CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 44 : KERJA SAMA


__ADS_3

“Boleh saya pelajari terlebih dahulu?” tanya Muna dengan nada yang sangat sopan. Lalu, Sisil pun menyerahkan notebooknya untuk Muna membaca perihal kontrak. Tentu menyangkut urusan dana pembayaran jasa kantor tersebut.


Notebook itu sudah berpindah tangan ke Muna, dengan segera ia meneliti dan mempelajari beberapa perjanjian di dalamnya. Lumayan tinggi bayaran yang mereka minta, namun sepertinya mereka sudah sangat professional dalam urusan pekerjaan tersebut. Di bagian halaman belakang pun terlihat perusahaan bonafit lainya menggunakan jasa kantor tersebut dalam hal audit keuangan juga pajaknya.


“Ijin bertanya bu Sisil…?”


“Iya silahkan.” Sisil juga menggunakan mode serius saat meladeni Muna.


“Mengapa ada denda yang besar jika pihak kami membatalkan kerja sama di tengah pekerjaan?”


“Ya … sebab. Beberapa perusahaan sering ingin meminta berhenti saat kasus mereka mulai terpecah. Dan merasa bisa menyelesaikannya sendiri, seolah tak memerlukan jasa kami hingga tuntas. Berangkat dari itulah kami membuat denda kontrak sebesar itu.” Jelasnya.


“Iya, bahkan jika di hitung. Denda nya lebih mahal dari pada sabar hingga pekerjaan kalian selesai.” Muna tetap meneliti dengan seksama.


“Begini… kadang saat audit di lakukan. Semua laporan menjadi transfaran. Dan maaf, tak ada serupiahpun yang dapat di tipu dan di tutupi. Sering terjadi, bahwa orang dalam yang melakukan korupsi tersebut, sehingga pihak kedua meminta pekerjaan kami di hentikan saja. Kami kesal saat itu terjadi, kami sebagai pihak kesatu merasa pekerjaan kami tidak tuntas.” Papar Sisil serius.


“Wah… saya justru berharap penipunya di dapat, sehingga punya bukti otentik untuk memberinya sangsi bahkan penjara sekalipun.” Tegas Muna.


“Itu dia. Itu yang kami inginkan. Untuk itu kontrak ini di buat, untuk mendapatkan kebenaran yang akurat, sekaligus membersihkan perusahaan yang bekerja sama dengan kami agar benar benar bersih.” Tambah Sisil tak kalah antusias seperti Muna.


“Abang mau baca?” Muna menyodorkan notebook itu pada Kevin untuk ikut membaca dan mempertimbangkanya.


“Abang percaya dengan pilihan Mae. Kalo cocok tanda tangan kontrak saja. Agar mereka bisa mulai bekerja.” Putus Kevin melihat sekilas perjanjian kontrak tersebut.


“Oke… saya setuju dengan semua poin di dalamnya. Dan kurun waktu 6 bulan ini sifatnya tidak baku ya? Bisa di perpanjang jika masih membutuhkan kerja sama kembali.” Tanya Muna yang bahkan tidak membahas besaran bayaran jasa audit tersebut.


“Tentu saja, dengan senang hati jika kami bisa selalu bekerja sama dengan pihak kalian.” Jawab Sisil dengan bangga tanpa nego panjang mendapat proyek besar.


“Kedepannya, mungkin kamu akan selalu bertemu istriku ya Sil. Sebab, aku fokusnya di tempat lain. Aku disini hanya sebagai jembatan yang mempertemukan kalian.” Terang Kevin.

__ADS_1


“Siap… siap. Nanti juga tidak selalu bekerja denganku. Kami adalah TIM. Tergantung kasus akan ada spesialisnya masing masing sesuai bidangnya.” Jelas Sisil kemudian.


“Oke… oke deal.” Ujar Kevin berjabat tangan.


“Apakah besok, bu Mona bisa meluangkan waktu untuk tanda tangan kontrak di kantor kami?” tanya Sisil kembali.


“Oke… besok jam 10 kami ke kantor bu Sisil.” Jawab Muna dengan cepat.


Mereka pun telah saling setuju dengan kerja sama dan janji temu di esok hari. Karena pembicaraan urusan pekerjaan telah selesai, maka pertemuan itu sedikit berlanjut ke arah pribadi. Di sana Muna tau jika wanita itu adalah seorang ibu dari dua orang anak yang kini bahkan sudah memasuki usia remaja. Tentu saja, sebab ia sesusia Kevin bukan, wajar saja jika selepas kuliah ia langsung menikah, tidak seperti Kevin yang sempat memilih membuang waktunya untuk sekedar bermain main saja.


Dari obrolan singkat itu, juga terbaca jika hubungan Sisil dan Kevin pun pure, sebatas teman satu kampus saja. Sisil bukan mantan kekasih, juga bukan wanita yang pernah jadi patner ranjangnya. Dari bahasa tubuhnya pun sangat jelas, jika Sisil adalah sosok ibu yang hangat dan penyayang pada buah hatinya juga masih menjunjung tinggi nilai nilai kebersamaan dan keutuhan rumah tangganya. Sehingga, Muna merasa aman dan mungkin akan nyaman jika dalam 6 bulan kedepan ia akan banyak menghabiskan waktu bekerja sama dengan wanita cerdas ini.


Sementara di Bandung, pasangan pengantin baru yang baru saja pulang dari bulan madu itu, tampak sudah bagai tuan takur bagi bagi oleh – oleh. Parfum dengan ukuran kecil hampir kebagaian untuk semua warga kantor yang Gita bagikan.


Penampilan Gita sedikit berbeda sepulang dari Singapura, penampilannya kini tak sepolos dulu, ia bahkan rela bangun pagi selain untuk membuat sarapan. Juga terlihat agak sibuk mengerly ujung rambutnya demi menambah kecantikan penampilannya. Ditambah lagi di lehernya terdapat kalung emas putih berliontin hati, hadiah ulang tahun dari sang suami. Ya, Gilang akhirnya menyusul memberikannya hadiah yang secara langsung ia pasangkan untuk istri tercintanya itu, saat mereka masih di Singapura kemarin.


“Istri Gilang Surenra.” Kekeh Gita memeluk suaminmya dengan mesra.


“Rambut udah kriwil kriwil, alis udah di lempeng lempengin gini, udah bikinin kopi belom sih buat suami?” Canda Gilang pada Gita sepagi itu saat baru keluar dari kamar mandi.


“Sudah dong. Nasi goreng juga ada A…” jawab ceria.


“Masya Allah, enaknya punya istri. Malam tidur di kelonin, pagi di buatkan sarapan, tiap detik di kasih senyum manis lagi. Nikmat mana yang akan aku dustakan ya Allah.” Syukur Gilang tak hentinya keluar.


“Alhamdulilah… punya suami tampan. Ga pernah protes lagi, kalo masakan istri ke asinan.” Tawa Gita ingat akan masakannya yang belum pernah sempurna di lidahnya. Namun selalu di habiskan oleh suaminya tersebut.


“Neng… masakan mah, biar gosong juga. Kalo yang masak dan yang nyajikannya dengan baik, buatnya dengan ikhlas, dan penuh senyum. Rasanya selalu nikmat neng.”


“A’a… gombalnya jangan kebangetan. Tiba kita makan di rumah ibu, a’a nambah juga, karena masakan ibu enak dari masakan eneng.”

__ADS_1


“Ga usah banding bandingin hasil olahan makanan ibu sama eneng deh. Ibu udah pro di dapur, tapi di kasur kan eneng juaranya buat a’a.” Tawa Gilang meledak sendiri. Menyadari jika kini ia pun sudah makin somplak memuji istrinya.


“Ya iyalah. Masa ibu di ajak gelud di kasur, Si a’a mah, aya aya wae.” Gita membela diri.


“Neng… akhir pekan kita ga usah ke ibu ya.”


“Kenapa?”


“Mau di rumah saja dengan eneng. Cape wara wiri.”


“Capek atau mau bikin eneng capek?” pancing Gita absurd.


“Heemmm… eta mah kode atuh neng. A’a mau libur. Tidur saja di rumah seharian.” Jawab Gilang lagi.


“Tidur saja, atau mau nidurin eneng?" Gita masih menggoda Gilang dengan meyemprotkan setting spray untuk mengunci make up nya agar tahan lama.


“Eh… istri mesum. Kita sekarang mau ke kantor atau buat anak aja pagi ini?” Gilang bahkan merasa kegerahan dengan candaan yang di ucapkan istrinya tadi.


“Ampuuun a’… i.. iya. Kita sarapan yuks, baru ke kantor.” Kekeh Gita dengan tawa yang berderai ceria sepagi itu.


Bersambung…


Tuh yang rindu part duo G. Sekaliqn pic mereka nyak kasih. Biar ga lupa wajah pasangan gombal ini.


Makasih giftnya semua ya


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2