
Sesampai di rumah Gilang sudah tidak sabar ingin segera melu mat organ pencernaan istrinya. Karena sejak tadi ia sudah ingin menerkam, mengigit dan menjelajah rongga mulut Gita. Gemesh.
Tapi masih menjaga kewarasam, bahwa saat itu mereka masih di rumah ibu. Gilang takut ciumannya nyasar, bablas dan makin dalam yang tentu akan meminta lebih.
Bukan tak boleh, tapi mereka sudah bersepakat akan menjaga sikap saat di rumah ibu. Untuk menghindari kecemburuan terhadap dua janda di rumah tersebut. Agar tidak terulang kasus beberapa minggu yang lalu.
Gilang ingin segera memberikan apresiasi pada wanitanya. Wanita yang memiliki ide cemerlang untuk memajukan usaha kakaknya. Bukankah jika penghasilan sang kakak lebih banyak juga akan mengurangi nominal yang akan Gilang berikan pada ibu juga kakak perempuan yang masih menjadi tanggung jawabnya itu.
"Iih... a'a. Pintu rumah hampir ga sempat di kunci lhi. kaya eneng mau kabur aja."
"Dari tadi A'a udah lama nahan neng. Mau kiss kissan di mobil, trauma sama petugas ketertiban. Malu kan kalo kita di tilang, keluar berita di temukan pasangan mesum, yang hanya sempat menepikan mobil untuk bercinta di pinggir jalan." Papar Gilang yang sudah melepas ciumannya. Untum memastikan rumah mereka telah terkunci.
Keduanya langsung menuju kamar untuk membersihkan tubuh mereka dan akan berganti dengan pakaian tidur.
"Ga... ga usah di pake. Besok habis sholat subuh aja bajunya di pake." Gilang menghentikan tangan Gita yang akan mengambil piyama tidurnya.
"Oh Tuhan, sebegini mudahnya kah menambah dosa."
"Kok dosa?"
"Ya kalo ga patuh pada perintah suami dosa bukan sih?"
"Oh ya tentu saja."
"Tapi masa iya, eneng harus polosan sampai pagi demi patuh pada suami?"
"Nanti a'a yang akan jadi selimutmu sampai pagi sayang."
"Patuh sih, tapi rentan masuk angin."
"Ga akan masuk angin, hanya masuk air sayangku, cintaku, bidadariku." Gendongnya pada tubuh Gita dan meletakan dengan pelan di atas medan perang mereka, apalagi kalau bukan ranjang panas sang wakil CEO.
"Ga usah di rayu rayu gitu a..., eneng juga udah candu kali di ubeg ubeg sama suami." Kekeh Gita malu.
__ADS_1
"Haiiiisss... eneng makin hari makin bikin gemesh deh. Coba pimpin permainan malam ini. A'a mau menilai dari bawah." Tawar Gilang tak jelas.
"A'a apaaan sih." Wajah Gita memerah, malu dengan ajakan suami. Jangan lupa mereka pemula ya. Pecah perawan dan bujang saja baru bulan lalu di Swiss jadi wajar saja mereka belum tau dan belum pernah memcoba gaya women on top. Ga kaya Muna juga readersku sekalian.
Heeeiii kenapa malu, bilang saja mau.
Wooow... Gita mirip penunggang kuda di atas tubuh suaminya. Awalnya saja tangan Gilang mengarahkan dengan dua tangan di bamper belakang Gita agar tubuh itu bergerak atas bawah, ala menumbuk padi. Tapi selanjutnya, Gita mahir mengerakkan tubuhnya sesuai naluri. Hasilnya Gilang hanya merem melek menikmati tiap hentakan yang berasal dari serangan Gita.
Oh nikmatnya.
Gita ngos ngosan, sudah basah juga nampaknya. Mana Gilang tega melihat perjuangan Gita mencari pahala lewat pelayanan prima untuk suaminya. Walaupun sesungguhnya dari tadi Gilang menahan saja hasratnya untuk segera muntah. Tapi, ia tak mau mengeluarkannya saat Gita di atas. Ia ingin Gita segera hamil, jadi logikanya. Memang ia lah yang di atas, agar tembakannya lebih jitu tepat di wadahnya.
Sepersekian menit, posisi sudah berganti. Tubuh Gita terkungkung sempurna di bawah tubuh Gilang yang melengkung siap menghantam dinding rahim istrinya. Selalu ada terselip doa yang Gilang lapalkan dalam hatinya agar usaha mereka tidak sia-sia.
Tubuh keduanya mengelepar, tak dapat di bohongi. Lagi lagi mereka sampai finish bersamaan.
Gilang selalu dengan lembut, membersihkan sisa sisa muntahannya yang celemotan di pipi si iting-iting. Gita mana pernah ia ijinkan bangun untuk bersih bersih setelah mereka bercinta. Selalu Gilang yang melakukan untuknya. Lalu memasangkan pakaian untuk Gita. Mana mungkin Gilang membiarkan Gita tidur polos sampai pagi.
Tubuh Gilang serong menyamping menghadap Gita. Dengan lembut dan lama kening itu di kecupnya sayang.
"Buat apa?"
"Semuanya."
"Hm... sama sama."
"Makasih udah kasih saran yang baik untuk teh Arum."
"Maaf a'... jika itu lancang. Kita bahkan baru akan sebulan menikah tapi eneng udah berani ngatur gitu."
"Itu bukan ngatur sayang. Itu jalan keberkahan. Kenapa a'a ga kepikiran gitu sejak lama."
"Alhamdulilah jika ide tadi di terima. Dan semoga sukses dengan cara itu."
__ADS_1
"Iya neng Amin."
"Maaf a' tanya."
"Tentang apa? pake minta maaf segala, eneng teh."
"Biasanya gaji a'a ngasihnya berapa buat ibu?"
"Sejak baru kerja, gaji pokok a'a semua a' kasih buat ibu. Paling ibu yang kasih ya 500rb lah buat pegangan dan bensin a'a."
"Hah? cukup?"
"Buat di pegang aja neng. A'a kan ga boros. Ga ngeroko juga. Makan 3 kali sehari ya di rumah. Pakaian dan lain lain, semua ibu yang belikan. Jadi, a'a terima beres semua." Gita kaget seirit itukah suaminya hidup di masa lalu. uang lima ratus ribu, bukankah hanya untuk jajannya beberapa hari saja.
"Terus a'a bisa nabung beli rumah ? bayar cicilan asuransi? Nabung buat beli mobil?" tanya Gita lebih detail.
"Begini... uang yang a'a serahkan pada ibu itu dengan jelas kemana posnya. Ya untuk makan sehari hari juga sisanya di tabung. Tapi kalo bayar asuransi dan tabungan a'a yang lain. A'a suka kerja lemburkan. Itu tidak termasuk untuk ibu. Hanya gaji pokok. Waktu jadi sekretaris dan aspri pak bos. Beliau ga pelit buat kasih tambahan yang besar buat a'a. Belum lagi kalo a'a berhasil nego dengan klien tanpa pak bos. Sudah pasti rek a'a langsung bengkak. Dapat P dari pak bos, juga dari klien yang kadang sangat senang bekerja sama dengan perusahaan pak bos."
"Hmm... jadi a'a banyak dapat komisi. Dan itu bahkan lebih besar dari gajih pokok yang semuanya di kasih buat ibu." tukas Gita memastikan.
"Iya neng. Tapi, Gilang selalu bilang kok ke ibu. Kalo Gilang ada dapat uang tambahan. Tapi, ibu ga pernah tanya berapa, dan ga pernah meminta bagiannya juga. Sebab, ibu bilang gajih pokok itu saja sudah cukup untuk hidup kami sebulan." Terang Gilang.
"Nah ... sekarang a'a udah punya istri nih, gimana pembagiannya? Sekarang jabatan a'a wakil CEO. Gajih pokok kalo ga salah 15 atau 17 juta sih? tuh nanti gimana ngasih buat ibu dan eneng?" Gita punya penghasilan sendiri karena bekerja di perusahaan yang sama. Tapi statusnya sekarang bersuami. Ia merasa penting membicarakan tentang haknya sebagai istri. Juga kewajiban Gilang sebagai suami yang harus tetap berbakti pada ibunya.
Walaupun dengan gaji Gita saja tentu cukup untuk mereka makan sehari-hari. Belum lagi rek Gita tentu isinya sudah menggunung. Tapi Gita bukan kepala keluarga. Ia hanya makmum di rumah tangganya. Gita pun tak ingin membuat suaminya dilaknati Allah hanya karena soal pembagian materi dengan orang tuanya.
Bersambung...
Heeem... halu halu dah tuh, kalian para readers tersayangnya nyak.
Lop all full pokoknya
πΉπΉββππππ
__ADS_1