CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 215 : HASILNYA COCOK


__ADS_3

Muna dan Kevin seolah berada dalam suasana mencekam. Maksud kedatangan mereka hanya berkenalan, meminta ijin dan pemberitahuan agar Sudrajat menyiapkan diri untuk melewati beberapa rangkaian pemeriksaan secara klinis. Namun, entah. Kakek itu justru menolak, bahkan minta untuk di suntik mati saja. Sungguh di luar dugaan.


“Kakek … kakek bahkan sampai di bawa ke sini demi mendapatkan kesehatan. Lalu mengapa sampai di sini, kakek justru ingin membuat kami menjadi pembunuh?” Muna sedikit geram mendengar pernyataan Sudrajat pada mereka.


“Maaf.” Hanya kata itu yang Sudrajat mampu ucapkan untuk menjawab pertanyaan Muna.


“Kami juga minta maaf, jika kami terlalu lancang bahkan memaksa. Tetapi, tolong ijinkan kami berbuat baik pada kakek.” Muna melemah dari nada suaranya sangat jelas, jika ia terdengar memohon pada kakek tua itu.


“Baiklah. Silahkan lakukan.” Jawab Sudrajat pasrah.


“Terima kasih.” Jawab Kevin tegas. Lalu pamit untuk meninggalkan ruang rawat Sudrajat.


Proses pemeriksaan yang Sudrajat tidaklah memakan waktu yang lama. Proses itu, hanya adalah pengambilan sampel darah dan ginjal itu sendiri. Yang kemudian melewati beberapa tahapan di laboratorium. Kemudian hasil tersebut di sandingkan dengan organ yang sudah tersedia di rumah sakit tersebut.


Ada tiga organ ginjal yang tersedia di rumah sakit tersebut. Di antaranya di dapat dari organ orang yang sudah meninggal. Yang memang sudah memberikan wasiatnya, jika ia meninggal, maka ia ijinkan untuk pihak rumah sakit itu mengambil beberapa organ yang masih bisa di gunakan. Ada pula pasien yang mengalami kegagalan fungsi otak, akibat kecelakaan. Dan pihak keluarga menyatakan bersedia untuk memperjual belikan organ itu, untuk meringankan biaya pengobatan di rumah sakit mahal tersebut.


Sehingga Hildimar Hospital memang termasuk rumah sakit yang terkenal canggih dalam hal penyakit dalam. Tenaga medis pun. Tidak hanya lokal, namun sudah bertaraf internasional. Untuk menangani kasus luar biasa semacam ini, kadang mereka memang menggunakan jasa dokter terbang. Kevin dan Muna sudah banyak belajar dari pengalaman.


Bukankah Abah Dadang dan mama Rona pernah hampir menjadi warga China, saat abah harus melakukan cangkok hati. Berangakat dari pengalaman itulah, Kevin dan Muna bersepakat untuk komit memudahkan pasien di Indonesia yang mungkin terbentur biaya dan bahasa. Demi untuk mendapatkan kesehatan yang haqiqi.


Tegang … harap-harap cemas. Itu yang kini melanda Gilang dan Gita. Hati mana yang tidak kacau, saat ginjal suami akan menjadi taruhan untuk menyambung hidup orang lain dengan sadar dan sengaja.


“A’ … semoga ginjal kakek cocok dengan stok yang ada ya.” Gita tentu selalu berharap bukan ginjal Gilang yang akan di donorkan.


“Tenang. Percaya Allah sudah sediakan yang terbaik untuk kita, Neng.” Gilang dalam gamangnya tetap ingin menunjukkan ketentraman hatinya.

__ADS_1


“Yang a’a donor itu ginjal ya. Bukan hanya darah seperti biasa.” Agak sengit Gita menyampaikan hal yang ada di kepalanya.


“Iya … ga usah di ulang-ulang.” Ujar Gilang memeluk istrinya.


“Jangan bercanda.” Lanjut Gita yang semakin uring-uringan.


“Neng … kalo ginjalnya ga cocok. Ginjal a’a dong yang di kasih. Kalo a’a mati. Neng, nikah lagikah?” tanya Gilang pelan.


“Stop it.” Marahnya pada Gilang.


“Kita sudah pernah janji tidak akan bicara tentang kematian di antara kita…!!!” Lanjutnya berang.


“Maaf.” Jawab Gilang yang sesungguhnya juga sudah mulai galau akan hasil yang sedang mereka nantikan.


Dua hari berlalu, mereka semua dalam ketidak jelasan. Sebab hasil dari laboratorium cukup lama untuk memastikan keakuratan sampel ginjal kakek dan beberapa stok yang ada.


“Dari hasil pemeriksaan. Ketiga ginjal yang kita punyai. Semua tidak cocok dengan ginjal pasien.” Duuuaar. Bagaikan petir di siang hari. Bagaikan layang putus dari benangnya.


Seketika. Lutut Gita melemah, serasa tidak berpijak di bumi. Bahkan Gita langsung pingsan, mendengar pernyataan dokter.


Gita adalah orang pertama yang menghasut hati Gilang untuk membantu kakek Sudrajat. Tapi tidak sebegini juga. Ia hanya tak mau suaminya menyimpan dendam. Dan silahkan gunakan kekuatan uang untuk menyelamatkan nyawa kakek. Tapi tidak dengan mempertaruhkan nyawa suaminya. Masa depannya dan Gwen anak semata wayangnya.


Ruangan dokter segera heboh, akan tindakan untuk Gita yang mendadak pingsan. Segala rencana selanjutnya terhenti sementara, demi membuat Gita siuman terlebih dahulu.


“Jika di lihat dari segi usia. Sebaiknya pasien tidak perlu mendapat pendonor ginjal. Sebab, usia beliau tidak lagi produktif. Jadi, untuk usaha pencangkokkan ginjal ini, sifatnya hanya untuk membuat para penjaganya tidak repot mengantar cuci darah saja.” Lanjut dokter yang menangani Sudrajat.

__ADS_1


“Jika memang tidak ada sanak saudara yang mampu mengantar atau menjaga. Mungkin, pak Kevin bisa menggunakan jasa perawat yang di bayar khusus untuk merawat dan menemani kerabat bapak ini.” Dokter tau, jika pasien ini, memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah sakit, tempat ia bekerja. Tentu bukan masalah besar untuk keluarga itu membayar pengasuh.


“Jadi menurut dokter. Cangkok ginjal ini tidak wajib dan tidak di anjurkan untuk kakek Sudrajat?” ulang Kevin memastikan. Sekaligus agar Gilang sendiri mengubah keputusannya.


“Iya. Kondisi ginjal pasien itu mengkerut. Bahkan kiri dan kanan. Jika di cangkok pun, hanya bersifat sementara, jika hanya satu ginjhal yang di buat baru. Lalu, yang satunya lagi. Sebaiknya juga di ganti. Itu baru usia tua, mesin baru.” Kekeh dokter menjelaskan. Agar ketegangan di antara mereka tidak begitu terasa.


“Wah … cari satu saja sulitnya minta ampun dokter. Apalagi dua.” Jawab Kevin melempar tatapannya pada Gilang.


“Yaah … jangankan orang yang hidup. Yang meninggal saja, belum tentu kita sempat ambil ginjalnnya untuk di jadikan stok kan.” Sindir dokter itu masih deng an nada suara ceria, agar atmosfir dalam ruangannya tidak semencekam tadi.


“Dokter … boleh saya mulai melakukan pemeriksaan. Apakah ginjal saya cocok dengan pasien?” Oh … rupanya Gilang tetap keukeh untuk melakukan pemeriksaan kecocokan ginjalnya untuk kakek Sudrajat.


“Hm … anda memiliki hubungan darah dengan pasien?” tanya dokter berbasa-basi. Padahal Kevin sudah menyampaikan segala kemungkinan yang akan terjadi jika stok organ di rumah sakit mereka tidak ada yang cocok untuk Sudrajat.


“Saya cucu dari pasien Sudrajat, dokter. Ayah saya adalah anak kandung kakek.” Jawab Gilang lantang.


Tes-tes


Air mata Gita luruh lagi. Tidak mungkin baginya berteriak, memohon untuk Gilang mundur untuk memeriksakan kecocokan ginjal suaminya.


“Wah … biasanya ini akan 99% cocok. Mari kita ke laboratorium.” Ajak dokter tanpa bertanya apapun lagi.


Gita tidak mungkin pingsan untuk kedua kalinya. Ia hanya mencorat coret plester di tangan Gilang pasca di ambil darahnya untuk di lakukan pemeriksaan.


“Hasilnya sudah keluar dan 99% cocok. Kapan siap di lakukan tindakan?”

__ADS_1


Berambung …


__ADS_2