
Kevin dan Muna memang telah memiliki anak dua, tapi komunikasi mereka selalu terjaga dengan baik. Baik urusan pekerjaan semua menjadi topik pembahasan mereka dengan terbuka. Sampai rencana nambah momongan pun tanpa tabu selalu mereka bicarakan. Keduanya sudah pernah miskom saat sebelum menikah bukan? Maka sedapat mungkin saat sudah berstarus susmi istri keduanya tak ingin mengulang pisa pilu mereka lagi.
Muna memang jauh lebih muda dari Kevin, tapi bukan berarti tak bisa di ajak kompromi. Otak Muna cerdas, attitudenya baik, hanya memang cara bicaranya saja yang kadang memang agak ke nyak Time an. Bisa kadang nyamblak, nyolot juga. Tapi hanya menjadi lucu saat ia mengeluarkan jurus itu. Namun, hal itu tak pernah sama sekali ia tunjukkan saat bekerja. Muna segera menjelma menjadi seorang direktur yang tegas bahkan lebih disiplin daripada Kevin.
“Kalau kita tidak jadi ke Korea, lalu mau ganti liburan kemana bang?” panggilan itu sulit bagi lidah Muna lepaskan. Seolah sudah sebagai attribute yang menyatu dengan Lidahnya, sama seperti Kevin yang memanggilnya dengan sebutan Mae. Dan panggilan itu masih mampu menggetarkan hati mereka sama seperti saat saat indah masa pacaran mereka berdua.
“Kita liburannya di Cikoneng saja Mae. Sekalian ke resepsi acaranya Siska. Kita ajak nyak babe dan anak anak juga.”
“Tinggalnya gimane abang, pan entuh pas nikahan Siska. Bakalan rame ntar. Kesian anak anak, apalagi Naya.” sahut Muna memikirkan keadaan beberapa tahun lalu di rumah Siska.
“Mae lupa, rumah lama Siska kan abang yang beli. Rumah yang pernah jadi saksi kita cip ok an, setelah berdamai tentang wanita yang ngaku hamil anak abang.” Kevin mengingatkan Muna.
“Hm… Mae kira abang beli penginapan yang pernah hampir perkosa Muna.”
“Perkosa… mana pernah abang mau perkosa Mae. Teriak mulu dasar toa.”
Cup, Muna mencium pipi Kevin gemas.
“Terima kasih untuk semua kesabaran abang yang banyak banyak untuk Muna ye. I love you suamiku sayang.”
“I love yu too, my everything. Mau bonus otong, Mae?” Tawar Kevin.
“Oh tidak terima kasih sudah kenyang sayang. Kata pak Ustad sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Mubazir, jatuhnya jadi dosa bukan pahala.” Kekeh Muna melingkarkan tangannya pada perut sixpack sang suami.
Kevin mencium kening istrinya.
“Cuma tawaran, ga harus di setujui juga sih. Udah, tidur deh. Abang peluk sampe pagi ya sayangku.” Ujar Kevin yang kelopak matanya pun sudah semakin berat dan hampir tertutup karena kantuk. Dan keduanya pun segera perpindah ke alam mimpi, merengkuh sisa malam, menunggu rotasi berputar mengantar mereka pada hari yang baru lagi.
__ADS_1
Jika Kevin sekarang sudah punya Tama sebagai asistennya, Muna pun tak kalah untuk memiliki seseorang yang ia jadikan sebagai orang kepercayaannya. Nia Khofifah adalah seorang staff di managerial Hildimar Hospital. Lumayan lama bekerja di rumah sakit itu, lulusan IT. Dia seorang single parent. Anaknya satu, sudah berusia 6 tahun sekarang dan selama Nia bekerja di bantu rawat oleh kedua orang tuanya. Suami menceraikannya karena kepincut mantan, maka Nia memilih jalan sendiri saja, dari pada harus selalu di bandingkan dengan sampah suaminya itu.
Nia cepat tanggap, dan sangat mengerti posisi Muna yang kini memiliki anak dua. Sebab ia juga telah melewati masa sulit saat anaknya berusia seperti Muna, bahkan sudah punya dua. Pekerjaan Nia, bahkan lebih repot dari sekedar sekretaris, sebab semua jadwal temu Muna ada padanya. Tapi Hildimar Hospotal adalah rumah sakit besar, yang sudah tak perlu bersaing dan berlomba untuk mencari investor seperti perusahaan Kevin. Mereka cukup memastikan jika pelayanan rumah sakit mereka adalah yang terbaik. Dengan menjaga mempertahankan dokter terbaik yang menangani pasien, perawat yang tanggap, perhatian dan selalu berbudi bahasa halus pada pasien. Juga mengganti peralatan medis yang sudah tak layak pakai agar kualitas rumah sakit itu selalu menjadi incaran orang orang yang ingin lekas sembuh.
“Nia… tolong kumpulkan semua manager. Dua jam lagi kita akan rapat.” Ujar Muna pada Nia. Sebab pagi itu ia sengaja datang agak pagi setelah memastikan suaminya berangkat ke Bandung untuk datang ke perusahaan lagi. Dan, setelah Aydan dan juga Naya sudah sarapan. Muna pun hanya berjalan kaki menuju rumah sakit. Bukan karena irit. Tetapi Karena Muna memang ingin merlihat langsung keadaan rumah sakit tersebut dari cara pandang pengunjung juga pasien.
Perjalanan menuju kantor yang semestinya adalah 15 menit dengan jarak tempuh jalan kaki, tapi tidak dengan Muna yang pagi itu sesekali singgah di taman, singgah di layanan kamar pasien, juga agak lama di meja reseptionis. Dan Muna banyak menemukan catatan yang harus segera ia konsultasikan pada semua kepala menager atau penanggung jawab di bidangnya. Sehingga membutuhkan waktu 120 menit untuk Muna bisa sampai di ruangannya dan di sambut Nia dengan ramah, sebab di depan ruangannyalah Nia bertengger sekarang.
“Penanggung jawab laboratorium…” Panggil Muna saat mereka sudah berada di sebuah ruangan rapat tersebut.
“Siap saya bu.” Jawab seorang lelaki paruh baya agak botak mengangkat tangannya.
“Oh.. iya. Kapan terakhir alat kita di lakukan kalibrasi?
“Oh… baru saja bu. Mungkin 6 bulan yang lalu.” Jawabnya tidak percaya diri.
“Mengapa mungkin? Saya perlu jawaban yang pasti.”
“Yakin…?”
“Rasanya…”
“Pak, Mahmud. Ya pak Mahmud. Begini saja, tolong minta data konkrit berupa surat keterangan kalibrasi terakhir. Silahkan keluar dari ruang rapat sekarang, dan saya tunggu secepatnya data tersebut, hari ini juga.” Ujar Muna dengan tegas.
“Oh. Maaf bu. Sudah lebih dari dua tahun alat kita tidak di kalibrasi.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena tak ada petunjuk dan pihak keuangan pasti tidak akan menyetujui adanya pengeluaran untuk itu.” Kepala Muna berputar kearah manager keuangan, minta penjelasan.
“Hah…? Bagaimana kami mengeluarkan dana, jika dari pihak lab tidak pernah mengususlkan di adakannya kalibrasi.” Sinta sebagai kepala divisi keuangan merasa keberatan.
“Hey… bukankah kalian bilang selalu tak ada dana untuk itu.”
“Kapan? Usulan saja tak pernah ada.” Sinta membela diri.
“Kalian tak pernah mau menerima usulan untuk kalibrasi karena selalu lebih suka dengan membeli alat baru, agar kalian mudah memainkan harga juga bermain dengan pihak kedua atau penjual alat tersebut.” Tuduh Mahmud pada Sinta.
“Stop. Saya tetap meminta semua data alat alat lama dan baru di lab. Sekarang!!!” Tegas Muna dengan wajah tenang. Dan Mahmud pun keluar dengan wajah yang memerah menahan rasa malunya.
“Bu Sinta, minta data keuangan beserta seluruh usulan penggunaan dana selama tiga tahun terakhir. Saya tunggu hari ini juga.” Tegasnya dengan lebih tegas bahkan wajah Muna lebih mirip monster yang akan siap menelan santapannya bulat bulat.
Bersambung…
Hmm… nyak ga ikutan nih kalo Muna dalam mode tegas, kayaknya Kevin juga kalah.
Happy reading ya
Stt senin lagi niih.
Nyak di Vote dong
Biar makin lancar nulisnya
Makasih semua support kalian
__ADS_1
Lop all
🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏