CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 179 : SISKA NGIDAM


__ADS_3

Daren dan Zahra sungguh telah berkomitmen untuk saling setia, walau apapun keadaan dan kekurangan pasangannya. Mendapatkan keturunan adalah rizki yang menjadi rahasia Allah. Menjalani rumah tangga yang telah terikat janji suci bagi mereka adalah suatu ibdah terpanjang yang wajib mereka tunaikan bersama. Menjadi tamu Allah kembali, saat status mereka berubah dari sebelumnya.


Menaikkan segala syukur telah saling di pertemukan dan di satukan dalam ikatan suci pernikahan merupakan hal yang sangat mereka syukuri. Tentang keadaan rahim atau keinginan mereka untuk mengangkat anak pun. Bagi mereka itu adalah bagian yang maha kuasa saja menyelesaikannya. Memiliki hati yang tiap hari merasakan jatuh cinta pada pasangan, bagi keduanya sudahlah cukup.


Rumitnya Kevin sang cassanova mendapatkan Muna, adalah ujian cinta yang kebetulan di suguhkan di awal. Hingga kemudian Muna memang tersangkut pada cinta tulus seorang CEO yang dulu super mesum. Bahkan kini, jangankan untuk memikirkan wanita lain. Membagi waktu antara tugas dan cinta yang selalu berbuah itu saja, membuat Kevin cukup snewen.


Ribetnya Gita menyembunyikan identitasnya sebagai anak sultan demi mendapatkan pria tulus yang sungguh mencintainya apa adanya pun sudah terlewati. Bahkan kini mereka pun sudah sangat berbahagia menikmati calon buah hati yang di hadirkan bahkan dua sekaligus. Sebelumnya rumah tangga itu pun sempat agak misskom sebab tingkah dari ibu mertua.


Belum lagi keukehnya Siska yang menggilai artis Korea. Yang memilih sabar menunggu Asep menjadi jomblo. Demi mendapatkan pria pujaannya yang bermata sipit berkulit putih itu. Juga sempat ada bumbu penyedap saat hidup bersama Ambu yang belum siap cucunya memiliki istri.


Maka Ujian rumah tangga Daren dan Siska ialah dalam hal kesabaran menunggu mujizat tentang hadirnya seorang anak.


Demikianlah polemic kehidupan. Tak pernah rata, tak pernah sesuai rencana. Tetapi tak pernah buntu, selalu ada solusi bagi yang mau berusaha dan meminta pada yang kuasa.


Waktu terus bergulir, saat matahari dan bulan selalu berganti peran sasuai rotesinya. Tak terasa enam purnama terlewati sudah. Perkuliahan Gilang berlangsung aman dan lancar. Sebab sebagian Dosen memang mengadakan perkuliah hanya via zoom. Sehingga Gilang tak perlu repot membelah diri untuk menjadi mahasiswa juga menjalani profesinya sebagai Wakil Ceo juga suami siaga untuk Gita.


Beberapa bulan terakhir yang cukup di repotkan adalah Asep.


Ya … Siska sekarang sudah dua bulan di nyatakan keracunan burung Asep. Gilang bahkan terkena dampaknya, sebab Siska tak bisa turun bekerja. Sehingga ia dan Gibran memang harus makin intens bekerja sama menjalankan perusahaan.


“Akang … mau manga.” Rengek Siska melakukan panggilan suara pada Asep yang masih terlihatr sibuk dengan berkas para calon P3K yang menjadi bagian tugasnya itu di kantor.


“Iya … sayang nanti Akang belikan pas pulang kantor ya .” Jawabnya dengan ponsel yang di jepit di bahu dan telinganya. Mau di loudspeaker, takut malu. Jika Siska minta atau bicara yang anaeh-aneh di telepon.


“Maunya sekarang Kaaaang.” Rengeknya lagi.


Asep melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya.


“1 jam lagi baru waktu istirahat, Nyai. Sabar ya …?”


“Jangan 1 jam … 30 menit, Kaaang.” Rengeknnya seperti bocah.


“Ga bisa Nyai… di kantor kan absennya ketat sayang.”

__ADS_1


“Sayang … sayang. Sayang Nyai .. sayang Absen …”


“Absen …!! Eeh”


“Apaaa …??”


“Itu … sayang TuKinnya, kalo akang ga absen nanti ke potong.” Gitudeh nasib bersuamikan ASN ya, liburnya dikit, gajinya pas, absennya ketat. Nasib.


“Banyak omong. Pokoknya nanti harus bawa manga. Jangan yang masak terlalu lembek. Jangan yang muda banget nanti masam. Cari yang sedang biar gigitnya bunyi kreg … kreg. Terus harus yang baru di petik, yang diatasnya masih ada getahnya … itu pasti wangi, Kang.” Siska menjelaskan buah manga yang ia inginkan.


“Iya … nanti Akang carikan yang seperti itu.” Sabar Asep meladeni pesanan istrinya yang makin cerewet.


“Nanti …temenin Nyai makannya di bawah pohon ya Kang, sambil minum es cendol. Eh .. iya es cendolnya yang pakai gula aren. Air gulanya harus di rebus sampai mendidik juga jangan ada sampahnya, harus bersih, Oke Kang …?” Ya ampuuun, ini pesanan ngidam atau naskah novel. Puanjang banget deh perasaan permintaan Siska. Munasama Gita , gini amat ga sih ngidamnya.


“Iya … sayang iya. Nanti Akang seleksi tukang cendolnya satu-satu, akang wawancara dulu bagaimana proses pembautan air gula arennya.” Sabar Asep menanggapi Siska. Ternyata pengalaman Gilang lumayan ampuh waktu di Cikoneng. Asep ingat betul bagaimana mereka menerobos gelapnya malam demi mencari ikan laut yang segar waktu itu.


“Akang ngeledek …?” Siska merasa di ledek dong. Sebab Asep bagai meremehkan permintaannya.


“Ya sallam. Gimana Akang tau dia masak gulanya gimana kalo Akang ga tanya …?”


“Iya maaf ibu suri …”


“Masih ngeledek. Usah Siska pulang ke Cikoneng aja. Bilang aja Akang sudah ga tahan ngurus istri, pulangin Nyai … Kang.” Sensinya minya ampuuun dah.


“Pak … berkas yang ini sudah di cek.” Suara staff di belakang Asep bertanya, membuatnya membalik badan ke sumber suara.


“Oh … belum semua, baru sebagian. Tolongin ya Irma …”Jawab Asep mengabaikan obrolan di ponselnya yang masih berlangsung.


“Irma … itu cewek kang …?” suara lebih nayring dari sebelumnya menguar di ruang dengar Asep, membuatnya mengendikkan bahu. Dan melempar senyum dangan wajah minta maaf pada stafnya yang bernam Irma.


“Iya … dia mau bantu kerjaan Akang. Biar akang bisa cepat pulang bawa pesanannya Nyai.” Jawab Asep jujur.


“Ga usah …. Ga jadi.” Tut … tut … tut. Sambungan telepon terputus sepihak.

__ADS_1


Asep menggosok rambut depannya hingga tampangnya carut marut. Apa salahnya coba …?


“Huh … punya istri satu begini amat ya? Trus gimana ceritanya tuh beberapa orang sampai bisa punya dua, tiga atau lebih. Apa istri mereka ga pernah ngidam dan bikin pusing kayak gini.” Rutu Asep ngedumel sendiri.


“Kenapa kamu Sep, kusut bener kayak baju ga di setrika aja. Tegur kepala bidangnya yang melintas di depan meja kerjanya.”


“Lagi pusing cari pohon mangga Pak.” Jawab Asep jujur.


“Pohon mangga ..? untuk apa?”


“Mau buahnya …”


“Oh … pasti istrimu lagi ngidam. Ajak kerumah saya saja. Kebetulan pohon mangga yang di depan rumah saya sedang berbua, lebat lagi.” Mata Asep berbinar-binar mendengarkan hal itu.


“Ada yang muda ga, Pa?”


“Yang namanya pohon ya semua ada, mau yang masak, mangkel, muda, atau yang stunting juga ada lah.” Jelas Kepala Bidangnya.


“Alhamdulilah … terus dekat rumah bapak ada oramg jual cendol ga ?” Asep sudah hilang rasa malu, bertanya pada atasannya.


“Cendol ..? minuman es dawet itu?”


“Iya … yang ada hijau –hijaunya”


“Rasanya ada do depan kompleks.” Jawabnya mengingat-ingat.


“Tersu air gulanya di rebus atau tidak?”


“Asep … kamu lagi cari kidaman istri atau mau penelitian?”


Bersambung ...


__ADS_1


Di Bantu yaaa🙏🙏


__ADS_2