
Bukan sengaja kepergian Kevin sekeluarga tanpa dua Baby Sitternya, saat ke rumah Gilang. Tetapi Laras sedang ijin menjenguk ibunya yang sakit. Dan Ami sedang tak enak badan. Sehingga pergi hanya dengan istri,beserta dua anak ke kediaman Gilang dan Gita juga bagian dari cara untuk mengalihkan suasana dan meningkatkan kebersamaan mereka, layaknya keluarga lain pada umumnya yang tak memiliki pengasuh.
Muna tidak memberi perintah agar Kevin menjaga Annaya, tapi Kevin ingat dengan kalimat bahwa ia kan bertanggung jawab atas kehamilan Muna yang ke tiga ini. Maka, tanpa di minta. Kevin selalu menggendong Annaya agar tidak membuat Muna capek dan kelelahan. Termasuk memberikan ASI yang tersedia di botolnya, juga sudah menjadi tugas Kevin sekarang.
“Kakak mau cucu juga, Pap. Ay minta cama mamam ya …?” ujar Aydan mendekati ayahnya yang sedang mengarahkan dot ke mulut Annaya.
“Stt … nanti Papap yang buatkan. Jangan ganggu Mamam sama Aunty. Mereka lagi bikin kue, oke sayang?” tawar Kevin pada Aydan.
“Oke Papap, omes?”
“Heem … promes.” Timpal Kevin berjanji. Hingga akhirnya Annaya terlelap. Kevin pun lagi, membuka semua bekal yang sudah Muna siapkan di box ajaib yang selalu mereka bawa kemana-mana. Box yang selalu siapa membawa keperluan perut hingga raga kedua anak mereka.
Aydan memang sudah 3 tahun. Tapi itu masih balita bukan. Kadang ia masih lupa kapan akan pipis. Sehingga stok pakaianya juga masih harus di bawa. Ia juga, masih sering minta di buatkan susu, walau sudah tidak meminumnya dengan dot, melainkan dengan gelas yang bagian tutupnya berlubang tiga, ada tanggkai di kiri dan kanan untuk memegangnya.
Aydan sudah mengantuk, tertidur di antara maianannya yang terhampar di atas karper bulu. Masuk dalam dunia mimpi, mengembara dan bercanda di alam bawah sadarnya. Entah bertahan hingga berapa jam ke depan. Momen itu di manfaatkan Kevin untuk lepas dari kegiatan dadakannya sebagai pengasuh.
“Huh, jadi pengasuh bayi begini amat, ya?” Batin Kevin sedikit menggerutu dalam hatinya. Sambil menyeka keringat yang keluar di sekitar dahi dan lehernya, lelah. Saat itu, ia merasa perutnya agak longgar dan sedikit kosong. Entah kemana perginya sop daging dan kacang merah buatan Muna yang baru saja ia santap sebelum pergi ke rumah Gilang tadi. Nampaknya sudah menguap bersama keringat yang keluar, hilang bersama energi yang ia keluarkan untuk mengasuh dua balita yang bahkan baru dalam hitungan kurang lebih 45 menit itu. Makanya Boss, jangan remehkan pekerjaan IRT, apalagi anak dua. Bahkan sudah kamu buat bunting lagi anak ketiga. Baru sebentar jadi Nany saja sudah kelaparan.
Kevin membuka tudung saji, dan hanya ikan panggang yang menarik seleranya. Mencomotnya, lalu memasukan ke dalam mulutnya. Dan seketika itu juga, perutnya terasa menolak. Mendadak mual, ingin muntah. Sedapat mungkin ia berlari ke arah wastafel terdekat untuk memuntahkan makanan yang baru saja ia telan.
__ADS_1
“Hoeek … hoooeeek.” Gita dan Muna sama-sama menoleh ke asal suara. Sama kegetnya melihat Kein yang sudah membungkuk menghadap wasteful, memuntahkan isi dalam perutnya.
“Kakak kenapa …?” kejut Gita melangkah mendekati Kevin.
Berbeda dengan Muna, ia lebih santai melihat pemandangan itu. Ya, itu bukan sesuatu yang harus di cemaskan bukan. Ini bahkan bukan yang pertama kalinya ia lihat sejak tau, jika kini ia tengah hamil. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat adalah pertolongan pertama bagi Bapak yang sedang ngidam itu, adalah langkah pertama yang dapat Muna lakukan.
“Minum, Bang.” Ujar Muna menyodorkan segelas air hangat untuk Kevin.
“Laras atau Ami, mana?” Gita baru sadar dua Baby Sitter itu tidak Nampak batang hidungnya.
“Mereka tidak ikut.” Jawab Muna sambil memijat halus punggung Kevin seperti biasa.
“Ya … ampun. Berarti sejak kita sibuk di dapur. Kakak yang jaga Ay dan Nay …?” Gita membayangkan betapa repot dan besarnya tugas yang kakaknya lakukan. Bahkan tidak protes sekalipun saat Muna memilih sibuk membuat kue di dapur, tanpa memperhatikan dan membantu Kevin menjaga anak mereka.
Gita menatap kagum pada kakak satu ayah, beda ibunya itu. Tak dapat akalnya menjangkau. Sungguh pria di depannya ini bucin akut. Sampai rela mengasuh dua anaknya, demi membiarkan sang istri menyibukkan diri dengan hoby baru mereka.
“Mestinya, kita buat kue setelah mereka sudah tidur semua tadi, Kak Mun.” Gita sungguh merasa bersalah. Toh, pembuatan kue itu tidak mendesak. Bahkan tidak membutuhkan waktu lama. Atau cukup dia saja yang membuatnya sendiri, tanpa Muna.
“Udah … kakak ga papa kok Git.” Jawab Kevin sabar.
__ADS_1
“Abang … ada makan apa?” tanya Muna memastikan penyebab mualnya.
“Tadi comot ikan panggang.” Jawab Kevin singkat.
“Hah … sejak kapan kakak alergi ikan. Itu bahkan baru ku buat tadi, tidak mungkin basi atau kadaluarsa.” Gita meyakinkan, jika semua makanan yang tersaji itu semua higienis.
“Tidak Git. Bukan karena makanan mu yang basi atau kadaluarsa. Hanya memang akhir-akhir ini seleranya agak sensitive. Aku malah sudah tiga bulan ga doyan makan ikan. Maknya pas, Abangmu comot ikan. Langsung deh muntah.” Jelas Muna membuat Gita heran. Tak mengerti dianya. Muna yang sudah tiga bulan tidak makan ikan, tapi kenapa saat Kevin memakan ikan, justru Kevin yang muntah. Itu yang ada dalam pikiran Gita saat itu.
“Kak Muna alergi ikan? Tapi Kak Kein yang muntah …? Eh, gimana sih?” Gita bukan o’on ya. Tapi memang masih kabur dengan penjelasan yang baginya tidak terang itu.
“Kakak iparmu ini, sedang hamil Git. Selama hamil ga selera makan ikan. Dan Kakak kena sindrom Couvade. Alias Kehamilan Simpatik. Dimana suami merasakan tanda-tanda kehamilan yang di alami oleh istri.” Akhirnya Kevin yang menjelaskan dengan terang benderang pada adiknya sendiri.
“Haaah …!!!” Mulut Gita mengaga sempurna. Namun, secepatnya ia tutup dengan dua tangannya sendiri. Tak menyangka jika lagi-lagi istri kakaknya itu hamil lagi. Menoleh kearah perut Muna dan baru tersadar jika perut itu memang tidak selangsing dulu. Tadinya ia hanya mengira jika Muna belum berhasil diet saja, pasca melahirkan Annaya. Namun, mana pernah ia curiga jika ternyata ibu dua anak itu lagi-lagi hamil muda.
“Sudah berapa bulan Kak.” Gita meraba perut tak rata itu.
“Sudah tiga bulan. Lewat malah.” Jawab Muna ikut mengelus perutnya dengan senyum bangga.
“Duluan dari Gita dong.” Sungutnya makin tak percaya.
__ADS_1
“Iya Git, itu buatan luar negeri. Waktu kalian punya acara waktu di Singapura kemarin.” Iya Gita ingat, saat itu Muna dan Kevin memang ikut pergi ke sana. Dan waktu itu ia masih datang bulan. Sehingga pembuatan anaknya memang tertunda. Mengangguk paham dengan perasaan sedikit kagum pada pasangan yang ternyata hobby menambah anak itu.
Bersambung …