CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 129 : SO SWEET


__ADS_3

Demikianlah pasangan duo G yang kesininya semakin manis melebihi gula-gula. Bahkan ternyata suami Gita itu memiliki jiwa gokil terpendam yang sangat haqiqi. Atau Gilang juga berbakat menjadi tukang sulap. Bagaimana tidak?


Ia baru selesai memasak dua kaleng sarden saja, namun cukup meresahkan jiwa istrinya.


Gita tidak hanya kenyang secara lahiriah, terlebih lebih batinnya yang bersorak sorak kesenangan. Melihat secara langsung gaya memasak Gilang yang kata katanya absurd, gombal tingkat dewa. Tak sia-sia ia memiliki ide dan permintaan pada Gilang, Sebab sungguh suaminya bahkan lebih cocok berakting di ajang stand up comedy ketimbang ikut ajang mastercshef.


"Kenyang neng...?" tanya Gilang dengan tatapan mata teduhnya kearah Gita.


"Banget..." ujarnya mengangguk-angguk.


"Masa... Perasaan banyakan eneng suapin buat a'a deh tadi." Ujar Gilang yang sejak tadi di paksanya untuk makan sepiring berdua dengan suapannya.


"Perut eneng kecil, ngisinya ga bisa banyak banyak." jawab Gita mengelus perutnya.


"Hmm... tapi nanti makan lagi ya. Biar debaynya cepat besar." Gilang ikut mengelus perut Gita.


"Iya... Tapi rasanya mau makan empek-empek a..." Ucapan Gita lembut, tapi berhasil membuat huru hara dalam hati Gilang, agak insecure jangan sampai istrinya minta di buatkan makanan itu lagi dengannya.


"Mau banget atau mau aja, sayang?" tanya lembut tak menonjolkan kecemasannya.


"Baru mau aja, belum mau banget kok." ujar Gita, tau jika suaminya mulai bingung.


"Oke... Pelan pelan kita cari ya. Pas di Bandung gimana?" tawar Gilang berharap permintaan itu bisa di tunda tentunya.


Gita menggeleng.


"AGi bilang di sini banyak ikan segar."


"Terus....?"


"Ya pasti enak kan kali bahannya premium a'."


"Tentu saja. Tapi walau bahan premium tapi yang buat ga profesional. Mungkin hasilnya mengecewakan, neng." Gilang pasang kuda-kuda donk. Untuk menghindar kemungkinan melakukan yang terjadi setelah ide Gita muncul tadi.


"Nanti kita tanya Siska, mungkin ibunya punya kenalan atauv rekomendasi di mana orang jual empek-empek yang enak di sini." Lanjut Gita pelan, menenangkan pikiran Gilang yang sempat berburuk sangka.


"Alhamdulilah. AGi kira eneng mau a'a yang masak lagi buat eneng."


"Emang aGi bisa buatnya?" ungkapan syukur Gilang justru membuka pikiran Gitq yang menatap lekat manik mata suaminya itu.


"Eh... Mana bisa aGi buat makanan begituan. Makannya aja jarang." Akuinya jujur.


Gita menangkup pipi Gilang dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Makanya... Kita minta bantuan Siska aja." ujar Gita dengan gemas.


Cup.


Kening Gita berhasil di curi kecup oleh Gilang.


"Ayo... Kesebelah." Ajak Gilang tak mau menunda lama pencarian kidaman selanjutnya.


"Bentar... Masih mager a..." rengek Gita manja.


"Iya... Sayang. Mau di gendong ke kamar?" goda Gilang, sebab keduanya memang masih berada di meja makan sejak tadi.


"AGi... Eneng cuma hamil. Bukan cacat atau lumpuh ya. Menjaga diri itu wajib, tapi ga gerak juga ga baik lho." Protes Gita mendirikan dirinya, bangkit untuk ke tengah rumah.


"Iya sayangnya A'a." memegang tangan Gita, mereka menuju ruang tengah. Tampak Mirna baru terbangun dari tidur siangnya yang terkalap dan khilaf di tengah rumah Kevin tersebut.


"Ah... Maaf. Aku ketiduran." Mirna malu-malu saat baru ketahuan ia ketiduran.


"Ga apa-apa Mir, tidur saja lagi." Jawab Gilang.


"Enggak ah... sudah terkalap tadi. Aku permisi ya kak." Jawab Mirna berdiri ingin kembali ke rumah sebelah.


"Eh... Sebentar dulu Mir. Mau tanya sedikit." Cergah Gita cepat.


"Di sini ada jual empek-empek yang enak ga?" tanya Gita penuh harap.


"Bukannya mau sombong sih kak. Kata orang empek-empek buatan ibu itu, terenak di desa ini. Karena hajatan kak Siska saja kami berhenti produksi, tapi kalo pemasaran tetap terus di lakukan oleh pengelola UP2K Desa ini." Jelas Mirna yang membuat Gita agak belum paham.


"Gimana?"


"Ibu paling di andalkan untuk membuat empek-empek di desa ini kak. Tetapi, di desa ini keahlian yang dimiliki tidak selalu di dominasi oleh pihak pribadi. Jadi di buat semacam kelompok gitu kak. Kelompok itu tidak hanya dalam saat membuatnya, tapi juga ada tempat untuk menjualnya." Jelas Mirna panjang lebar.


"Oh gitu? Jadi intinya di sini ada yang jual empek empek donk?" Gita menyingkat pembicaraan Mirna yang panjang tadi.


"Iya... Kalau masih ada stoknya." Jawab Mirna singkat kali ini.


"Dimana belinya Mir?" tanya Gilang siap akan berburu makanan yang di inginkan istrinya.


"Ya di kios UP2K Desa."


"Bisa kasih tau di mana tempatnya?" buru Gita.


"Eehhmm... Dekat balai desa. Kak Gilang tau kan?" tanya Mirna.

__ADS_1


Gita mengalihkan tatapannya dari Mirna ke Gilang. Berharap jawaban Gilang adalah iya.


"Oh... Dekat rumah bu bidan kemarin?" Gilang memastikan.


"Iya kak, di tengah situ ada toserba milik desa, yang di kelola secara tertib oleh ibu ibu PKK desa." Mirna selalu dengan detailnya menjelaskan.


"AGi tau?"


"Banget lah Neng."


"Alhamdulilah... A'a mau carikan buat eneng?" tanya Gita.


"Ya iya donk. Masa tinggal beli aja ga mau. Masak buat eneng aja, a'a rela."


"Unch... Unch... aGi terdabest pokoknya." Peluk Gita kesenangan.


" Ntar agak sorean aja a' ke sananya. Sekarang masih panas. Habis makan juga. A'a istirahat dulu." Gita walau hamil, hormonnya masih bisa di ajak berkompromi rupanya. Masih sangat peduli dengan kondisi suami yang mungkin lelah.


"Alhamdulilah." Peluk Gilang pada tubuh Gita yang seolah selalu mengandung magnet. Selalu nyaman untuk di peluk peluk.


Ga tau kenapa, Gita dan Gilang yang pelukan. Kok Mirna dan para pembaca lainnya yang ser-seran, ikut bahagia dan berbunga-bunga setiap melihat kemesraan pasangan double G ini.


"Maaf kak. Mirna ke sebelah dulu ya." Mirna tak sanggup lama melihat keintens-an dua makhluk di depannya.


"Oh... Iya. Terima kasih infonya ya Mir." Jawab Gita ceria.


Keduanya menatap punggung Mirna yang sudah semakin jauh dari pandangan mereka, lalu kembali duduk di sofa dengan posisi Gilang rebah di atas paha Gita.


Dengan gerakan super lembut, Gita membelai rambut Gilang.


"A'... Makasih untuk hari ini ya. Eneng sangat bahagia, sudah di buatkan makanan lezat sekaligus gokil hari ini." Ucap Gita sungguh-sungguh.


"Neng... Akhirnya cita-cita a'a tercapai."


"Bukannya a'a belum selesai kuliah S2... Kok sudah tercapai aja cita-citanya?" heran Gita.


"Cita-cita aGi... Bukan hanya selesai kuliah neng."


"Terus...?"


"Masak untuk istri yang sedang ngidam itu adalah cita-cita aGi, neng. Lama terpendam." Jawab Gilang tak kalah sungguh menatap istrinya.


"Iih... aGi selalu so sweet deh. Makin sayang a'a." Puji Gita.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2