CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 208 : CANGKOK GINJAL


__ADS_3

Gilang sudah mampu berperang dengan hatinya untuk yakin bersedia menolong kakek Sudrajat yang walaupun pernah berbuat salah bahkan kejam untuknya, ibu juga kakak perempuannya. Bukankah ibunya sudah terlihat menyerah dan memilih memaafkan sang kakek. Bukankah Arum tidak ambil pusing dengan keadaan itu, lantas juga terlihat ingin berdamai saja dengan masa lalu. Juga Gita, wanita hebat di belakangnya yang selalu memberi dukungan untuknya agar tidak memantik api dendam kesumat dalam hatinya.


“Astagafirullahaladzim … Astagafirullahaladzim … Astagafirullahaladzim .”Dzikir Gilang mengakhiri sholat malamnya. Untuk pertama kalinya Gilang membasahi sajadahnya untuk memohon ampun pada sang pencipta. Atas kelalilamnya, yang begitu sulit untuk memaafkan masa lalu dan semua orangyang pernah mendzoliminya.


Sehingga permohonan maaf Gilang tidak hanya pencitraannya pada sang pencipta. Melainkan setelahnya ia mendapat kekuatan baru untuk dengan sungguh mengungkapkan rasa bersalahnya yang pernah ingin memanjakan rasa bencinya terhadap kakek Sudrajat. Itu ia implementasikan dengan duduk manis di hadapan dokter yang menangani penyakit kakek Sudrajat.


“Apa solusinya ?” Gilang mengulang pertanyaannya. Untuk mengetahui hal apa yang dapat membuat kakeknya sembuh. Mungkin benar, Tuhan sedang ingin memberinya kesempatan untuk berbakti pada kakeknya.


“Bisa dengan tranplantasi ginjal alias pencangkokan ginjal. Ini merupakan solusi untuk penderita gagal ginjal seperti pasien atas nama Sudrajat ini.” Jawab dokter itu dengan tatapan pasti kea rah Gilang.


Seketika nyali Gilang menciut kembali. Bukankah semalam ia sudah bersujud di bentangan sajdah. Untuk memohon ampun atas kemurkaannya. Dan berjanji pada Tuhan akan membatu kakeknya dengan maksimal. Gilang kira bantuannya hanya akan menguras keuangannya. Bukankah perekonimian keluarganya sudah mapan. Bagi Gilang rejeki bisa datang dari mana saja. Sehingga, mau habis berapa rupiah pun untuk pengobatan kakeknya nanti, ia akan belajar ikhlas. Dan akan berprasangak baik saja, bahwa kemudian Allah akan menggantikan semuanya jauh lebih indah. Tapi bagaimana saat dokter menyarankan untuk kakek ini melakukan pencangkokkan ginjal. Bukankah itu hanya bisa di lakukan oleh orang yang memiliki pertalian darah. Tuhan ingin apa sesungguhnya pada hidup Gilang.


“Apa efeknya dokter?” basa basi Gilang bertanya, agar tidak terlihat resah dengan solusi itu.


“Efek pendonor atau penerima?” dokter balik bertanya.


“Untuk penerima. Komplikasi sering terjadi selama proses operasi berlangsung. Pendarahan, infeksi, gangguan penyembuhan pada bekas luka operasi, ganggunan sirkulasi pada ginjal yang di transplantasikan berupa penurunan trombosit itu pasti. Dan bagi pendonorkemungkinan yang terjadi adalah hioertensi, gagal ginjal, infeksi, pendarahan juga kematian.” Astaga kenapa ini begitu terdengar meyeramkan. Mungkinkah Gilang seberani itu untuk berkorban pada sang kakek.

__ADS_1


Bagaimana keadaan suasana hati Gilang saat ini. Belum 24 jam ia bertekad bulat akan membantu sang kakek. Tetapi ia kini seolah di tantang mempertaruhkan nyawanya untuk seseorang yang kemarin masih ia benci. Wajarlah Gilang goyah. Bukankah ia pun ingin memiliki masa depan bersama anak dan istrinya dalam waktu yang panjang.


Gita memegang tangan Gilang di bawah meja. Ia tau bagaimana perasaan suaminya. Gilang baik, bahkan sangat baik. Tapi tidak harus di berikan tantangan seberat ini juga untuk melanjutkan hidupnya bukan.


“Dokter … apakah di rumah sakit ini bisa melakukan hal itu. Eh … maksud saya, apakah di sini ada semacam menjual organ tersebut?” Gita cerdas, tidak langsung baper seperti Gilang yang nyalinya menciut. Merasa dia memiliki garis keturunan langsung dengan kakek Sudrajat, tentu saja ia merasa jika ginjalnya terancam sekarang.


“Hum … sayangnya di rumah sakit ini kami tidak memiliki alat secanggih itu. Juga tidak pernah memiliki stok organ. Ini hanya rumah sakit umum daerah. Yang segla sarana prasaran juga fasilitasnya terbatas.” Jawab dokter itu jujur.


“Oh ….” Gita mengangguk pelan.


“Tadi … kalian bertanya tentang solusi untuk menyembuhkan penyakit pasien. Tetapi bukan berarti kami yang bisa melakukan tindakan tersebut. Namun, jika melihat dari segi usia dan kondisi pasien. Maaf kami bukan Tuhan. Kemungkinan untuk keberhasilan pencangkokan itu sangat sedikit sekali. Beliau bisa menjalankan proses hemodialisa saja sebenarnya sudah cukup untuk bertahan hidup.” Urai dokter itu kembali.


“Ya … kita maksimalkan perawatan saja. Kita stabilkan tekanan darah, gula dara, HBnya. Dan rutin menjalankan cuci darah. Kiranya itu bisa membuat kondisinya lebih baik dari sekarang.” Lanjut dokter.


“Selain gagal ginjal, apakah beliau mengidap penyakit berbahaya lainya. Seperti jantung atau diabetes?” tanya Gilang ingin banyak tau tentang kondisi sang kakek.


“Menurut pemeriksaan. Tidak. Beliau hanya pure mengidap penyakit gagal ginjal saja. Arinya dalam hal minum masih tidak di batasi, dan untuk makanan tidak ada yang perlu di hindari. Yang pasti pengelolaan sters saja. Pasien seusia beliau tentu sudah tidak pantas di ajak banyak berpikir yang berat-berat kan. Usahakan memberikan informasi dan kabar yang baik-baik saja di usia senjanya.” Dokter itu mengurai panjkang dan lebar.

__ADS_1


“Maaf … saya kembali pada masalah cangkok ginjal tadi, dokter. Jika itu missal akan kami lakukan. Artinya bisa di rumah sakit lain. Lalu apakah kakek kami mampu dan bisa di pindahkan tempat perawatannya?” tanya Gita yang ingin mendapatkan info sedetail mungkin.


“Cangkok ginjal itu tidak semudah proses operasi Caesar, yang kapan bulannya sampai maka bisa di eksekusi dengan cepat. Baik pendonor atau penerima harus di uji tingkat kesiapannya untuk saling memberi dan menerima. Banyak rangkaian tes yangharus di lewati. Untuk kesiapan pasien sekarang, tentu tidak bisa di lakukan jika sedang dalam kondisi lemah seperti sekarang. Beliau harus kita buat kuat dan sembuh dulu dari keadaanya yang sekarang.” Dokter tetap dengan sabar memberikan penjelasannya untuk Gita dan Gilang.


“Baiklah … berarti kita akan tetap rawat kakek di sini terlebih dahulu hingga beliau sehat.”Ulang Gita sambil mengangguk-amgguk.


“That right.”


“Satu lagi dokter.” Lagi-lagi Gita semacam haus akan informasi.


“Ya silahkan. Sepuluh lagi juga boleh.” Dokter berusaha untuk bercanda.


“Itu soal obat yang di gunakan untuk kakek. Apakah boleh kami minta dokter resepkan obat yang benar paten. Baik ituobatnya, vutaminya, injeksinya ya apapun lah itu. Agar proses pemulihannya, mungkin bisa lebih cepat.” Pinta Gita tanpa permisi dan peduli dengan tanggapan Gilang yang memiliki kakek itu sendiri.


“Tentu. Itu akan kami maksimalkan. Mengingat pasien ini sejak awal juga bukan pasien yang membayar lewat jalur BPJS. Sehingga memang kami berikan layanan yangdi luar standar. Asal kuat dananya saja.” Kekeh dokter kemudian sambil melirik arlojinya. Mungkin di tempat lain ia sudah di tunggu untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Oke baik dokter, terima kasih atas waktu dan penjelasannya. Maaf banyak menyita waktunya.”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2