CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 142 : ANNAYA SAKIT


__ADS_3

Muna tersengal setelah berhasil meletakan bayi mungilnya, Annaya Intan Mahesa itu di bed pasien untuk di periksa. Memilih duduk untuk memberi waktu pada dokter jaga untuk memerikasa keadaan putrinya tersebut. Sembari menenangkan diri.


Padahal saat sebelum tidur tadi Annaya tampak sehat. Tapi, sebelum Muna hendak tidur. Tepat setelah Kevin menutup sambungan vicallnya tadi. Muna akan mencium kening Annaya sebagai ucapan selamat malam pada bayinya tersebut. Tapi, betapa kagetnya Muna, menyadari tubuh itu panas, bukan hangat lagi. Segera ia ambil thermometer. Dan benar saja, suhunya 38, 9 derajat. Panas bukan.


Ibu mana tidak panik saat bayinya demam tinggi. Suami adalah partner utama yang akan di hubunginya untuk bersama-sama mencari jalan keluar. Tapi, bukannya tenang. Justru pikiran Muna tambah kacau saat berkali-kali menguhungi Kevin tapi tak aktif.


Memasang rompi piayamanya, bahkan dengan sandal rumahan. Muna segera menutupi bayinya dengan selimut, menggendong Annya dan berlari ke UGD tak jauh dari rumahnya.


Ami tak sengaja keluar untuk mengambil minuman di dapur. Tanpa banyak tanya, ia hanya mengikuti majikan barunya yang dengan cepat berjalan menuju arah rumah sakit.


“Ini, minum dulu bu. Tenangkan pikiran ibu.” Ami menyodorkan botol air mineral untuk Muna.


“Terima kasih Mi.” Muna mendongak dan menerima botol minuman dari Ami, menenggaknya hingga rasa dahaganya berkurang.


“Tadi de Naya kenapa, bu?” tanya Ami pelan.


“Ga tau kenapa, tiba-tiba demam.” Jawab Muna risau.


“Mungkin kangen papanya bu.” Jawab Ami asal.


“Masa bisa begitu …?” heran Muna pada kalimat Ami yang memang sudah paruh baya itu, mungkin memang sudah banyak pengalaman yang ia lewati.

__ADS_1


“Ya bisa lah bu. Namanya juga anak-anak. Masih bayi pula. Dulu, waktu anak Ami masih bayi begini, juga sering di tinggal ayahnya. Karena mencari nafkah di kota lain. Anak Ami sering demam tanpa sebab. Dokter ga ada, puskesmas juga jauh. Anaknya rewel bu, nangis sepanjang malam. Tidak jelas maunya apa. Dikasih air putih susah, di kasih makan apalagi. Hanya di kompres dengan pucuk daun yang berlendir saja. Untuk membantu mengurangi panasnya. Pun tak langsung reda. Pagi-pagi, tetangga sudah pada heboh, ternyata ikut terganggu dengan tangisan anak Ami yang nyaring.” Cerita Ami panjang yang di simak oleh Muna dengan seksama.


“Terus …Mi?”


“Terus ada yang bilang. Itu kangen sama bapaknya. Sok atuh, di cari baju bekas pakai yang masih ada bau keringat bapaknya sebelum pergi. Itu obat kangen. Begitu saran tetangga Ami.”


“Lalu …?”


“Ya, Ami cari. Untung ada bekas kaos dalam kang Ujang yang masih bergantung di belakang pintu. Ami buat untuk selimutnya. Entah itu mitos atau fakta, bu. Demamnya berkurang. Tangisannya reda. Jadi mudah memberi makanan, minuman dan obatnya. Jadi, anak Ami lekas sembuh.” Cerita pengalaman hidup Ami pada Muna.


Hah … apa iya di jaman semodern ini. Masih ada gitu yang ngobatin kangen pakai baju bekas pakai ayahnya. Tapi jika Muna pikir-pikir, sejak hamil Annaya, ini memang terlama Annaya pisah sama Kevin. Bahkan waktu di Apeldorn, saat hamil. Kevin bahkan pindah kerja demi selalu dekat dengannya. Kalo tidak ia ga bisa ngapa-ngapain. Mual, muntah lemes. Hampir mati tak berdaya jika jauh dari Kevin. Pernah sih dua minggu Annaya jauh dari Kevin, waktu Abah Dadang sekarat di China. Tapi tiap malam memang Kevin yang selalu vicall sama Annaya sampai ia tidur pulas. Apa mungkin ikatan batin Annya dan Kevin sebegitu kuatnya, hingga saat empat hari tanpa Kevin Annaya demam tinggi seperti ini. Muna melamun sendiri, demi mendengarkan pengalaman Ami, baby sitter baru itu.


“Bu … keluarga Pasien Annya Intan Mahesa.” Ucap perawat yang ingat dengan Muna yang tadi tergopoh, menggendong Annya.


“Anak ibu terkena infesksi saluran kencing. Nih, air seninya keruh dan baunya tidak sedap. Untung tidak bercampur darah.” Tunjuk dokter  pada diaper yang Annaya pakai.


“Apa penyebabnya?”


“Bisa jadi karena bakteri. Mungkin tidak bersih saat membersihkan bayi setelah buang air besar, atau kurang tepat membersihkannya. Karena perempuan memiliki saluran kencing lebih pendek daripada laki-laki. Akibatnya bakteri lebih mudah masuk ke kandung kemihnya.” Terang Dokter itu dengan rinci.


“Jadi gimana dokter …?” tanya Muna seolah tak bisa berpikir panjang.

__ADS_1


“Kita tangani ya bu, kita rawat inapkan saja malam ini. Sebab, obat akan susah masuk saat keadaannya sudah begini. Beruntung dia tidak sampai muntah-muntah. Itu bahkan akan membuat dehidrasi, nantinya.” Jawab dokter itu lagi.


“Lakukan yang terbaik untuk putriku ya Dokter.” Pinta Muna masih dengan rasa khawatir yang berlebihan.


“Baik. Silahkan tunggu. Kami akan memberikan pelayanan terbaik.” Jawab dokter  itu, yang kemudian memberi catatan pada beberapa perawat yang akan mengurus kepindahan ruang rawatnya.


“Minta yang VVIP.” Celetuk Muna sebelum di tanya oleh perawat yang akan mendata identitas pasien.


Kemudian terlihat kepala ruangan UGD tersebut, mengangguk hormat pada Muna. Ia kenal jika itu Muna. Pemilik rumah sakit tempat mereka menncari nafkah. Tidak menunggu lama. Annaya sudah terpasang selang infus dan berada di ruang VVIP Hospital Hildimar.


Muna mana bisa tidur, saking terkejutnya. Ia hanya duduk sambil mengelus tangan mungil yang tertancap jarum infus itu.


“Maafin mamam yang egois ya nak. Mamam terlalu asyik dengan pekerjaan. Sampai lengah memperhatikan kebersihanmu.” Sesal Muna yang sama sekali tak terpikir menyalahkan dua baby sitternya dalam hal mengurus anak keduanya ini. Yang memang seharusnya mendapat perhatian lebih darinya. Sebab dari dalam kandungan memang perlu perhatian ekstra darinya.


Muna terperanjat, merasakan kasur empuk rata di sampingnya. Sejenak mengingat-ingat terakhir ia duduk di kursi sebelah ranjang pasien. Muna bangun dan terduduk, mendapati dirinya berada di atas bed penunggu pasien. Sedangkan di hadapannya, ia melihat Kevin, suaminya sudah duduk menggantikan posisinya semalam. Dengan tangan yang tak lepas menggenggam tangan mungil berselang infus.


Rupanya, Kevin pulang semalam. Dan sudah berhasil memindahkan Muna ke tempat tidur yang layak untuknya beristirahat. Pun, merasakan hal yang sama. Merasa bersalah akan keegoisan mereka yang mulai gila akan pekerjaan. Hingga lupa, ada buah hati yang belum bisa berbicara, dalam hal mengungkapkan inginnya. Yang masih sangat memerlukan waktu dan perhatian mereka berdua, walau telah mempekerjakan dua orang baby sitter. Tetap tak mampu mengantikan posisi mereka sebagai orang tua.


“Abang …, tidur di sana, biar lebih nyaman. Biar Muna lagi yang jaga de Naya.” Bisik Muna membangunkan suaminya. Sambil mencium-cium telinga dan kening suaminya dengan lembut.


Kevin tak susah bangun, apalagi kalau di cium-cium. Tubuh Muna sudah di rengkuhnya, duduk di atas pahanya berpangku.

__ADS_1


“Tempat tidur ternyaman itu hanya di atas kamu, sayangku.” Hah. Anak sakit juga masih mesum. Vin … Vin.


Bersambung …


__ADS_2