CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 121 : MUNA SEDIH


__ADS_3

Sejenak kita tinggalkan pasangan halal yang baru saja menyelesaikan misi persatuan Indonesia, eh, penyatuan dua dunia. Walaupun sempat terjadi ganguan. Toh, tetap tak mempengaruhi kegiatan sesi selanjutnya pada siaran ulang.


Siska masih merasa sedikit perih. Tetapi ia menikah tidak di sebuah ballroom hotel. Juga tidak di dalam sweeTroom yang mungkin bisa memberikan layanan pengantaran sarapan. Seperti yang biasa ia lihat di drakor kesayangannya.


Lagi pula, sebelum nikah ibunya sudah sangat sering berpesan.


“Siska besok kalo sudah nikah, terutama di hari pertama setelah sudah menjadi istri. Sangat wajib hukumnya untuk melayani suami. Jadi pengantin baru itu, tidak boleh malas, apalagi bangun kesiangan. Nanti rejekinya di patok ayam. Walau badan capek setelah seharian bersanding di pelaminan. Paginya harus langsung menyiapkan sarapan. Jika di rumah banyak keluarga dan tamu. Paling tidak masaklah untuk kalian berdua, boleh makan di kamar berdua saja.” Pesan ibu Sika pada anak pertamanmya yang sudah memutuskan untuk menikah itu.


“Nanti pas makan berdua, kalo bisa bersuapan. Itu bermakna jika kalian sudah menjadi satu. Menikmati suka duka, sehat sakit di rasa bersama. Dan usahakan biji nasi jangan sampai jatuh, apalagi celemotan, itu maknanya membuang rejeki. Jadi ga usah banyak nyuapnya, asal ada masuk saja. Pelan-pelan.” Lanjut ibu Siska menasehati.


“Kemudian, sampaikan pada Asep. Sebaiknya, pagi hari pertama menjadi suami. Jangan bermalas-malasan. Bisa di mulai dengan bebersih pekarangan, sisa pesta. Itu juga bermakna hal yang tidak baik, jangan sampai orang yang mengurusnya. Sampah itu milik kalian, karena perhelatan kalian. Usahakan jangan merepotkan orang lain untuk membersihkannya.” Begitu pesan yang ibu Siska sampaikan dengan sangat detail.


Entah itu mitos atau fakta, tapi selama terdengar masuk akal dan bisa di kerjakan tentu tak masalah untuk di lakukan.


Maka benar saja, pagi itu. Asep sudah melupakan rasa remuk rejam tubuhnya setelah kerja rodi semalam. Ia sudah memegang serok dan sapu untuk pelan-pelan membersihkan sampah yang dapat ia kumpulkan agar segera terlihat rapi. Sementara Siska, sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan untuk mereka semua seisi rumah.


Sungguh hari pertama menikah yang sangat berbeda dari Muna dan Gita. Maklumlah, nikah di desa. Ya tradisi desanya juga tentu masih sangat kuat.


Dikediaman rumah Kevin di sebelah rumah keluarga Siska, sudah terdengar suara ketukan pada pintu kamar papap dan mamamnya.


"Pagi kaka Ay, tidur sama siapa sih semalam?" Peluk Muna menggendong putra sulungnya.


"Cama engkong dan nyai. Mamam cali-cali kakak ya?"


"Iya dong."


"Mamam nangis ga di tinggal kaka Ay..?"


"Nangis donk."


"Kan ada de Naya, Mam?"


"Mana...? Naya juga ga bobo sama mamam." Curhat Muna meladeni anak nya yang comel itu.


"Hah... de Naya mana mam?"tanya Aydan yang baru sadar Annaya juga tak bersama kedua orang tuanmya.


"Sama bunda Laras." Rengut Muna sedih.


Cup.

__ADS_1


Pipi Muna di cium gemas oleh Aydan yang sepertinya sudah berhasil mengadopsi perangai san papa yang selalu romantis pada Muna.


"Jangan cedih mam, kan ada papap yang bobo cama mamam." Hidbur Aydan so bijaksana.


Kevin bangun dan langsung meraih Aydan, meletakkan anak itu ke atas perutnya, gemash.


"Anak siapa sih ini, bikin papap gemas dengar obrolannya." peluknya bangga.


"Anak papap." Senyum Aydan melebar senang."


Sementara Muna sudah berjalan menuju kamar Laras. Untuk menjemput Annaya. dan akan menyu su i secara langsung bayi yang bahkan belum genap 6 bulan tersebut.


Muna sudah berada di kamar Laras, dan melihat bibir Annaya sudah belepotan karena memakan biskuit.


"Bunda... Naya di kasih apa?”suara Muna agak nyaring menyadari jika bayinya sudah di berikan makanan tambahan pelengkap ASI. Bukankah itu boleh diu berikan saat usianya benar 6 bulan ke atas.


"Saya kasih biskuit bayi, mam." Jawab Laras agak takut.


"Siapa yang suruh bunda kasih dia biskuit. La,mbungnya bisa infeksi bunda. Belum waktunya Naya makan makanan selain ASI." Geram Muna lalu menggendong Annaya. Dan membawanya keluar dari kamar tersebut.


Melangjah dengan wajah yang memerah, menahan rasa dongkolnya pada Laras.


Lalu duduk di tepian ranjang di mana Kevin dan Aydan masih bercengkrama di sana.


Kevin melihat hal itu, dan tak biasa melihat Muna berang dalam hal memberikan ASInya pada Annaya.


"Mamam kenapa? Mandi dan sarapan saja dulu,baru pegang Naya lagi. Sini sama papa Nay." Kevin ambil alih pada Annaya yang tak berhenti menangis.


Mau tidak mau, Annaya sudah berpindah tempat, dari pangkuan Muna ke gendongan Kevin. Tidak berhenti tangisnya, hanya berangsur melemah, tidak sekencang saat berada di tangan Muna.


Muna yang memang bermood jelek sejak malam, memilih mandi menuruti perintah Kevin. Masih dengan suanan hati yang tidak baik-baik saja, entah mengapa.


Kevin keluar kamar dan mencari Laras, ingin bertanya mengapa sepagi itu bayinya cerewet.


“Laras, Nay kenapa?”


“Sejak semalam, de Naya tidak mau minum susu leeway dotnya pak. Lalu saya coba berikan dia biscuit bayi yang sudah di encerkan. Setelah itu tidurnya nyeyak pak.” Jelas Laras agak takut.


“Pagi ini, apa Naya masih tidak mau minum susunya?”

__ADS_1


“Iya pak. Makanya saya kasih lagi biscuit encernya pakai sendok. Tapi ketahuan mamam, lalu marah.” Jelas Laras


jujur.


“Kenapa dia marah?”


“Karena de Nya belum genap 6 bulan pap. Bayi moleh makan, makanan tambahan itu memang di atas 6 bulan. Tapi, sepertinnya de Naya sudah memerlukan makanan tambahan selain ASI. Lagi pula di kasih juga sangat encer, seperti air, kemungkinan luka lambungnya juga kecil.” Laras memberikan alasan dan penjhelasannya pada Kevin.


Kevin hanya mengerutkan dahinya. Tak paham bemar dengan yang membuat Muna marah dan alasan yang Laras sampaikan padanya.


“Lain kali, ijin dulun sama mamam untuk urusan memberikan makan pada Ay juga Nay.” Ujar Kevin yang tidak tau harus marah kepada siapa.


Sementara Naya, terlihat anteng setelah di gendong oleh sang papap.


“Nay… sini nak. Sama mamam ya.” Lembut suara Muna meminta Annaya dari Kevin.


“Sudah sarapan, Mae?”


“Sudah bang.” Jawabnya datar.


“Pelan pelan kasih ASInya.” Ujar Kevin menyerahkan Annaya pada Muna.


Masih dalam pantauan Kevin, Muna terlihat lembut menggendong Annay. Mengelus kepala bayi itu, memandang bila mata bayinya. Seolah meminta agar Annaya mau menghisap air yang sudah penuh di tempatnya.


Tetapi, bukannya terlelap saat menikmati saluran ASI itu, Annaya lagi-lagi menangis. Tak mau menghisap pen til susu ibunya.


Laras datang dengan sebotol susu yang sudah ia siapkan, sudah keluar dari tempat pembekuan. Dan sudah layak untuk di konsumsi oleh Annaya.


“Permisi mam, biar sama bunda saja.” Ijin Laras seadanya. Untuk menghindar tangisan Annaya menjadi-jadi kembali.


Sontak Annaya diam, saat dot itu sudah memenuhi rongga mulutnya. Muna di buat keki oleh adegan itu, pelan pelan Laras membawa Annaya keluar dari kamar Kevin dan Muna.


Aydan sudah terlebih dahulu keluar kamar itu, untuk kembali ngobrol dengan engkongnya.


Di sudut kamar itu Muna menangis tersedu-sedu.


Kevin mendekatinya, membelai kepala istrinya dengan sayang. Lalu duduk berjongkok di hadapan Muna.


“Tuh… abang liat sendirikan. Naya sudah ga kenal Muna. Sudah ga mau sama Muna, sudah lebih deket sama Laras ketimbang Muna. Sakit hati Muna bang.” Tangis Muna pecah tidak terima Annaya sama sekali tak mau dekat dengannya.

__ADS_1


“Sabar Mae, mungkin suasana di sini membuatnya tak terbiasa.” Hibur Kevin pada Muna.


Bersambung…


__ADS_2