
Pagi cerah, matahari bersinar menjalar hangat, melakukan tugasnya sesuai rotasi.
Wajah Muna dan Kevin tak kalah cerah, tatkala semalam dapat lagi beraktivitas tanpa hambatan.
Selepas sholat subuh, seyogyanya Muna kembali menarik selimut. Berbaur dengan Kevin yang terlihat sudah terlebih dahulu ngendon lagi di tempat tidur.
Usia Muna masih muda, tapi ia sangat bertanggung jawab dan selalu ingat kodratnya. Ia sudah punya anak dua, yang harus ia perhatikan. Bukan semata memanjakan Kevin, yang bahkan hampir tiap berdua duaan, hanya berakhir dengan kegiatan panas.
Annaya seminggu lagi baru berusia 5 bulan. Masih perlu sebulan lagi baru bisa MPASI. Artinya stok ASI Muna harus tetap full di siapkan untuk Annaya.
Muna selalu lebih tenang jika ada nyak dan babe. Sebab semua akan lebih mudah, karena anak pertamanya itu akan selalu lengket dengan kedua orang tuanya tersebut.
Muna direktur di Hospital Hildimar, juga sebagai dewan komisaris di PT.MK Farma. Tetapi jabatan duniawi itu tidak membuatnya lupa akan tugasnya dan tanggung jawabnya sebagai istri.
Seperti pagi itu, walau ada ART. Ia tetap ke dapur menyiapkan sarapan untuk Kevin, Aydan juga nyak dan babe. Selera mereka sama. Jika di pagi hari jarang konsumsi nasi. Dan asupan karbohidrat lainnya.
Itu lah yang Muna perlu pastikan, stok ubi untuk nyak dan babe. Juga roti, sosis, keju,tepung, makaroni, susu dan telur harus selalu ada membuat sarapan untuk Kevin dan Aydan.
Pagi itu, Kevin mana pernah perduli di dapur ada ART atau nyak. Ia langsung memeluk Muna dari belakang saat apron motif boba itu masih menggantung di lehernya.
"Pagiii sayang. Masak apa?" sapanya mencium ceruk leher yang masih ada sisa samar seolah memar sisa kemarin. Ya sebab yang semalam sudah pindah lapak, ga lagi ngontrak di leher Muna. Tapi ke daerah pelataran mumun. Busyeeeet dah.
"Pagi juga suamiku tercinta." Balas Muna mencium pipi kiri Kevin sekenanya.
"Niih... Muna lama ga masak makaroni buat abang. Kali abang bosan dengan olahan telur orak arik yang biasa. Jadi hari ini Muna buatkan Omellete Makaroni." Jawab Muna semangat.
"Waduuuh... sepertinya enak. Makan sekarang boleh?"
"Sudah mandi belom...?"
"Belom, nungguin bini lah. Biar ada yang gosokin punggung." Jawab Kevin manja.
"Manjanya abang ngalahin Ay dan Naya deh. Ga bisa sendiri?"
"Udah sering sendiri yank." Rengek Kevin.
__ADS_1
"Huh... buruan naik. Sebelum Ay bangun kita harus sudah mandi." Muna meletakan apronnya. Lalu memanggil ART untuk merapikan bekasnya memasak dan menata meja.
Sebab tugas memandikan bayi besar tidak bisa di wakilkan seperti mengalihkan ritual memandikan Annaya dan Aydan. Bisa runyam urusannya. Lalu keduanya masuk kamar dan segera mandi.
Pluukh.
Muna memukul tangan Kevin yang tidak membantu mengosok punggungnya, tetapi malah meremas tower yang mencuat karena kena pancuran air. Ya... mereka sedang mandi bersama.
"Jangan alasan pahala ye, kemarin sore udah, semalam juga. Awas minta lagi sekarang." Muna pasang mode marah, sebelum keteguhan hatinya sirna. Rontok oleh tingkah suami yang selalu mampu membangkitkan geloranya. Gelora untuk melayani suami yang selalu membuat ingin lagi dan lagi.
"Iya... megang doang yank." Kekeh Kevin yang juga tau, jika hari ini mereka sudah di tunggu di kantor untuk menginterview calon karyawan baru.
Kevin sempat membantu mengeringkan rambut panjang Muna yang basah. Agar tak kentara jika semalam mereka bertempur lagi. Walau hal itu tidak di lakukan pim, sebenarnya babe dan nyak juga tau jika mereka selalu begitu.
Kini mereka sudah berpakaian rapi, dan menuruni tangga siap untuk sarapan bersama.
"Moniiing mam, pap." Sapa Aydan ceria yang justru datang dari arah luar rumah.
"Pagiii sayang. Kak Ay, dari mana?" peluk Muna pada Aydan yang sepertinya sudah lama bangun.
"Jalan pagi be?" sapa Muna pada babenya.
"Babe tadi subuhannya di langgar komplek Mun. Kangen juga babe silaturahmi ame warga di mari. Nah, si Ay bangun sendirian. Elu sibuk di dapur. Ya babe ajak keliling komplek aje deh." Jelas babe.
"Tuuuh... pagi tuh, gitu bang. Keliling komplek sekalian liat keadaan sekitar dan warga. Ntar di kira sombong." Muna menegur Kevin.
"Hm... masih ada hari esok." Jawabnya yang sudah tak sabar menikmati perpaduan makaroni, smoked beef , sosis, sayur yang terlihat nikmat.
Sebelum berangkat, giliran Annaya yang sarapan. Menerima asupan gizi langsung dari sumbernya. Sementara Kevin, memeriksa CV para pelamar melalui email dalam ruang kerjanya di rumah.
Hampir pukul 9 baru mereka tiba di kantor. Dan keadaan di sana jauh lebih tertib, sebab jadwal kedatangan kedua orang ini sudaj di ketahui penghuni kantor.
Sudah ada Gilang dan Gita yang tak kalah berseri seri menyambut CEO dan dewan komisaris di kantor mereka tersebut.
"Gita... makin cantik aja niih." Sapa Muna seolah lama tak bertemu. Padahal baru bulan lalu mereka bertemu di Singapura.
__ADS_1
"Haaaa... bawaan bayi mungkin." Jawab Gita terurai senyum.
"Waah... udah isi Git?" Muna terperangah, bercampur senang jika keponakan mereka akan hadir.
"Insya Allah. Maunya kami ya gitu." Jawan Gita terlihat berharap.
"Amiiin. Semoga segera di kasih deh kalo gitu." Jawab Muna.
Basa basi mereka pun tak bisa berlanjut. Sebab ruang interview sudah siap, dan waktu sudah sesuai jadwal.
Baik Kevin juga Muna sudah memasang wajah serius dalam ruang terpisah untuk melakukan tugas mereka.
Ada 30 orang pelamar yang sudah tersaring dari 70 orang yang mendaftar. Seleksi yang mereka lakukan cukup ketat, hampir sama dengan sulitnya menghadapi CATnya CPNS. Sebab gaji dan bonus yang perusahaan yang Kevin berikan di atas UMR. Tentu saja ia harus sungguh sungguh menyeleksinya.
Rencana mereka akan mencari paling tidak 20 orang. Agar kantor cabang di Cisarua bisa segera beroperasi.
Waktu makan siang tiba, kegiatan terhenti sebentar untuk menikmati makan siang yang sudah di siapkan oleh Gilang.
"Pak bos... makan siang dulu. Para pelamar juga sudah kami kumpulkan di aula untuk makan siang bersama." Info Gilang pada Kevin yang masih memantap mantapkan pilihannya.
"Oh... iya. Kita makan bersama di aula juga Lang?" tanya Kevin pada Gilang.
"Tidak pak. Di pantry sudah di siapkan." Jawab Gilang lagi.
Di pantry sudah ada Gita dan Muna yang ternyata sudah menunggu pangeran hatinya masing-masing.
"Waaah... menu Padang nih?" seru Kevin yang hampir jatuh air liurnya melihat gulai kikil sapi.
"Iya pak... rekoman bu Mona." Jawab Gilang selalu sopan.
"Kamu kapan sih, Lang. Berhenti panggil ibu dan pak bos. Dengan kami? apa lagi kalo cuma ada kita begini. Kita ini keluarga Lang." Celetuk Muna.
Bersambung...
__ADS_1