
Gilang bahkan resmi menjadi suami kita sudah hampir 3 bulan, tetapi tetap saja lidahnya tidak terbiasa untuk memanggil kedua orang itu dengan lebih santai.
Selalu ada kata pak bos yang ia sematkan pada Kevin dan juga Bu Mona pada Muna, seperti saat pertama ia berkenalan dengan Muna beberapa tahun yang lalu. Itulah Gilang yang selalu sopan.
Di atas meja pantry sudah tersedia beberapa menu makanan khas dari daerah Padang ada gulai kikil, rendang sapi, goreng paruh, ayam goreng lengkuas, goreng ikan nila, mujair, ada juga gulai ayam, serta berbagai macam jenis sayuran lainnya. Tak ketinggalan sambal hijau khas makanan daerah tersebut.
Semua tersaji lengkap di meja makan, menghadap 2 pasangan halal tersebut.
Muna melirik-lirik ke arah gulai kikil yang ada di hadapan Kevin. Entah mengapa dari semua sajian di meja itu hanya menu itu yang menggugah seleranya. Dan Kevin tidak melihat lirikan mata Muna tersebut.
Gilang menyodorkan gulai ayam pada Muna, berharap Muna mau memakannya, sebab Gilang menangkap jika Muna ingin menu itu. Tetapi Muna tampak tidak berselera dengan gulai ayam tersebut. Ia kemudian berusaha menarik rendang sapi yang tempatnya cukup sulit untuk ia jangkau, sebab ada di dekat Gita.
"Kak Muna mau rendang sapi?" tanya Gita menawarkan sepiring rendang sapi tersebut.
Muna hanya tersenyum ingin mengangguk dan juga ingin menggeleng. Hanya mendekatkan piring rendang, tapi mengurungkan niatnya untuk mulai memakannya. Kevin baru sadar jika Muna belum mengambil pilihan lauk.
"Mae, mau makan yang mana sayang?" tanya Kevin mesra. (Rontok hatiku bang, dengernya_ rintihan othor)
"Heeemm... mau makan ayam goreng aja." Jawab Muna yang kemudian menarik piring kecil berisi ayam goreng seolah ada rasa keterpaksaan untuk melahapnya.
"Mae... beneran mau makan ayam goreng saja ?" tanya Kevin lagi.
Muna hanya terdiam sambil masih melirik kearah kikil yang ada di hadapan Kevin dan mulai mengeksekusi ayam goreng di depannya. Muna menelan salivanya saat kikil yang terlihat lembut itu sudah dipotong oleh Kevin dengan mengucapkan kata Bismillah Kevin pun mengaduk - aduk kuah gulai tersebut dengan nasi diatas piringnya, lagi-lagi Muna menelan salivanya kemudian mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya dan mengambil ayam goreng di hadapannya lalu mencoba memotongnya dengan garpu titik tapi beberapa detik kemudian". " Kevin menyodorkan sendok berisi nasi yang sudah di campurnya dengan kuah gulai kikil tadi, lalu menambahkan beberapa potongan kikil tadi. Kemudian menyodorkan ke arah mulut Muna tanpa malu-malu.
"Aaa..." Perintah Kevin, yang ternyata sadar jika Muna menginginkan gulai kikil itu.
Muna langsung menerkam sendok tadi, ke dalam mulutnya.
"Abang tahu, pasti Mae dari tadi mau makan gulai kikil ini kan? Udah kita makan sepiring berdua aja." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Abang juga lagi pengen banget makan menu ini." Ujarnya lalu menyuap sendokan selanjutnya untuk dirinya sendiri.
"Waduh... maaf Pak Bos. Mestinya tadi Gilang tanya dulu ya. Pak Bos dan Bu Mona mau makan apa? Jadi ga rebutan gini. Gilang pesan lagi atau Gilang cari menu di anak-anak karyawan mungkin ada lebih gulai kikil nya? tanya Gilang merasa tak enak.
"Udah ga usah repot. Ini udah banyak kok. Duduklah, kamu juga belum dan perlu makan, Lang." Ujar Muna bijak.
Gilang patuh, memilih duduk di sebelah Gita untuk memulai makan siangnya.
"Kok cuma makan ikan dan sayur Git. Takut gendut ya?" diam diam Muna memperhatikan Gita yang sudah menghabiskan 2 ekor ikan goreng di meja makan mereka itu.
"Hah... iya ya. Ga sadar kak. Enak, manis ikannya berasa." Jawab Gita yanh seolah tak sadar.
"Kamu hamil kali Git. Kaya Mae, hamil Naya. Maunya cuma makan ikan lho. Ingetkan sayang...?" Kevin mengingatkan Muna.
"Iya... Git. Kamu isi kali. Udah telat belum sih?" tanya Muna. Membuat wajah Gilang memerah. Entah, kenapa dadanya terasa berdebar, berdesir haru. Akan kah, harapan mereka selama ini telah terjawab.
"Ah... ga kok. Belum telat juga. Sebelum ke Singapura, ada dapet." Jawan Gita santai.
Gita dan Gilang saling berpandangan. Sama sama berharap tentunya.
"USG deh, biar cepat ketahuannya. Istri hamil itu menakjubkan Lang." Kenang Kevin pada masa lemes dan pahitnya dia, saat Muna hamil Aydan. Apa lagi terbayang betapa lemah dan manjanya Muna saat hamil Annaya. Semua itu menambah khasanah pengalaman seputar kehamilan bagi Kevin.
"Ya... nanti lah. Kalo urusan ini beres lah neng. Kita periksakan saja. Kalo hamil syukur, kalo ga ya ... harus hamil gitu." Senyum Gilang lucu, terlihat memaksa.
"Program Lang... bukan harus hamil, bilangnya." Kilah Muna lucu.
"Iya bu, gitu maksud Gilang teh." Gilang tersipu dengan keluguannya.
"Hah... belum 3 bulan nikah kok sudah mau program. Bisa bikinnya ga sih? Tau jalannya ga?" ejek Kevin seolah melecehkan Gilang dengan senyum sinis yang di buat buat.
__ADS_1
"Abaaaang." Panggil Muna dengan nada lembut sambil senyum. Tidak ingin suaminya melanjutkan olok olokannya pada Gilang.
"Heem." Dehem Kevin paham.
Sesi makan siang selesai. Mereka kembali pada posisi awal, kembali pada ruang interview untuk melanjutkan kegiatan mereka tadi. Pelamar akhir memang 30 orang. Tapi yang nyangkut di hati Muna hanya 10 orang. Tak jauh beda dengan penilaian Kevin yang juga sudah melingkar 13 nama kertas kesimpulannya.
Semua pelamar sudah semua seleksi. Tinggal mereka mengadakan rapat dalam tim penerimaan. Dan itu tentu tidak bisa di lakukan pada hari itu juga.
Pihak PT. MK. Farma meminta waktu 5 hari untuk menentukan pengumuman hasil akhir.
"Lang... sementara ini yang saya pilih. Besok lanjut rapat dengan tim." Ujar Kevin menyerahkan sebuah map pada Gilang. Yang walau sudah berstatus ipar, masih selalu hormat pada Kevin.
"Lang... catatan hari ini. Di jadikan satu atau di pegang sendiri?" Muna keluar dari ruangan interview yang ia masuki tadi.
"Bisa di gabung bu. Nanti Gilang simpan di brankas." Jawab Gilang yang masih memposisikan dirinya, bagai seorang pesuruh itu.
"Oh... gitu. Tolong ... titip ya Lang." Muna menyerahkan map pada Gilang.
"Siap... siap." Jawabnya patuh dengan wajah ramahnya.
"Makasiih yaa." Senyum Muna terkembang.
"Main ke rumah Lang. Ada Ay, dia pasti kangen kalian."
"Oh... iya bu. Nanti ... eh, besok deh. Sore ini, sudah janji sama ibu mau ke rumah. Sambil liat tukang yang katanya hari ini pasang AC di kamar." Jawan Gilang yang selalu bicara jujur dan apa adanya.
"Huum... anak sultan kegerahan ya. Tidur di kamarmu, Lang?" goda Muna.
"Ga... bu, Gilang kali yang terkontaminasi sama nengGi." Ujarnya menutupi permintaan Gita. Yang memang kadang merengek kegerahan jika mereka tidur di rumah ibu Gilang.
__ADS_1
Bersambung...