
Kevin seorang cassanova di jamannya itu rahasia umumnya. Hal itu sudah lama Muna kubur dan tak ingin mengunkitnya. Sebab cinta yang Kevin suguhkan kini sangat manis, lembut dan sangat luar biasa. Tapi bukan berarti menyepelekan hal itu, bagaimanapun Muna selalu waspada akan hal tersebut. Sedapat mungkin, Muna selalu berusaha memenuhi kebutuhan lahir dan batin suaminya agar tak berkekurangan saat bersamanya.
Sama halnya dengan Kevin, walau kini Muna sudah melahirkan dua anak untuknya, tapi ia selalu berusaha memperbaiki diri. Agar terus menjaga kepercayaan yang Muna berikan padanya. Maka sedapat mungkin ia terus menjaga hati, mata dan pikirannya untuk Muna seorang.
Bahkan kini, saat akan ada kemungkinan bekerja sama dengan teman lama dan berjenis kelamin wanita pun. Kevin lebih dahulu menyampaikannya pada Muna. Agar tidak ada dusta dan kesalahpahaman setelahnya untuk meminimalkan perseturuan yang mungkin alot nantinya.
“Teman atau pernah masuk dalam jejeran para mantan nih?” Sindir Muna asal. Muna suka membuat suaminya keki dan merasa malu sendiri, tanpa maksud apapun. Hanya sekedar bercanda agar hubungan mereka selalu hangat.
“Abang lupa juga nih. Pernah dekat, atau dekat sekali. Soalnya banyak banget.” Kekeh Kevin mengeratkan pelukkannya pada Muna.
“Iya… tampan. Laki aye yang gagah, kaya juga pekerja keras.” Kekeh Muna.
“Eh… sekarang kerja kerasnya hanya sama Mae lho. Tidak sama yang lain.” Belanya pada diri sendiri.
“Ya iyalah… abang mau nama abang nancep di batu nisan?” ancam Muna.
“Astagafirullahalazim. Nyebut Mae, sabar. Ngancemnya ga gitu juga kali.”
“Kagak ngancem abang. Cuma ngingetin aje. Hidup Muna sia – sia kalo abang selingkuhin. Abang udah puas pan waktu muda. Sekarang udah tua, punya anak dua. Norak banget kalo abang masih mikir mau cari yang kedua.”
“Mae… Mae. Ngapain abang cari yang kedua, ke tiga dan seterusnya. Kalo bini abang yang satu ini udah paket komplit pake bingit. Cukup satu Mae. Hanya kamu sayangnya abang.” Kevin sudah tidak dapat membendung tangannya untuk tidak mengangkat tubuh langsing itu ke atas pangkuannya.
“Jadi ngamar di hotel nih?” tantang Muna.
“Busyeeeet… bini abang. Paling TOP dah.” Kekeh Kevin berdiri dan masih memegang tangan Muna. Mengajaknya segera kembali pulang.
“Yaah… kecewa pemirsa. Di kira bakalan ajak ke kamar hotel beneran.” Umpat Muna setelah sadar jika jalan yang mereka susuri menuju rumah kediaman Hildimar.
“Beneran mau di ajak iya iya di hotel, Mae?” Kevin mengerem laju kendaraan yang ia kemudi.
“Kagak bang, becanda.” Jawab Muna mencium bahu Kevin dari belakang.
__ADS_1
“Abang ga bawa sarung. Nanti pas on, Mae pasti ribut minta di buang di luar. Ga asyik, punya bini kok rasa simpanan. Takut hamil gini.” Kevin tak kalah mengumpat menyadari kesialannya, untuk urusan es tong tongnya yang harus selalu di bungkus saat berhubungan dengan sang istri.
“Ya sudah lanjut pulang saja.” Jawab Muna. Ia mau memberanikan diri menggunakan otong tanpa sarung. Tapi ketidak datangan haidnya membuatnya tak tau kapan masa subur dan tak suburnya. Jalan satu satunya memang menggunakan KB Pil, Suntik atau IUD. Tapi, lihatlah. Jangan kan konsultasi ke dokter, untuk anak anaknya pun ia hampir tak punya waktu. Dalam hal ini, Kevin memang selalu di tuntut untuk selalu mengalah demi kenyamanan hubungan mereka berdua.
Ke esokkan harinya Muna dan Kevin menepati janji mereka untuk mengantar Aydan berjumpa dengan engkong kesayangannya. Walaupun tidak menginap, tapi Aydan cukup puas dengan waktu yang hampir seharian ia habiskan bersama. Sebab sebelum Muna dan Kevin ke rumah sakit, Aydan memang di antar ke sana, dan pulang kerja nanti akan di jemput kembali.
Kevin sudah hadir mendampingi TIM penguji, bersama Mahmud. Tak banyak bicara hanya perannya sebagai pengawas. Sementara Muna memang masih terlihat serius dengan laporan keuangan yang sungguh tak semua ia mengerti dengan detail. Bukan buta dan tak paham sama sekali, hanya Muna tidak pro dalam urusan itu.
Cup… bibir Muna sudah di kecup Kevin saat jam makan siang tiba. Dan Kevin sudah menyambangi istrinya ke dalam ruang direktur.
“Makan di luar atau pulang?” tanya Kevin kemudian.
“Nih liat… basah.” Muna menunjukkan dadanya yang sudah tergenang.
“Ga bawa pompa?” tanya Kevin.
“Lupa.”
“Makasih.. ga usah repot repot suami mesum.” Kekeh Muna maraih tasnya untuk segera pulang menyu sui Annaya.
“Hanya menawarkan bantuan ibu direktur.” Jawab Kevin yang langsung memeluk pinggang Muna untuk mereka bersama meninggalkan ruangan itu menuju rumah untuk pulang.
“Iya… terima kasih tawarannya suamiku sayang.” Kecup Muna pada pipi Kevin. Yang tentu saja pemandangan itu tak lepas dari pengelihatan Nia. Namun ia hanya menundukkkan kepalanya saat pasangan suami istri harmonis itu berjalan melewati mejanya. Tetapi, keduanya cuek saja, sebab kemesraan itu sudah tidak bermusim bagi mereka. Selalu saja begitu, semacam tak pernah bosan dan sudah menjadi kebiasaan mereka berprilaku seperti itu.
Muna segera membersihkan dirinya di kamar mandi, kemudian langsung menyu sui Annaya yang selalu dengan tatapan mesra menatap bola mata sang ibu, saat menerima transferan ASI.
“Mae… ada sop iga. Abang suap ya.” Celoteh Kevin yang antusias melihat sajian di atas meja makan mereka siang itu.
“Ga usah… nanti setelah Naya selesai, Muna makan sendiri.” Jawab Muna.
“Tapi abang laparnya sekarang.”
__ADS_1
“Abang makan saja duluan.”
“Ooh… tidak bisa. Kalau abang saja kelaparan begini. Apalagi bini abang yang sudah berbagi makanan.” Kevin sudah duduk di sebalah Muna yang masih menyu sui Annaya. Dan dengan cueknya menyuapi Muna bergantian dengan menyuapi dirinya sendiri.
“Makasih abang sayang. Laki aye emang paling the best dah.” Puji Muna di sela mengunyah makanan di mulutnya hasil suapan suaminya itu.
“Nah… kan kita jadi sama sama makan. Ya kan Naya. Cepat besar sayangnya papap. Biar bisa makan sendiri dan ga gantian isap mamam.” Absurd Kevin kumat kalo sudah melihat Annaya gelonjotan di dada Muna untuk mengambil sari makanan demi pertumbuhannya.
“Pliis deh, ngomongnya ga usah gitu juga sama anak. Ini tuh ruangan umum, bukan kamar.” Tukas Muna.
“Masalah?” tanya Kevin cuek.
“Heem…”
“Di sini tuh prolognya Mae. Di kamar eksekusinya. Atau mau di balik. Di sini eksekusinya?”
“eM.. E. Me. eS U Su M. MESUM. Ga ada obatnya ini dari jaman kapan?” Lafal Muna tertawa.
“Ga perlu di bahas. Dunia juga tau walau abang mesum, tetap juara di hati Mae Mun.” Kevin mendusel pucuk rambut Muna dengan sayang.
“Heemm… Mamam ga bisa nolak lagi waktu itu Nay. Papap kalian tuh, biar mesum selalu ngangenin.” Ujar Muna mentowel towel pipi Annaya yang masih fokus mengisap ASI di dada Muna.
Bersambung…
Pasangan ini memang uwu sepanjang masa ya gaes
Ga da lawannya
Makasih dukungan semuanya
🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏
__ADS_1