
Pagi datang di tandai terbitnya senyum mentari yang mulai menjalar hangat siap akan melakukan tugasnya di sepanjang hari. Kali ini Gita dan Gilang mengalah untuk lagi, sarapan di rumah ibu lalu singgah sebentar di rumah mereka untuk berganti dengan paakaian ke kantor.
“Lembur Lang… basah?” sapa Kevin yang ternyata sudah datang terlebih dahului dari pasangan pengantin baru tersebut.
“Eh… pak bos sudah datang. Maaf, pa. Semalam nginap di rumah ibu. Jadi agak terlambat.” Jawab Gilang.
Kevin melihat arloji di pergelangan tangannya.
“Kalian tidak terlambat, sepertinya memang saya yang kepagian datang.” Jawab Kevin. Sebab penunjuk waktu memang belum menunjukkan pukul 8 pagi.
“Kak Muna mana…?” tanya Gita mengalihkan topic.
“Sudah di ruang rapat. Ia mau cepat pulang, makanya cepat datang.” Jawab Kevin sembari berjalan menuju ruang rapat mereka.
“Pagii…” Sapa Gita agak tak enak sebab Muna benar sudah berkutat dengan berkas pelamar kemarin.” Muna tampak sibuk mempelajari dan akan menggunakan seluruh instingnya untuk memilih para pegawai di kantor suaminya tersebut.
“Haii… pagi Git.” Jawab Muna serius.
“Pagi sekali kak…” Sapa Gita lagi.
“Iya… Naya sebentar saja tadi ngASInya. Terus si Ay, minta makan di temani makan sama engkonya saja katanya. Ya… mending cepat ke kantor kan. Supaya kita cepat keluar Git.” Ujar Muna kembali.
“Kita mau jalan kak?” tanya Gita pada Muna, namun arah matanya ke pada Kevin, yang hanya menggendikkan bahunya.
__ADS_1
“Iya… kita belum fitting baju tuk kondangan Siska kan. Ibu mertua dan teh Arum ikutkan. Ajak sekalian ya Git. Nanti kita di antar Tama aja. Ga usah bawa suami.” Delik Muna kea rah Kevin dan Gilang bergantian.
“Boleh a’…?” tanya Gita pada Gilang tanpa malu, minta ijin bahkan di depan Kevin.
“Ya pasti boleh lah, sama ibu dewan komisaris lhoo.” Kevin sudah duluan menyahuti permintaan ijin Gita tadi.
“Iya boleh neng.” Jawab Gilang tetap merasa harus menjawab permintaan istrinya tadi.
Gilang, Kevin dan Muna pun kembali duduk di kursi masing-masing untuk kemudian membahas pelamar yang akan di terima, sembari menunggu ke datangan Danu sebagai kepala bagian personalia. Yang tak kalah memiliki peran besar dalam tim tersebut. Kecuali Gita yang memang tidak masuk dalam tim itu, maka ia pun keluar untuk berada pada ruang sekrearis yang tak lama lagi akan ia tinggalkan. Atas keinginanya sendiri.
Walau Gita tak termasuk dalam tim itu, bukan berarti ia tak memantau CV para pelamar. Sebab, ia merasa perlu untuk memilih siapa yang akan menggantikan tugasnya untuk nantinya mendampingi sang suami kemanapun perginya, walau hanya berstatus sebagai pegawai magang.
“Kemarin aku saya punya 10 nama. Silahkan di pilih lagi akan masuk pada bagian mana saja, sesuaikan sengan ijazah dan ketrampilan yang mereka cantumkan dalam CV.” Tegas MMuna ,meyerahkan catatnnya ke tengah peserta rapat.
Gilang segera mengambil catatan itu, sebab sebelumnya catatan dari Kevin pun sudah berada di tangannya.
“Itu… yang namanya Gibran Sudrajat nilainya tertinggikan. Lalu performanya juga bagus, sepertinya ia bisa jadi kandidat pengganti posisi Gita.” Ujar Kevin tanpa basa basi.
“Iya… tapi Melani juga nilainya tidak jelek, apalagi bahasa Inggrisnya bagus. Kami sempat bertanya jawab dengan bahasa asing tersebut. Dan keren… dia oke.” Muna tak mau kalah mengajukan penilaiannya.
“Jangan kasih peluang untuk wanita ada di posisi itu, bu.” Kevin mengingatkan agar meletakan kaum Adam saja di posisi sektretaris untuk Gilang nantinya.
“Oh… wajib ya?” Muna memandang ke arah Kevin.
__ADS_1
“Memangnya bu Monalisa saja yang ingin menjaga keutuhan rumah tangga. Ini kantor milik kita ya, jadi kita bisa bebas bukan menentukan hal apapun yang sekira tak beresiko di kemudian hari.” Lanjut Kevin.
Sedangkan Gilang dan Danu hanya diam saja, pura pura sibuk saja melihat berkas di depan mereka. Ruang rapat seperti di huni oleh pasangan suami isttri itu saja. Nampaknya lupa jika di sana juga ada orang lain yang bisa di mintai pendapat. Dan lucunya mereka menggunakan bahasa formal, tetapi isinya justru masalah rumah tangga yang di bawa sebagai pertimbangan.
Rapat itu selesai setelah 4 jam berembuk dan tetap belum mendapat kesepakatan untuk calon penganti posisi Gita tadi. Muna ingin menunjukkan ke profesionalan, tanpa memikirkan gender untuk sebuah jabatan, yang nantinya memang akan banyak menghabiskan waktu bersama Gilang.
“Mae… kenapa seolah memberi peluang untuk Gilang dekat dengan cewek.” Bahas Kevin saat hanya mereka berdua saja dalam ruangannya. Menunggu makan siang di antar untuk mereka.
“Bukan peluang yank… ya berilah kesempatan untuk wanita juga bisa maju, juga memberi ruang percaya bahwa tidak semua wanita berhati jahat. Tidak semua sekretaris wanita jadi pelakor.” Bela Muna pada alasannya.
“Huh… ngomong itu enak Mae. Karena Mae ga pernah ada di posisi abang, waktu kita jauhan bahkan saat itu sekretaris abang adalah Belia. Oke, tak semua wanita berhati seperti Belia yang ingin menggoda suami orang. Tapi pa semua suami sekuat abang menahan hasrat kemanusiaan, unyil kucing…?” Kevin tak kalah membela pada dirinya.
Muna terdiam, membenarkan perndapat juga alasan suaminya.
“Perusahan ini kita yang punya, bebas donk kita mau terima siapa dan pilih siapa saja yang akan bekerja dengan kita di sini. Sebagai pemimpin kita tak hanya memikirkan kesejahteraan secara finansial karyawan kita, tapi juga hal hal yang memungkinkan perbuatan dan tindakkan yang meyalahi aturan juga harus kita minimalkan, istriku sayang.” Papar Kevin yang kini sudah sangat semakin dewasa juga bijaksana. Bahkan dapat menyampaikannya dengan kalimat yang santun dan penyampaian yang sangat baik.
Terutama pada seorang Muna yang keras kepala, terlebih dalam urusan pekerjaan. Muna mana bisa di ajak main main. Tapi entah dengan cara yang Kevin lakukan sekarang. Sebab, kini mereka tak lagi duduk berjejer, melainkan bertumpuk di atas sebuah sofa. Tentu saja itu ulah Kevin, yang sudah memangku Muna ke atasnya. Dan mengendus di area leher istri tercintanya itu.
“Heeii… kumbang. Jangan di isep isep lagi. Malu.” Mula menjauhkan lehernya, takut tersengat oleh suami mesumnya itu.
Dan bersama dengan itu, pintu ruangan Kevin terbuka. Ada Gita dan Gilang yang memang masuk tanpa mengetuk pintu atasan mereka tersebut.
“Wooy… di larang mesum di kantor, tau…” Kekeh Gita meledek Kevin dan Muna yang kepergok sedang berpangku pangku, seperti taka da kursi lain untuk duduk saja.
__ADS_1
“Eh… di sini saya bosnya ya.” Bahak Kevin menahan malunya.
Bersambung…