CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 110 : HEBOH


__ADS_3

Kevin tanggap dengan pemandangan yang ternyata cukup menyedot perhatian orang-orang di sekitar Muna. Namun tak dapat berbuat banyak untuk membantu. Entah kemana perginyakah sang engkong yang biasa peduli dan peka dalam urusan menjaga Aydan.


“Kaka Ay sama papap aja, mamam diemin de Naya dulu.” Gendong Kevin pada putra suslungnya tersebut.


“Kecitu pap… citu… citu.” Tunjuk Aydan pada rombong penjual mainan yang memang di penuhi anak anak kecil seusianya. Namun hanya berdiri memandang berjarang tiga langkah dari sang penjual dan semua barang dagangannya tersebut.


Namun, hanya anak anak saja yang berdiri di sana. Tanpa pengawasan orang tua mereka. Mungkin hal yang biasa bagi beberapa orang tua di sana. Jika mendekati saja itu artinya harus membeli. Sehingga mereka memilih cuek saja dan seolah pura-pura tak kenal mana anaknya masing-masing. Ada yang duduk, ada yang berdiri, ada juga sudah yang mengelus-elus mainan yang membuat matanya berbinar binary karena begitu menginginkan mainan yang di jula tersebut.


“Kaka Ay mau mainan?” tanya Kevin sambil mencium-cium pipi gembul anaknya sendiri.


“Boyeh main cama teman-teman itu pap?” ujarnya balik bertanya.


“Boleh… tapi ga boleh rebutan.”


“Waaah… banyak calii.” Takjub Aydan seperti tak pernah di bawa ke pusat perbelanjaan mainan saja.


“Mau main yang ini… ini juga mau. Ini cuka.” Aydan tak henti hentinya memegang mainan satu dan lainnya. Keren menurutnya melihat sepeda motor yang berpayung itu seperti pohon lebat dengan mainan warna warni. Dari mobilan, truck, pistol, tembakan, hingga boneka semua tersedia di boncengan belakang motor tersebut.


Aydan bagai magnet yang secara otomatis menarik perhatian anak-anak yang tadi berjarak dengan rombong itu. Tiba-tiba sok akrab antara satu dan lainnya saling berinteraksi sama-sama menunjukan dan menjelaskan ke unggulan beberapa jenis mainan yang mereka sukai.


Yang mengantar Aydan ke situ Kevin ya… bukan emak emak rempong. Mana Kevin tahan melihat anaknya memegang mainan satu dan lainnya masih dalam bungkusan.


“Ade mau yang mana, om ambilkan.” Ramah penjual itu pada Aydan.


“Ini bagus om. Ini juga keleeen. Pap, bagus ya.” Aydan seolah sedang memilih milih.


“Ini warnanya mantap… bagus juga.” Celetuk anak lain yang sepertinya berselera sama dengan Aydan memegang beberapa mainan.


“Om… buka ya. Mau yang mana?” Si penjual kesempatan dong, melihat dari pakaian mahal yang Aydan kenakan ia langsung paham, itu anak sultan. Dan ga mungkin menunggu anaknya nangis tatrum dulu baru belikan mainan yang ia inginkan.

__ADS_1


“Om… Ay cuka ini.” Ujar Aydan kea rah penjual.


“Mau ini…? Bilang papanya dulu, biar di belikan.” Spontan penjual mendapatkan targer mangsa.


“Pap… kata omnya di beli dulu.” Aydan berjalan mendekati Kevin.


“Iya… ambil yangAy mau. Nanti papap bayar.” Jawab Kevin lembut. Dan memberi anggukan pada si penjual.


Aydan memilih tiga macam mainan, dengan senyum sumringah memeluk mainan tersebut. Lalu mencari tempat yang agak longgar untuk duduk dan mulai memainkan maianan barunya, tanpa memperdulikan Kevin yang masih berdiri di tempatnya. Mainan yang Aydan pilih adalah mobil remot berukuran besar. Tentu saja itu tidak murah, juga jarang di beli oleh setingkat orang di kampung.


Maka kini, pesona Aydan sudah mengalahkan artis yang sedang bergoyang di atas panggung. Sebab, kemana Aydan mengarahkan mobil remote nya, kesitu lah anak-anak tadi turut mengikutinya. Dan ada pula yang meminta mainan serupa namun lebih kecil pada sang penjual. Karena ia melihat, Aydan sesekali saja mengelus mainan tadi, sudah di bukakan oleh sang penjual. Di buka bungkusnya dan di pasang batreinya, lalu bisa di mainkan.


Dan tentu saja itu tidak berhasil, sebab orang tua sang anak tidak berani muncul kesekitaran area rombong mainan tersebut. Dan terjadilah acara menangis masal. Ada 3 orang anak yang seperti kesurupan, menginginkan beberapa mainan. Dan sepertinya penjula itu sudah terbiasa dengan adegan drama itu. Sehingga ia bisa cuek dan seolah tidak mendengar konser tangisan yang taka da jedanya tersebut.


“Tama…” Kevin mengusap ponselnya memastikan alkat komunikasi itu sudah terhubung dengan asistennya.


“Siap pak.” Jawab Tama sigap.


“Beli semua mainan yang di inginkan anak anak itu. Supaya ga ribut, tuh yang menemani Aydan juga, belikan semua. Kamu nego sama penjualnya, habisin semua dagangannya, supaya dia cepat pulang dan tidak membuat resah hati para orang tuanya.” Perintah Kevin pada Tama dengan jelas.


“Baik pa.” Ujar Tama yang selalu berperan sebagai brankas Kevin tersebut.


Hah… kalau Cuma borong mainan di rombong itu, paling banter habis 5 juta, bukankah Tama sudah terbiasa dengan belanjaan Kevin yang puluhan bahkan ratusan juta jika ia sedang ingin membelikan apapun untuk Muna juga Aydan.


“Ay…” Panggil Kevin.


“Iya pap…” Aydan berlari mencium cium pipi Kevin yang duduk berjongkok di depannya.


“Suka…?”

__ADS_1


“Cali… thanks pap.” Girang Aydan memeluk Kevin.


“Aydan main sama teman-temannya ga boleh nakal dan jangan rebutan ya. Teman-teman juga punya yang sama seperti punya Ay. Boleh papap tinggal?” tanya Kevin yang ingin makan siang.


“Boyeh… tapi cama om Tama ya.” Pinta Aydan yang tetap minta di awasi oleh orang dewasa.


Kepala Kevin dan Aydan sama-sama menoleh kea rah Tama dan penjual mainan tadi, yang ternyata tidak sedang di kerubuti oleh anak anak yang menangis tadi. Melaiankan ibu-ibu pada heboh memilih mainan untuk anaknya. Mendadak anak-anak tadi memiliki orang tua yang ingin berkesempatan mendapatkan mainan yang baik dan tentu lebih mahal dari pilihan anak-anaknya.


“Ini saja nak… ini warnanya bagus.”


“Ga mau yang mobil, maunya robot saja.”


“Iiih… mobil saja, nanti bisa jalan lho.” Rayunya.


“Ga mau… mobil. Mau robot aja, juga bisa jalan… berputar juga.”


“Ini… yang besar saja barbienya.” Ucap ibu lainnya mencekoki mainan pada anak perempuannya.


“Kebesaran bu, Cia mau yang kecil kecil aja.” Tolak sang anak.


“Iih… di bilangin ngeyel. Yang kecil itu mudah rusak. Mending yang besar ini, cantik, bajunya bisa di ganti ganti.” Ibu itu terus saja menjajal pilihannya.


“Yang kecil ini banyak temannya bu.” Sang anak juga tak mau kalah argument.


“Huh… dasar ga bisa di bilangin…!!!” geram sang ibu yang juga tak sendiri melakukan pemaksaan pilihan pada anak-anak mereka masing-masing.


Maklumlah, setelah berhembus isu jika rombong mainan itu gratisan. Perhatian para ibu-ibu segera pecah kongsi. Yang awalnya mereka berada di dekat para suami yang matanya mulai genit dan jelalatan melihat liukan-liukan geolan artis yang memang di hadirkan untuk menghibur para tamu undangan, seolah ada pesta rakyat dadakan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2