentu saja tak sebanding dengan yang Kevin miliki.
Sebelum tengah hari rombongan itu sudah memasuki desa Cikoneng. Desa kecil yang berada di daerah pesisir pantai, aroma laut yang sangat kental, memanjakan indra penciuman untuk melaporkan pada otak, jika di sana banyak ikan kering. Walau terkesan agak beraroma anyir, namun termaafkan saat hembusan angin segar mampu membawa pergi, menepis aroma yang tak perlu mereka hirup dalam waktu lama.
Rumah lama keluarga Siska dulu hanya mempunyai 3 kamar. Tetapi, Kevin tentu sudah secara intensif menghubungi pak Herman, ayahnya Siska. Untuk segera merombak bahkan menambah beberapa bagian di dalamnya. Tanpa merubah teras bagian depan.
Hah... bukan kan teras itu pernah jadi saksi saat ia dan Muna baru saja berdamai setelah menyelesaikan kasus wanita yang mengaku hamil oleh Kevin, dulu.
Rumah itu hanya menyisakan ruang kosong kecil sebagai ruang tamu. Selebihnya, isinya tak berbeda seperti deretan kamar penginapan. Dan ada satu kamar yang paling besar, lengkap dan paling nyaman. Tentu saja itu akan menjadi kamarnya sebagai pemilik rumah.
Kini kamar rumah itu menjadi 6, walau ada 1 kamar ynag berukuran sangat kecil. Yang nantinya akan di tempati oleh Laras. Sehingga Gita dan Gilang dapat tidur dalam satu kamar. Bu Dian, Arum dan kedua anaknya juga mendapatkan kamar, apalagi babe dan nyak. Pasti sudah Kevin perhitungkan. Dan sisa yang masih belum terisi nanti, akan menjadi kamar Daren dan Zahra yang katanya, akan menyusul di hari jumat seteleh selesai pulang bekerja.
Siska bukan saudara Muna, tak ada pertalian darah sama sekali. Namun, hubungan mereka telah tertata dengan apik, murni serta tulus. Mereka terikat dengan sendirinya, sejak Muna hanya memiliki scoopy merah, bahkan kini telah memiliki jets mewah.
Hubungan keduanya tak pernah berubah karena harta, kedudukan kasta apalagi jabatan. Sejak keduanya sering makan mie instan di pantry hingga kini bahkan mampu membeli restoran mahal sekalipun. Semua masih tampak sama seperti baru kemarin mereka bertemu.
"Papap... ini lumah tete Ica (tante Siska panggilan sayangnya Aydan pada Siska)? tanya Aydan ketika baru terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di depan rumah yang tampak sederhana.
"Iya... tapi dulu. Sekarang sudah jadi milik kita." Jelas Kevin pada anak sulungnya apa adanya.
"Lumah kita...? Di Bandung lumah kita juga... dua pap?" tanyanya kepo.
"Iya dua... kan anak papap dua. Nanti kalo Ay punya adik lagi, rumahnya kita tambah lagi." Ujar Kevin menggendong anaknya dengan gemas.
__ADS_1
"Tambah lagi adiknya pap? Kaya de Naya gitu pap?" tanyanya meyakinkan.
"Iya... mau Ay?" tawa Kevin lucu, sampai sampai berkonsultasi pada anak sekecil Aydan.
"Ga mau pap. Ga cuka." Jawab Aydan polos.
"Kenapa?"
"Ga bisa di ajak main, pap. Nay cuma bobo, angis, nen mamam. Ga cuka." Terangnya dengan wajah merengut.
"Itu karena Nay masih bayi. Nanti kalau bisa makan kaya Ay juga pasti ramai."
"Tapi... kaya bunda Yayas. Naya itu puan puan, mainnya ga cama, dengan Ay." Bahasnya lagi.
"Ah... ga juga. Walau Naya perempuan, tetap bisa main bersama kok. Akan banyak pilihan mainan yang bisa kalian pakai bersama nanti." Jelas Kevin pada anak yang belum tentu mengerti dengan maksudnya.
"Macaaa?"
"Ay cuka lego pap. Naya cuka?"
"Ga tau...?" jawab Kevin sedikit bingung. Ya... dia juga bukan cenayang yang bisa menebak masa depan bukan.
"Ay cuka main bola cama engkong, nanti Naya mau main bola juga cama Ay pap?" tanyanya lagi.
"Kalau itu papap juga ga tau."
"Uh... cebel. Ay main cama engkong aja." Ucapnya sambil berlari mendekati kamar engkongnya.
"Kong... engkong." Panggilnya dengan suara agak keras.
"Ay... lu ngape sii tereak treak. Lu kira engkong lu budeg?" semprot nyak Time. Biasa lah. Nyak Time kan toa sepanjang masa. Mana peduli sedang bicara dengan anak atau cucu.
"Budeg apa Nyi...?" tanya Aydan sungguh sungguh kepada nyak Time.
__ADS_1
"Budeg entuh... tuli alias kaga bisa denger. Paham lu?" tanya Nyak Time balik ke Aydan.
"Oh... ci ayias tuh. Kaga bica dengel ya nyi. Tapi engkong bica dengel Ay kan?" polos Aydan yang mengira alias adalah nama orang.
"Iih... susah ye ngomong sama ni bocah. Be..., babe di cariin Ay nih." Teriak nyak Time.
"Nyii... jangan tleak tleak. Tinga Ay pucing." Tawa Aydan merekah merasa bisa membalas nyak Time dengan benar.
"Ha ha ha. Aaay... yang bisa pusing entuh kepale, bukan telinga." Kekeh nyak Time mencubit kedua pipi cucunya itu dengan rasa geregetan.
"Oh... yang boleh pucing, kepala aja Nyi?" tanya Aydan makin lucu.
"Ini ade ape siih, ribut ribut." Tukas babe menghampiri istri dan cucunya yang tampak asyik berseteru.
"Ini si Ay dari tadi cari engkongnye." Jawab nyak Time cepat.
"Ooh... mau ape Ay?" tnaya babe.
"Mau main bola, kong." Ajak Aydan semangat.
"Segale ... elu ajak engkong main bola di mari. Engkong udah tua Ay, kagak kuat kalo baru sampe langsung main bola. Besok aje pegimane?" tawar babe yang walau di perjalanan tadi cuma bersantai. Tapi masih merasa raganya letih. Maklum saja, sudah mulai lapuk di makan usia.
"Haiii kaka Ay..." suara Siska terdengar bergembira saat melihat kedatangan Aydan.
"Tete Icaaa." Peluk Aydan tumpah di tubuh yang sudah berjongkok di hadapannya.
"Kaka Ay... besok sana om Antoni ke pantai ya..." ujar Siska memberi tawaran.
"Pantai apa, te?"
"Pantai itu, tempat bermain air yang sangat luas." Jawab Siska.
"Kolam belenang?" tanya Aydan.
__ADS_1