
Muna dan Gita makin asyik saja menghabiskan dua piring buahan segar tadi, dengan lahapnya. Hingga terdengar lagi suara ketukan dari luar.
"Masuk..." jawab Muna dengan memegang perut yang terasa penuh terisi.
"Permisi bu, mau mengantar jus." Ujar seorang lelaki cleaning servis tadi kembali membawa dua buah jus kiwi dan dan jambu yang ia letakan di sebuah nampan.
"Hah... siapa yang pesan?" tanya Muna agak bingung.
"Pak Gilang bu, katanya untuk bu Gita dan Bu Mona yang sedang ada di ruangan ini." Jawabnya sambil meletakan nampan tesebut di atas meja sofa di depan Muna dan Gita.
"Oh, iya. Terima kasih ya.Joko." Jawab Muna sambil membaca name tag di dada kanan lelaki yang bekerja di bagian cleaning servis tersebut.
Ya, sejak Kevin menjalin asmara dengan Muna. Sejak itu iapun tidak lagi menerima wanita single atau pun janda sebagai petugas kebersihan. Entah trauma atau tak mau terulang kisah. Pokoknya ia hanya menerima kaum adam saja menjadi petugas kebersihannya. Bisa saja Kevin takut, jika yang di bersihkan bukan hanya ruang kerja dan kantor dan sekitarnya. Melainkan seluruh sisi ruamng hatinya. Persisi seperti Muna yang bahkan kini telah berhasil menguasai hati dan seluruh kehidupannya. Ah Muna yang sangat fenomenal.
"Iya terima kasih kembali bu, saya permisi." Pamit Joko sopan dan berlalu meninggalkan kedua orang yang kerjaannya hanya ngobrol dan makan saja di ruangan itu.
"Kamu minta Gilang pesankan jus ya Git?" tanya Muna yang mulai ngiler melihat jus kiwi, cantik dengan sajian potongan buah tersebut di sisi gelasnya.
"Ga... aku malah ga tau sekarang apa dia masih di pabrik atau udah balik." Jawab Gita mengangkat jus jambu.
"Mamam Ay, mau yang ini?" tanyanya lagi.
"Ga ah, aku mau yang kiwi saja." Ujar Muna segera meraih gelas itu, dan siap menyeruputnya.
"Eh, tunggu. Ku pastikan ini beneran dari aGi dulu mam. Ingat kejahatan terjadi karena adanya kesempatan, waspadalah." Entahlah tiba-tiba Gita berhati-hati dalam hal demikian. Bukan so atau apa. hanya tidak ada yang bisa di kira saja, segala sesuatu di dunia ini, begitu pikir Gita.
"Hah, memangnya ada yang mau jahatin kita?" tanya Muna meragu.
Namun Gita tak berminat menjawabnya, lebih baik menghubungi suaminya melalui gawai.
"A... aGi di mana?" tanya Gita lembut.
"Di ruang sebelah neng." Jawab Gilang santun.
__ADS_1
"Iih... kapan datang?"
"Udah 30 menit yang lalu."
"A'a ada pesan jus buat eneng sama mamam Ay?"
"Iya... A'a juga ngejus jeruk ni di sini."
"Tumben...?"
"Iya... tadi pas pulang dari pabrik lewat pinggir jalan gitu. Ada orang pada ngantri di salah satu penjual buahan segar. Ya a'a coba beli lah. Kebetulan cuaca panas juga." Jawabnya
"Oh... jadi ini jus ga campur yang aneh aneh kan a'..."
"Campur rindu dan kangen sama yang mau dibelikan, atuh neng." kekeh Gilang yang selalu manis pada istrinya itu.
"Ciiaaah, mulai gombal deh. Ya udah makasih ya a..." Gita senyum sendiri.
"Iya... siap paksu." Ujar Gita yang kemudian memutuskan panggilan telepon tersebut.
Dan tepat saat Gita menoleh ke arah Muna ingin menyilahkannya untuk meminumnya. Ternyata gelas jus kiwi itu sudah separuh saja di minum oleh Muna.
"Haus bu..." olok Gita takjub sebab jus itu sungguh hanya sisa 50% dalam gelasnya.
"Kelamaan nungguin kalian ngegombal, keburu hilang dinginnya. Di jalan aja udah mencair esnya. Tambah lagi kalian pake acara rayu merayu di telepon, ke banyakan birokrasi." Senyum sinis Muna di buat buat ke arah Gita.
"Ha... ha... ya kan harus di pastikan dulu mam, itu bener dari a'a atau tidak." Gita masih membela dirinya yang selalu berhati-hati.
“Ya udah deh, iya. Bener aja begitu. Lebih baik waspada dari pada nyesel belakangan.” Muna kemudian setuju saja dengan reaksi Gita yang walau berlebihan namun patut di tiru.
“Git… setelah kenyang gini. Bawaannya ngantuk. Aku pulang duluan ya. Keburu basah aja ntar ini dada. Mau transfer buat de Naya dulu.” Pamit Muna yang sesukanya saja, ke kantor jam berapa dan pulang pukul berapa. Seolah ke perusahaan itu hanya tempat ia memindahkan tempat ngobrol saja.
“Iya… oke deh busuy.” Kekeh Gita mengiringi kepulangan Muna. Dan segera mengetuk pintu ruangan wakil CEO.
__ADS_1
“Assalamualaikum, aGi.” Sapanya riang seolah rindu itu selalu setinggi langit pada suami tercinta, padahal baru beberapa jam tak saling melihat satu sama lain.
“Walaikumsallam nengGi. Ceria sekali, ada apa?” Gilang berdiri menyambut kedatangan Gita, dan tentu saja pinggang Gita lah, tempat ter the best untuk meraih kesayangannya tersebut.
“A’a… eneng tuh. Di kirimin jus tanpa di minta aja uadah meleleh lho a’. Apalagi di kasih yang lain.” Manja Gita
kumat saat sudah berada di atas pangkuan Gilang.
“Emang mau minta apa dari a’a, heem.” Bibir Gilang nempel di kening Gita. (Oh Tuhan, dunia memang milik mereka berdua saja ya gaes. Hati nyak aja nyut nyutan ngebayanginnya.Apa lagi Gita. Pasti hatinya juga senat senut punya suami perhatian, manis juga tampan seperti Gilang ini)
“Mau minta persetujuannya a’a untuk terima Gibran saja jadi pengganti eneng nantinya.” Gita langsung pada tujuan utamanya, keruangan Gilang sekarang.
“Ish.. emangnya a’a teh punya hak kitu?”
“Iya a’a. Tadi mamam Ay udah bilang. Kalo kak Kevin dan dia udah meruuk satu nama. Yaitu Gibran. Walau Melani juga ngumpini. Tapi finally, semua tergantung a’a. Sebab nantinya aGi yang akan banyak menghabiskan waktu bersama pengganti eneng itu.” Jawab Gita seadanya.
“Kalau Melani saja gimana neng?” pancing Gilang.
“Asal jamin aja ga selingkuh, bisa?”Gita balik bertanya.
“Insya Allah.” Jawab Gilang.
“Belum pasti itu a’…” rengut Gita melerai pelukan suaminya, dan memilih duduk di sebelah Gilang saja, siap siap
akan masuk dalam mode merajuk dong.
“AGi teh manusia neng. Mana berani jamin ga akan selingkuh, berusaha itu pasti dan selalu. Tapi di depan besok akan terjadi apa, kan. Siapa yang tau.”
“Nah… justru itu. Ga usah nantang deh. Fix, terima Gibran saja ya, a’…” Gita masih merengek.
Gilang tampak berpikir. Satu sisi ia yakin dengan hatinya. Tak aka nada niat dan cela sedikitpun dalam hatinya untuk mengkhianati wanita pujaannya tersebut. Tetapi, jangankan Gilang. Nyak othor saja bakalan si santet online oleh readers kalo berani beraninya meletakkan krikil saja dalam rumah tangga duo G kesayangan semua ini. Tapi, untuk membuka jalinan silaturahmi kembali dengan Gilang Sudrajat pun, sesungguhnya membuat hati Gilang sedikit pilu.
Bersambung….
__ADS_1