CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 40 : TIGA FANS


__ADS_3

Sinta tertunduk mendengar ucapan lembut namun menusuk di kalbu. Bagaimana tidak, jika sesungguhnya ia pun sudah menerima uang, sebagai bonus dari Mahmud atas dana yang berani ia keluarkan tersebut.


Muna bukan cenayang, juga bukan dukun. Tapi dalam waktu kurang lebih dua jam ia sudah dapat meneliti laporan keuangan yang di buat dalam tiga tahun terakhir. Maka ia tau, penjahat dalam rumah sakitnya tidak hanya Mahmud. Tapi Sinta selaku kepala keuangan juga pasti ada bermain kotor. Tetapi, Muna tidak ingin menangkapnya dengan cara kasar, Muna ingin bermain cantik. Sebab menangkap hiu tak bisa dengan umpat biasa. Melakukan pendekatan yang baik, merupakan jurus yang akan Muna gunakan.


Penunjuk waktu bahkan telah mengarah pada pukul 5 lewat, hampir magrib. Muna lupa waktu, maka bergegas memacu mobilnya untuk segera pulang kerumah. Ia masih ingat. Ada dua bocah yang sudah menunggu kepulangannya. Belum lagi bapak bocah itu, mungkin saja bahkan sudah kembali dari Bandung.


“Mamaaam.” Teriak si bocah Aydan menyambut kedatangan Muna. Aydan sudah dengan pakaian kokonya, akan siap ikut sholat, Ada Kevin yang sedang menggendong Annaya di dalam rumah mereka, juga sudah mandi dan akan menyucikan diri bersiap menjadi imam memimpin sholat mereka di rumah.


“Iya sayang… mamam mandi dulu ya. Mamam kotor.” Jawab Muna sekenanya.


Wajah Kevin agak masam melihat istrinya pulang di saat langit sudah berwarna keemasan. Muna tak mau mendekati tiga orang itu. Hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sebentar, lalu segera masuk kamar mandi untuk menyiapkan dirinya dengan cepat. Setelah bersih, barulah ia membagi peluk dan ciuman rindunya pada tiga orang kesayangannya tersebut. Tanpa obrolan panjang dan merekapun melaksanakan sholat berjama’ah.


Kini mereka berada di meja makan, bertiga. Sebab Annaya sudah bersama Laras.


“Mamam… lama.” Celoteh Aydan tanpa di perintah siapa siapa mengomentari ketiadaannya hari ini di rumah.


“Iya maaaf ya. Hari ini kerjaannya banyak.” Jawab Muna sambil menambahkan lauk pada piring suaminya.


“Mamam kelja lama, kaya papap. Ay ga ada teman.” Rupanya Aydan anak yang kritis. Terlanjur terbiasa selama ini selalu ada Muna yang hampir full time bersamanya di rumah.


“Maaf… hanya hari ini. Besok tidak selama tadi ya nak.”


“Omes mamam?” tanyanya mengangkat jari kelingking. Muna melirik ke arah wajah Kevin. Wajah suaminya masih agak kaku, kaya patung pancoran.


“Insya Allah.” Jawab Muna mengaitkan kelingkingnya pada kelingking kecil anak sulungnya itu.

__ADS_1


“Kakak Ay, marah sama mamam?” tanya Muna pelan saat kini mereka beralih ke sofa di tengah rumah. Dan Aydan sudah bergelayut di tubuhnya.


Aydan mengangguk.


“Kenapa?”


“Mamam lama. De Naya bobo aja, Ay ga ada teman. Ay ke lumah engkong boleh?” tanyanya seolah sungguh merasa kesepian di rumah.


Muna mengecup pucuk kepala Aydan.


“Maaf ya… besok mama kerja sampai siang saja. Sore kita main ke tempat engkong. Oke…?”


“Iya. Bobo ya mam?” Pintanya yang rindu dengan engkong Rojaknya.


“Pap… becok bobo di lumah engkong boleh?” Tanya Aydan yang melihat Kevin sudah mengambil Annay dari Laras untuk di serahkan pada Muna.


"Main saja Ay, ga usah bobo di sana." Putus Kevin tegas pada Aydan, dan mata anaknya pun berbinar senang.


“Mae, Naya ga mau dot dari tadi.” Ujarnya lagi. Muna mengecup pipi Aydan lagi sebelum memindahkan bocah itu ke kursi agar duduk sendiri, lalu menyambut Annaya yang memang belum ia gendong dari tadi.


“Emmm…. Emm… mum… mum.” Bayi kecil itu seolah menggerutu saat mulutnya terbungkam, sambil terus melahap ASI Muna. Mungkin bayi itu pun protes atas keterlambatan pulangnya sang ibu.


“Hmm… lapar ya. Mamam juga kangen Naya. Maaf ya nak.” Belai Muna pada rambut Anaya, tiba-tiba merasa bersalah, karena pulang terlalu sore. Baru pulang pukul 5, tiga fansnya itu sudah menunjukkan ekspresi protesnya masing-masing. Bagaimana jika ia lembur sampai malam. Ibu dua anak begini amat ya kalo juga merangkap sebagai wanita karier.


Kevin mencium kening Muna, saat masih terlihat berinteraksi menyu sui Annaya. Ia tau, istrinya lelah, cukuplah Aydan dan Annaya melayangkan keberatannya saat pulang agak sore, tak perlu juga Kevin ikut menambah beban di wajah letih itu. Bukankah menjadi wanita bekerja adalah cita cita istrinya sejak dulu. Bukankah dulu Muna adalah gadis kecil keras kepala yang begitu keukeh ingin menjadi orang kantoran. Bahkan saat Kevin berikan PR mengurus dua anaknya pun, tetap tak menyurutkan keinginannya untuk tetap terjun menjadi wanita pekerja keras. Apa yang Muna cari sesungguhnya, uang tak berseri, kekayaan tak perlu di rinci lagi, suami sangat mencintainya, anak anak pun sudah ia miliki. Tetapi, cita dan harapan baginya harus lah tetap ia raih.

__ADS_1


Pukul Sembilan malam, Aydan tidur kali ini dengan Muna. Ia yang memilih minta di bacakan cerita oleh sang ibu. Sedangkan Annaya, bagai terbantai kekenyangan setelah menyedot asupan gizi dari sumbernya tadi hingga terlelap. Kini tentu saja giliran si bayi besar, bapak bocah untuk mendapatkan giliran di keloni oleh si pawang.


Muna baru saja membersihkan dirinya lagi, akan menggunakan pakaian dinas di tempat tidur, walau sekujur tubuhnya hari ini letih, terlebih otaknya. Ia sadar bekerja adalah pilihannya, dan ia juga pernah berjanji agar tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Jadi, misalkan malam ini ia pun di tagih jatah oleh sang suami, tentu saja ia tak memiliki alasan untuk menolak. Walau mungkin saja ia bagai gedebong pisang saja nanti, akibat sudah lelah.


“Jalan Mae.” Ujar Kevin menyodorkan pakaian dan sebuah jaket untuk Muna.


“Hah…?” Kejut Muna agak heran tetapi masih segera menyambut pakaian tersebut untuk ia kenakan.


“Kangen naik motor sama bini.” Jawab Kevin datar. Ulala si papap Aydan romantisnya ga pake kode. Muna kira malam ini ia kan di interogasi. Karena pulang telat, ternyata malah di ajak kencan walau baru malam rabu. Bucin bucin.


Muna dempet dong. Bahkan di belakang Muna bisa duduk satu orang lagi, saking itu badan nempelnya pake bingit sama laki. Muna lama tidak menikmati momen naik motor bersama Kevin, dulu pun tak pernah serapat ini, karena masih malu malu mau. Tapi tidak dengan sekarang, seandainya bisa sambil pangku. Mungkin Muna memilih berpangku saja di atas motor dengan Kevin saking ingin menunjukkan kemesraannya pada sang suami.


Keduanya menikmati perjalanan malam itu, tanpa banyak bicara. Hanya saling menikmati lingkaran tangan Muna di perut sixpacknya. Dan sesekali Kevin angkat untuk mengecupnya. Tak jauh beda dengan Muna yang kadang memanyun manyunkan bibirnya di punggung Kevin. Membuat Kevin memundur mundurkan punggungnya, agar bamper depan Muna terdesak makin nempel.


“Mae… kita tidur di hotel terdekat?” Gesrek ya gesrek, si Kevin kena bamper depan gitu aja sudah pengen.


Bersambung…


Apapun konfliknya, harus selalu ada mesranyakan gaes


Makasih VOTE, n GIFTnya ya semua


Lop All


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2