
Transaksi Berhasil.
Tanggal : xx/xx/xxxx. No.Resi : 61746174. Sumber Dana : Diendra Mahesa. Jenis Transaksi : Tranfer Bank HALU. Bank Tujuan : BANK HALU. No. Tujuan : 6174 xxxx 61L4N6. Nama Tujuan : Hadiah Ultah. Keterangan : Putri Kesayangan. Nominal : Rp. 2.000.000.000. Biaya Admin : Rp.0 Total : Rp. 2.000.000.000
Gita tercenung melihat isi SMS itu, Bukan karena nominal yang papinya kirimkan untuknya, tapi apakah ia harus jujur pada suaminya. Bukankah mereka baru saja baikkan? Tapi jika ia katakana pada Gilang, apakah itu tidak mengandung prahara kembali. Masa harus ada bawang lagi, bukannya mereka sudah menikmati takjil barusan. Gita hanya mendengus, setelah membaca isi pesan teks itu. Mengirim balasan terima kasih untuk sang pengirim.
“Terima kasih Pi. Transferannya sudah masuk.”
“Syukurlah, maaf tak bisa banyak. Semoga cukup untuk ganti belanjaan Muna dan Zahra tadi ya nak.” Balasnya.
“Alhamdulilah, lebih pi.” Balas Gita lagi. Lalu meletakkan ponselnya di nakas.
“SMS?” tanya Gilang yang baru selesai memotong buah peer dan mengambil beberapa buah anggur hijau untuk cemilan mereka malam itu.
“Hm…” Dehem Gita pelan.
“Siapa?”
“Kasih tau gaya?”
“Kasih tau lah, kepo niih.”
“Janji ga marah…?”
“Apa dulu…?”
“Janji dulu dong a’.”
“Iya deh janji… apaan sih? Baskoro?”
“Hahaa… ga ada topic lain apa, kita bahas Baskoro.”
“Ya kali… wajah eneng berubah gitu.”
“Masa kelihatan perubahannya a’…?”
“A’a udah hapal wajah bidadari, mana senang, mana marah, mana sedih.”
“Mana bohong juga a’..?”
“Iya … kayak sekarang ini. Eneng lagi nyembunyikan sesuatukan dari a’a.” Ujarnya menyuapi sepotong peer pada mulut istrinya itu.
__ADS_1
“Papi transfer uang ke rek eneng, hadiah ulang tahun katanya.”
“Oh.” Jawab Gilang singkat.
“Kok, cuma Oh sih a’..?”
“Terus a’a harus bilang WOW gitu..?” tawa Gilang terbahak.
“Ga tanya… berapa?”
“Ga…”
“Kenapa?”
“Hah… pasti banyak. Ntar a’a ngerasa jadi butiran debu lagi. Jadi lebih baik a’a ga tau aja. Lebih amankan?” Ujarnya lagi menyuap potongan buah kembali.
Gita mengangguk setuju. Ya mungkin lebih baik begitu dari pada runyam lagi, baper lagi, ga kelar kelar ini cerita.
Pagi datang, kali ini pasangan pengantin baru itu sepakat akan berenang di luar, dekat dengan restoran hotel. Mereka sekalian ingin melihat lihat tempat lain, selain kamar mereka. Gita menggunakan bikini, tapi tentu saja dengan bentuk dan model yang sudah di setujui sang suami. Yang serba panjang, tapi tetap tidak menutup lekuk tubuh langsing terjaga Gita.
Keduanya tidak hanya berendam, tapi sungguh berenang, kadang terlihat berlomba. Keduanya sungguh menikmati waktu liburan yang Kevin berikan untuk mereka. Dan rencana sore nanti mereka akan menikmati destinasi wisata lainnya.
Sebenarnya sejak berenang tadi, ekor mata Gita merasa jika ada yang memperhatikan interaksinya bersama Gilang. Tapi, ia tak tau siapa. Sebab, setiap Gita menoleh wajahnya selalu di tutup majalah. Jadi Gita tidak bisa mengetahui itu siapa. Lagi pula, bukankah, mata di ciptakan untuk melihat. Maka, bagi Gita wajar saja orang melihatnya, yang penting dia tidak berbuat mesum di tempat umum.
Gita dan Gilang selalu ceria, setiap kali menikmati makanan. Tangan Gita tak hentinya berselancar di dunia maya, untuk memastikan resep makanan yang ia nikmati. Katanya untuk belajar, kapan hari.
“Boleh gabung…?” Suara lelaki terdengar persis di belakang Gita. Mata Gilang hampir keluar melihat lelaki itu, tanpa ijin sudah mengambil tempat di samping Gita.
“Baskoro…?” Gita menoleh namun tak sempat berpindah. Ia terjebak di pojokan duduk di sebelah Baskoro dengan rasa terpaksa yang sangat dalam dan merasa bersalah.
Baskoro kurang ajar, ia sengaja mendekatkan hidungnya ke kepala Gita yang masih basah.
“Huumm… masih suka wangi yang mas sukai Git. Bubble Gum shampoo.” Tebaknya dengan senyum breng se knya. Gilang hanya ikut tersenyum dengan sebelah bibirnya ke atas.
Gita merengut kesal, tubuhnya sudah mepet dinding. Tote bag berisi pakaian basahnya sengaja ia letakan dia antara ia dan Baskoro, ia tekan agar basahnya keluar, dan di arahkannya ke Baskoro.
“Oh…. Ga kok. Kebetulan hanya itu yang tersedia di kamar hotel. Dan aku benci memakainya lagi. Mengingatkanku pada sampah saja. Ini saja, sudah mau ke salon lagi untuk creambath, supaya wanginya hilang.” Ketus Gita menatap keluar. Tak ingin melihat Gilang, apalagi Baskoro.
“Kenapa begitu bencinya pada mas? Apa masih cinta?” Baskoro pake topeng besi atau wajah ultramen kali ya. Ga ada malunya. Suaminya Gita di depan mereka lho, tapi dia cuek saja bicara cinta pada Gita.
“Hah…? Cinta…!!!” Seru Gita emosi.
__ADS_1
“Sayang… waktunya meeting. Pamit ya mas.” Gilang meraih tangan Gita ke arah atas untuk melewati Baskoro, sementara meja makan tadi sudah Gilang geser, agar tubuh istrinya tidak bersentuhan dengan Baskoro.
“Hei… mas belum selesai bicara Gita.” Umpatnya keki.
“Mas… tuh mami, ketemu gedenya datang. Nanti kalo ketahuan bicara cinta sama istri saya, mas bisa di putusin lhooo. Hilang deh tambang emasnya.” Ledek Gilang asal saja. Membuat wajah Baskoro memerah padam, dan menampar meja. Sebab benar dari kejauhan Miranda sudah tampak berjalan mendekatinya.
“Pagi tante Miranda… ketemuan sama Baskoro ya…?” Sapa Gita ramah.
“Aiiihhh… Gita. Belum pulang?”
“Belum tante, kami masih bulan madu di sini. Tante…? Honeymoon juga ?” tanya Gita senyum.
“Iya niih… segar sekali pagi ini. Btw bulan madunya sama om Prayoga atau si Baskoro nih?” Gilang mencandai tante girang yang terlihat mesem mesem kesenangan.
“Ya sama yang muda dong, om kalian itu sudah dapat jatah minggu lalukan.”
“Waaw… tante memang luar biasa, pantesan di puji on Prayoga. Bagi bagi resep kuatnya lah tante.” Goda Gilang so’ akrab.
“A’a…?” Rengek Gita manja, sengaja mendekatkan tubuhnya pada Gilang, agar Gilang memeluknya.
“Oouuh… kalian masih pengantin baru, tak perlu resep apapun pasti selalu ketagihan.” Noraknya Miranda itu.
“Oh… memang gitu ya tante. Kalo masih baru, Gita kira, sayangku ini over.” Entah dapat kejijayan dari manakah si Gita ini, gesturnya sudah melingker luer saja di dekat Gilang, memancing respon wanita tua bangka tak tau diri itu di depan mereka.
“Auuuhh… kalian ini. Pagi pagi sudah bikin tante hor nie saja, jadi ga sabar kan kuda kudaan sama si Babas sayang.” Centilnya menjijikkan.
“Huum… bukan cuma tante. Tadi Baskoro juga sempat cerita, kalau tante memang luar biasa.” Ya ampun Gilang, mulutnya ember juga ternyata. Ulet keket kok di gosok, ya makin gatal lah.
“Kami permisi ya tante cantik, mau nyicil bikin matanya.” tukas Gilang nakal.
“Hahaaa… semoga sukses anak muda, semangat.” Genit. Genit sekali perpisahan antara Miranda, Gita dan Gilang di ambang restoran hotel itu.
Bersambung…
Pagi Readers…
Maaf agak gatal kisah pagi ini, tercemar akibat si tante girang.
Makasih semua
🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏
__ADS_1