CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 24 : CITA CITA


__ADS_3

Gita dan Gilang masih asyik ngobrol saling mengeluarkan uneg uneg bahkan cita cita dan harapan mereka yang belum di ketahui satu sama lain.


"Kalau eneng minta a'a tunda kuliah dulu, a'a siap. Toh, kampus juga ga akan lari kemana mana." Ungkap Gilang merebahkan tubuhnya berbantal tangannya membentuk posisi silang di bawah kepalanya sendiri.


"Ya jangan lah. Nanti a'a ga bisa cepat naik jabatannya. Walau kak Kevin adalah kakaknya eneng, kan kita juga ga boleh aji mumpung a'a." Gita ikut menyusul suaminya yang rebah, dan meletakan kepalanya di atas dada Gilang.


"Kalau karena a'a kuliah eneng sampai berhenti kerja. A'a ga mau neng."


"Kenapa?"


"Neng, suatu kebanggaan bisa memiliki kesempatan berkuliah di luar negeri. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti eneng. Masa, setelah menikah eneng hanya pulang ke dapur dan ngurus suami dan anak. Semua itu ga semudah yang eneng bayangkan. Eneng akan melewati masa transisi dan adaptasi yang bermacam-macam neng. Dan A'a ga mau eneng sampe stres."


"Bukankah itu kodrat seorang wanita dan ibu? Mengurus suami agar terlayani dengan baik, dan tidak akan macam macam di luar sana. Mendidik dan merawat anak anak, bukankah itu juga tugas mulia? Eneng pernah punya orang tua lengkap, tapi tidak dengan kasih sayang mereka a'a. Eneng di sekolahkan di asrama bukan hanya agar eneng jadi disiplin. Tapi hanya untuk menghindar, agar eneng tidak melihat tabiat buruk papi. Dan perjuangan mama mempertahankan rumah tangganya. Eneng trauma a'. Eneng tidak mau nanti anak kita melewati hal buruk itu. Tidak semua anak kuat menghadapi kisah perjalanan hidup seperti yang eneng jalani " Ada buliran kristal menetes di pipi mulus Gita. Sungguh ia sedih akan masa lalunya.


"Uang akan habis a'a. Tapi uang juga bisa di cari sampai setengah mati berjuang untuk mendapatkannya. Tapi tidak dengan waktu. Tidak akan bisa terulang. Eneng mau menorehkan kenangan indah untuk anak anak kita kelak a'a. Dan sungguh hanya ingin merawat mereka bersama a'a, hingga kita menua bersama." Gita terus saja mengeluarkan isi di dalam hatinya dengan jujur.


Gilang menghapus genangan air di pipi istrinya yang basah. Lalu mengecup lama pucuk kepala Gita.


"Maaf... a'a tidak memikirkan sampai ke arah situ. Jika memang keputusan eneng sudah bulat untuk resign. A'a punya satu permintaan."


"Apa...?"


"Berhentilah saat a'a sudah dapat sekrtetaris yang bisa bantu a'a di kantor. Sebab, Haikal dan Siska tidak cukup untuk menghandel pekerjaan a'a. Mana Siska sudah mau nikah juga lagi. Semoga dia ga berpikiran sama seperti eneng."


"Oke... tapi sekretarisnya harus laki laki ya a'." Senyum Gita muncul tertarik ke arah kanan pipinya.


"Iya... siap bidadariku. Sekarang kan sedang proses seleksi. Nanti kita yang akan menentukan di akhir. Siapa yang layak jadi sekretarisnya a'a. Ya... walaupun nantinya a'a akan ga se semangat sekarang pasti kerjanya."


"Kenapa?"


"Melirik istri yang sibuk kerja itu vitamin bagi jiwa a'a untuk terus bersemangat."


"Huum gombalnya kumat si a'a mah."

__ADS_1


"Eh.... serius. Malah sejak eneng magang a'a udah ketar ketir dan berharap eneng juga suka sama a'a."


"Masa...?"


"Iya. Makanya waktu Sita kasih lunch box itu, a'a ge er. Kirain dari eneng. Ternyata zonk."


"Ha... ha... a'a sukanya tebak tebakan sih. Mestinya tembak tembakan."


"Ya mana berani a'a main tembak. Si eneng mah rada cuek. Kaya ga ada rasa gitu sama a'a."


"Oh yaaa... padahal. Sejak eneng baru masuk dan di terima di kantor kak Kevin, a'a adalah target utamanya eneng."


"Hah...?"


"Iya... a'a tampan dan sopan. Mana cekatan lagi. Eneng sampai keder lho, liat kinerja a'a. Jadi wajar saja karier a'a memang lebih cepat dari yang lain."


"Muji atau ada maunya niih?"


"Bohong dong..." canda Gita pada Gilang yang sudah mengrepeh grepeh bagian kesukaannya. Ga usah di perjelas, sebab ini sedang latihan buat narasi di bulan suci. Banyak readers yang minta tolong, agar kata katanya jangan membuat traveling kan. Othor manut.


"Ga suka?"


"Pake lidah saja." Eh buseeeet. Gita emang satu darah ya sama Kevin. Ga bisa di kasih enak sedikit. Maunya enak banyak banyak.


"Hmmm... nakal." Kekeh Gilang sudah membuka tudung saji yang menangkup benda kenyal itu.


"Btw a'a. Eneng belum bilang ya."


"Apaan?"


"Eneng memang mau resign dari kantor kak Kevin. Tapi sebenarnya. Hingga eneng kuliah ke Inggris pun tentu eneng punya cita-cita sendiri." Gilang menghentikan aksinya pada dada itu.


"Emang apaan?"

__ADS_1


"Eneng sebenarnya mau buka lapangan pekerjaan untuk kaum muda mudi. Semacam UMKM gitu. Yang mau eneng danai. Misal membuka kedai kopi, atau cafe. Yang cocok di tongkrongi anak muda. Harga terjangakau, rasa bintang lima. Eneng mau menyalurkan bakat para barista yang punya kemampuan tapi ga punya modal. Paling modal awal mulai dari 300 juta. Nah, di sana eneng sebagai ownernya." Jelas Gita bersemangat.


"Emang ya... darah Mahesa itu sungguh ngalir di dalam diri eneng. Tadinya di kira sungguh sudah tidak butuh uang lagi sampe resign. Ternyata oh ternyata." Gilang mendusel pucuk kepala Gita dengan gemas.


"Boleh a'...?"


"Asal a'a tidak terbengkalai kan."


"Ya iyalah. Eneng pure hanya ingin membuka lapangan pekerjaan untuk anak muda. Kalau perlu sepanjang ruas jalan yang biasa tempat nongkrong tuh, eneng beli. Jadi sepanjang itu akan menjual aneka cemilan, kopi murmer pokoknya yang buat santai anak muda gitu deh. A'. Jelas Gita lagi.


"Jadi itu yang bikin eneng ngirit selama ini?" tanya Gilang berharap istrinya jujur.


"Ya... itu salah satunya. Eneng berusaha tidak meminta modal pada papi, kak Kevin dan kak Daren. Emeng mau mandiri. Merintis usaha eneng dari nol." Ujar Gita yakin.


"Kalau dari para sultan itu saja eneng ga butuh bantuan. Apalagi dari a'a yang hanya rakyat jelata ini." Ledek Gilang merendahkan dirinya.


"Ya dukungan a'a tuh cukup doa restu saja. Agar eneng selalu semangat. Selalu ada untuk eneng saat mumet, itu saja sudah cukup."


"Kok a'a ngerasa kaya orang ga berguna ya neng. Setelah jejer gini sama eneng."


"A'aaa... jangan tersinggung. Sama seperti cita cita a'a ingin menjadi mahasiswa di kampus itu. Begitulah rasanya, eneng juga punya cita cita" Gita mendongakkan kepalnya ke arah Gilang memastikan, apakah suaminya itu sungguh tersinggung dengan semua yanh di ucapkannya.


"Bercanda sayang. Apa sih yang ga a'a dukung buat istri tercinta. Asal eneng bahagia."


Bersambung...


Maaf ya upnya hanya mampu 1x1


Nyak ga tau apa korelasinya antara tangan dan otak nyak.


Padahal yang lagi sakit tuh tenggorokan nyak, di tumbuhi sariawan, demam tinggi juga. Mungkin dosa nyak bikin nama Baskoro jadi Baskom kaliπŸ™ˆ


Makasih suportnya ya

__ADS_1


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™


__ADS_2