CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 35 : SEDEKAH


__ADS_3

Pasangan duo G itupun meninggalkan Miranda dengan tawa yang tertahan. Sehingga sesampai di dalam lift baru tawa keduanya pecah. Menertawakan diri mereka sensiri yang sangat pandai memancing obrolan dengan si tante, bahkan lupa jika tadi sempat gondok saat Gita di dekati oleh si Baskoro lagi.


“A’a tau ga, eneng tuh mau muntah lho pas a’a bilang tuh nenek cantik.” Celetuk Gita ketika mereka sudah berada dalam kamar mereka kembali.


“Eneng kira lidah a’a ikhlas bilang kayak gitu. Ini aja masih berasa kebas lho.” Jawab Gilang tertawa lepas.


“Btw… a’. Shampo wangi bubble gumnya. Ga mau eneng pakai lagi ya. Gendek eneng makainya, masa di bilang Baskoro masih ingat wangi kesukaannya. Ge-eR banget dianya.” Kesal Gita yang ketahuan Baskoro masih memakai wewangian yang ia sukai tadi.


“Ngapaian, kan kita ga tiap hari juga ketemu dia. Mana dia tau kalau eneng pake wangi yang itu.”


“Iya… tapi eneng kan yang jadi inget inget dia.”


“Ciieee yang ingat mantan.” Olok Gilang pada istrinya yang keki itu.


“A’a… a’a ga malu seleranya sama dengan Baskoro?”


“Lho… kan memang begitu adanya, sampai mantannya Baskoro aja a’a pungut.” Gilang mencium rambut Gita yang memang wangi itu segar.


“Iiiisssh… a’a. Ga pokoknya eneng ga mau pake yang itu. Ga sudi deh.”


“Kenapa sebegitunya membenci seseorang sih. Eneng ga ikhlas selama jalan sama dia?”


“Ikhlas dari mana? Ratusan juta a’a duit eneng habis.” Gita nyolot sendiri.


“Itu cara Tuhan merontokkan uang yang tidak semuanya hak eneng. Hanya caranya saja lewat Baskoro begitu. Maaf ya neng, pasti dulu eneng kurang sedekah, kerjaannya ngirit saja mengumpulkan pundi pundi uang, tanpa peduli dengan orang orang sekitar yang membutuhkan.” Gilang meraup Gita untuk duduk di atas pangkuannya.


Gita berpikir sebentar, mengingat masa lalunya. Benar saja, setiap di berikan uang oleh papi Diendra ia selalu menanbung, ia memang tidak berfoya foya. Kerena termasuk manusia yang pelit. Mungkin itu yang membuat Kevin berani minta traktir, sebab ia tau jika lumbung keuangan Gita sesungguhnya tidak sedikit.


“Iya sih a’. Gita sedekahnya paling saat lebaran saja. Itu pun tidak banyak. Ya ngasih THR buat satpam komplek sama ART, udah deh.”


“Bagaimana saat idul Adha…? Apakah pernah nyumbang kambing atau sapi begitu ke masjid yang deket tempat tinggal eneng aja?” tanya Gilang lagi menelisik. Dan Gita menggeleng.


“Ga pernah tau caranya a’…”


“Sekarang apakah mau mulai bersedekah? Sebab, uang kita akan lenyap tak bersisa, dan tak bermanfaat jika hanya di kumpulkan saja tanpa di gunakan dengan semestinya. Macam macam cara Allah merontokkan yang bukan hak kita, bisa dalam bentuk penyakit, bisa apa saja. Namun tetap sesuai dengan kemampuan kita melewatinya.” Jelas Gilang panjang lebar pada istrinya.

__ADS_1


“Maaf, a’a tidak bermaksud ria. Penghasilan a’a tidak sebesar eneng. Isi tabungan a’a tidak sebanyak tabungan eneng. Tapi… sekali lagi maaf. Sepertinya hasil jerih payah a’a lebih terlihat hasilnya dibandingkan eneng, betul?” tanya Gilang pelan.


“Iya betul a’... A’a bilang mulai bekerja dari hanya sebagai tukang kebun, berapa sih gajih tukang kebun. Tapi a’a tetap mampu menabung, untuk cicil buat rumah, nafkahi ibu, nabung beli mobil juga. Itu gimana menggunakan uangnya.” Gita berpikir keras.


“Kalau di hitung nominalnya pasti ga mampu neng. Selalu tidak cukup. Tapi karena mengutamakan Allah terlebih dahulu, maka segala rejeki itu Allah yang mengatur untuk kita. Itu yang di sebut berkah neng. Uang yang banyak selalu kurang, tetapi uang yang sedikit selalu cukup. Dan Allah tidak pernah tertukar menggilir ujian, cobaan sekaligus berkahnya pada tiap umat-Nya.”


“Iya pak Ustad. Eneng siap ngikut cara sedekah ala paksu.”


“Jangan ngeledek…”


“Ga…. A’. Eneng serius. Makanya maksud eneng mau buka usaha itu kan intinya mau buka lapangan pekerjaan buat anak muda. Ya itu juga, supaya mereka memperoleh rejeki melalui usaha eneng. Mereka dapat kerjaan, eneng tetap dapta uangnya.”


“Itu beda lagi istriku sayang. Karena istriku tetap dapat uang keuntungan setelah berbuat baik alias masih pamrih. Beda banget dengan sedekah. Karena sedekah itu di beri dengan sukarela tanpa di batasi waktu dan jumlahnya dengan mengharapkan ridho Allah saja. Jadi memberi pekerjaan dan memberi sedekah beda banget kan sayangku.”


Cup… pipi kiri dan kanan Gilang sudah di cium cium oleh Gita.


“Itulah alasan mengapa eneng jatuh cinta sama a’a. Suami eneng itu begitu. Hatinya bersih, hanya kemarin saja kena tsunami, goncang akibat ada gunung uang yang runtuh.” Kekeh Gita mengalungkan tangannya di leher Gilang.


“Eneng saja yang tidak pernah berada di posisi a’a. Coba sebentar saja jadi a’a. Pasti inscure deh. Rasanya macam macam neng, sampai takut kehilangan lho. Jika a’a tetap ga bisa melimpahkan eneng dengan materi seperti mereka, eneng akan ninggalin a’a.” ucapnya gamang.


“Neng…”


“Hmm…”


“Ngemil apa yang paling enak?”


“Ngemil kurma kali a’. Biar mulut selalu manis kayak cinta kita. Ea… eaa.. eaa…” Gita merasa lucu sendiri.


“Salah neng.”


“Emang apaan?”


“Ngemilikin kamu sepenuhnya.”


“A’a…” manyun Gita dengan pipi merona merah jambunya.

__ADS_1


“A’a kita memang tidak seumuran, tapi eneng tuh mau seumur hidup dengan a’a.” Peluk Gita mengerat.


“Amin.”


“A’a… nanti kalau salah satu dari kita meninggal duluan. Kita nikah lagi ga?”


“Ow owh Stop neng. A’a ga suka topic tentang kematian. Di skip aja boleh?”


“Tapi kematian itu pasti a’…”


“Iya… semua kita memang pasti mati. Tapi ga saat bulan madu begini juga kali ngomonginnya. Ntar namanya ganti.” Jawab Gilang mengallihkan pokok pembicaraan.


“Emang jadi apaan?”


“Bulan racun. Bukan bulam madu. Ha…ha…” Tawa Gilang garing.


“A’a ada ada aja. Eneng tidak pernah mengkhayal, bahkan tidak meminta pada Allah. Tapi jika jodoh eneng telah habis bersama a’a. Mungkin eneng akan hidup sendiri tanpa menikah lagi.” Ujar Gita serius.


“Mari kita doakan agar kita di pisahkan maut saat sama sama sudah reot, keriput dan tua renta. Agar kita sama sama tidak akan menikah lagi saat maut itu datang memisahkan kita.”


“Ya iyalah.. kalo sudah tuir, mana mungkin kita menikah lagi.”


“Ya… kan a’a maunya sama eneng tuh sampai kita jadi aki dan nini.”


“Kan eneng tadi cuma bilang misal a’a. Supaya pas kejadian ga bingung.”


“Ga… a’a ga suka bayangin yang kaya gitu. Dah. Stop bicara tentang kematian. A’a mau selesaikan urusan yang sudah terlanjur hidup akibat tertindih bamper ini aja. Yuk… buat anak yu neng.”


Bersambung….


Lanjutin sendiri proses bikin bayinya. Masih puasa, adegan hareudang di skipp kan.


Makasih semuanya


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2