CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 150 : SATE MARANGGI


__ADS_3

Muna sudah berpikiran tak menentu melihat ekspersi Kevin, suaminya yang mulai tak nyaman. Muna tadi baru menyadari seleranya yang ternyata memang berubah. Ia juga berusaha jujur pada Kevin soal kedekatannya dengan Erwin yang kemarin sempat ia mintai tolong untuk mewujudkan selera kidamannya.


Tetapi prediksi Muna meleset. Bukannya marah, Kevin justru mengajaknya untuk keluar rumah mencari makanan.


“Pake motor ya, Bang …?” pinta Muna dengan manja. Muna mendadak rindu ingin bernostalgia bersama suami tercinta.


"Mau pakai motor yang mana?" tanya Kevin meraih pinggang Muna menuruni tangga. Menuju garasi kendaraan mereka.


"Yang mana ... Emang masih ada semua?" tanya Muna menoleh ke arah Kevin.


"Ya ada lah ..."


"Bisa di pake semua?" Muna sedikit sangsi.


"Ya iyalah. Ngapain itu orang-orang di gaji kalo bukan untuk ngerawat barang-barang penuh kenangan kita." Kevin sudah memilih duduk di atas motor yang pernah ia beli dari satpam unit apartementnya waktu itu.


"Iya, bos sih bebas yak." Kekeh Muna sudah ikut duduk di atas kursi di belakang pengendara di depannya.


"Ternyata kita sudah lama ga pacaran ya, Mae." Kevin menarik tangan Muna agar melingkarkan tangannya di perut Kevin yang masih sixpack seperti dulu. Aaah ada yang kangen wajah Kevin yaa?


"Heem." Dehem Muna menghirup wangi ceruk leher Kevin dari belakang, yang tubuhnya sudah tertempel sempurna dengan tubuh pengemudi di depannya.


Keduanya sudah sungguh berada di atas dua roda, membelah jalan ibu kota yang tak kenal kata sepi walau pagi hampir menanti.


Mereka melaju tak tentu arah, sekedar menikmati kebersamaan yang telah lama tak pernah mereka lakukan. Slide slide show masa indah hubungan antara OB dan CEO pun mendadak bergentayangan silih berganti. Bukan hanya di benak pasangan couple fenomenal ini, tetapi di pikiran para pembaca setia Nyak Emel pun tentu masih segar di ingatan.


Kevin berhenti setelah, merasakan tepukan berkali-kali Muna lakukan pada punggungnya.


"Bang, stop. Stop. Itu banyak tempat jajanan." Muna menunjuk pada tempat yang memang di khsususkan untuk berjualan di malam hari. Aneka wisata kulineran tampak lengkap di sana.


Kevin menepi dan memarkirkan motornya di tempat yang sudah tersedia, kemudian melepaskan helm Muna dan juga helmnya untuk diletakkan di tempat yang aman agar tidak jatuh. Tukang parkir pun sudah langsung menyambut kedatangan mereka berdua untuk menyusun kendaraan roda dua mereka di tempat yang benar.

__ADS_1


Sungguh keduanya tak terlihat seperti seorang pemilik salah satu Rumah Sakit di Jakarta dan seorang CEO sebuah perusahaan lumayan besar di Bandung.


Yang tentunya memiliki aset, harta miliaran. Mereka sungguh menjelma menjadi orang biasa yang juga ingin menikmati kehidupan rakyat jelata. Itu lah Kevin dan Muna yang sungguh tidak gila harta.


"Mau yang mana, Mae?" Tangan Kevin tidak lepas dari pinggang istrinya. Menanyakan dengan lembut Muna mau makan yang mana.


"Itu sepertinya enak, Bang." Mata Muna menunjuk salah satu tempat makan yang sedang terlihat membakar makanan.


"Ayo kita pesan." Ucap Kevin menarik Muna dan mendekati tempat yang membuat istrinya tertarik.


"Pak ... Itu sate apa?" tanya Muna menunjuk beberapa tusuk makanan yang sedang di kipas-kipas oleh penjualnya.


"Ini Sate Maranggi, Mbak." Jawabnya sopan.


"Dari daging apa?" penasaran Muna lagi, dengan menahan air liur yang sudah banyak dalam rongga mulutnya.


"Daging sapi." Jawabnya singkat.


"Mau itu ..." Tunjuk Muna lagi.


"Permisi, ini daftar menunya." Suara orang dari belakang tiba-tiba terdengar membuat Kevin dan Muna menoleh ke asal suara.


"Oh ... Iya. Terima kasih." Muna menyambut buku menu yang di sodorkan ke arahnya.


"Kita duduk dulu, Mae." Ajak Kevin ke arah kanan dari tempat mereka berdiri.


"Di sini aja." Jawab Muna menunjuk kursri di sebelahnya.


"Jangan ini terlalu dekat dengan orang yang membakar sate itu." Saran Kevin.


"Iya justru itu. Asapnya wangi, Bang." Bantah Muna sudah memilih duduk saja, tak jauh dari orang yang membakar sate tadi.

__ADS_1


Kevin diam saja, merasa tak punya alasan untuk menolak. Posisi itu terlalu dekat dengan panggangan. Selain abunya beterbangan. Asapnya pasti terhirup. Bukan kah itu termasuk polusi?


Muna sudah menulis pesanannya. Kemudian matanya hanya tertuju pada deretan daging merah yang di potong kecil kecil lalu di tusuk dengan bilah bambu itu, kemudian dengan apik di kenai bara api. Bergantian hingga warnanya berangsur berubah kecoklatan. Yang sesekali di olesi bumbu. Menambah wangi yang menguar di area itu semakin membuat Muna tak sabar untuk melahapnya.


"Udah mau banget ya, Mae." Kevin mengelus tangan Muna, tanpa perduli sekarang mereka hanya di tempat makan seadanya, di pinggiran jalan, yang jauh dari kata mewah. Bahkan sepintas tak higienis. Tapi orang hamilkan bebas ya, mau makan apa dan di mana saja tetap harus di ikuti.


Dan Kevin seorang pria romantis juga tidak masalah ya .... Mau itu restoran bintang lima atau hanya warteg kaki lima. Ia mana peduli untuk tetap mengekspresikan rasa sayang, cinta manisnya pada sang istri.


"Pak, di sini di dulukan ya. Istri saya sedang ngidam." Pinta Kevin yang sudah berdiri mendekati kang kipas.


Bapak itu hanya tersenyum, tidak berani menjanjikan juga tak bermaksud memperlambat pesanan. Ia terus saja melakukan bagian dari tugasnya sebagai kang kipas.


Kevin dan Muna sudah di suguhkan teh tawar panas sesuai permintaan dalan catatan yang Muna buat. Belum bosan Muna memandang proses Sate Maranggi itu di buat. Sudah tersaji saja makanan tersebut di hadapannya. Beberapa tusuk sate yang di letakkan pada piring oval dengan potingan cabe dan tomat di ujung bilah bambu. Semakin menggugah selera Muna.


Mata Muna sampai terpejam, demi mendapatkan rasa nikmat yang baginya tiada tara itu, sambil mengelus perut yang mulai buncit itu. Berbisik dalan hati sendiri : "ade kita makan sate niih."


Kevin tak banyak memakan sate itu. Lebih tertarik melihat ekpresi wajah Muna yang terlihat senang dan sungguh bahagia bisa menikmati makanan tersebut.


"Enak, Sayang?" tanya Kevin.


"Banget. Abang ga suka?" peka Muna melihat hanya 3 tusuk yang berhasil masuk ke mulut Kevin.


"Suka ... Tapi perut Abang rasanya penuh."


"Kapan Abang makan, sejak sore Abang hanya di depan laptop. Ga ada makan apa-apa." Bahas Muna yang tau Kevin mana sempat makan malam. Karena terlihat sibuk bekerja saja.


"Buat Mae saja semuanya." Kevin menyodorkan piring satenya ke arah Muna. Dan semuanya tandas. Di habiskan tanpa sisa oleh ibu hamil itu.


Mereka pun pulang, setelah menghabiskan dan membayar sate itu.


"Hoeeek." Kevin tak mampu membendung rasa huru hara yang terjadi dalam perutnya.

__ADS_1


Bersambung ...



__ADS_2