
Gilang mengerti, sangat paham dengan prilaku Gita yang sering berubah tiba-tiba. Waktu 7 hari di Cikoneng baginya bagai sedang mengambil kuliah semester pendek untuk memahami bagaimana cara menikmati susah senang menghadapi seorang wanita hamil muda bahkan anak pertama. Sedapat mungkin Gilang menyingkirkan egonya, dan mengutamakan kebahagiaan hati istri yang sedang mengandung darah dagingnya. Konon, membuat hati istri bahagia akan melahirkan anak yang cerdas. Entah itu mitos atau fakta.
Kue Nona Manis itu sudah berhasil masuk dalam rongga mulut Gilang. Matanya berbinar, bahkan sebelum kue itu benar benar habis dari gigitan pertamanya.
“Manis dan lembut banget ya, kaya Eneng rasanya.” Puji Gilang setelah menelan kue pada gigitan pertamanya.
“Masa … Eneng seenak itu A’ …?” Gita bahagia mendapat pujian sedemikian rupa oleh suaminya.
“Eneng lebih legit sih, tapi untuk ukuran pemula bahkan ini buatan pertama. Eneng berhasil, juara mah istri a’a dabest.” Gilang sudah menghadiahi kecupan di kening Gita.
“Makasih ayah …” Manja Gita memeluk suaminya yang sudah wangi setelah mandi siang tadi.
“Sekarang tugas a’a mencicipi masakan Eneng.” Gita membuka piring yang masih terbalik di atas meja. Menyendokkan nasi untuk suami tercinta. Sudah menajdi kebiasan seorang Gita yang sudah semakin pandai melayani suaminya.
“Serba ikan ya, Neng …?” Komentar Gilang melihat sajian di atas meja makannya.
“Hu”um A’. Dede bayinya gemesh liat olahan makan dari ikan. Semua mau di buat, semua mau di makan gimana dong?” jawab Gita yang seolah berubah menajdi wanita super manja.
“Ya ga papa. Yang penting dede bayinya banyak makan. Oke .” Gilang mana pernah bertingkah soal makanan. Apalagi ini adalah sajian tersempurna yang istrinya buat, tentu saja walau nanti rasanya tak sesuai ekspektasi. Gilang akan tetap memujinya.
Suapan terakhir Gilang, hampir tak sempat tertelan. Akibat suara bel pintu yang tak berhenti berbunyi.
“Minum dulu A’. Biar Bi Inah yang buka pintu.” Gita menyodorkan segelas air putih untuk Gilang yang sungguh kaget mendengar suara dari luar pintu tersebut.
“Om Laaaaaang.” Huuuuh Bocah. Bocah. Siapa lagi kalo bukan Aydan. Yang sudah berlari menghambur menuju dapur tempat Gilang dan Gita bertengger menikmati makan siang mereka.
“Kakak Ay …” Sahut Gilang tak kalah semangat.
“Hai Auty Gita.” Sapa Aydan yang sudah duduk berpangku pada Gilang.
__ADS_1
“Hallo gantengnya Aunty. Sudah makan sayang?” tanya Gita gemas pada keponakannya itu.
“Cudah … tadi Ay makan udang becaaal. Ada ailnya scluup sluup, enaaak banget Aunty.” Kisahnya dengan suara cadelnya. Memberi info jika ia baru saja menikmati sup udang galah.
“Kak Muna ...” Gita baru melihat ada Muna yang berjalan sendiri menuju meja makan itu. Dan segera keduanya berpelukan.
“Wauw … ada yang seger nih. Kue apaan ?” mata Muna tertuju pada piring berisi kue Nona Manis buatan Gita.
“Cicipin deh, buatan bumil lho.” Gilang promosi karena jamin Muna pasti suka.
“Makan Kak.” Tawar Gita lagi pada Kevin yang masuk menggendong Annaya.
“Boleh … boleh. Tapi masih agak kenyang sih. Nanti lah.” Jawab Kevin yang tak selera melihat sajian yang terhampar di meja makan adiknya tersebut.
“Pap, cobain deh. Kuenya enak lho … beli online ya Git?” tanya Muna yang mengabaikan informasi dari Gilang tadi.
“Itu buatan bumil Bu Mona.” Ulang Gilang pada Muna.
“Gimana Pap, enak?” tanya Muna yang baru saja menyodorkan kue itu pada Kevin untuk mencicipinya.
“Di lidah Abang itu kemanisan.” Jawab Kevin jujur.
“Ya iyalaaah … yang nyuapin Abang udah manis duluan.” Puji Muna pada dirinya sendiri. Membuat semuanya terkekeh.
“Serius enak Git. Habis nih?” tanya Muna penasaran dan sepertinya bumil yang satu ini masih ingin memakan kue itu.
“Ada … sisa 4 biji masih dalam panci.” Jawab Gita memastikan ketersediaan kue itu.
“Beneran buat sendiri …?”
__ADS_1
“Ya iyalah kak. Tuh, daun pandannya aja masih sisa sama tepungnya.”
“Ya udah kita buat lagi yuks. Beneran cocok di lidahku.” Ujar Muna yang tak menggubris tawaran makan dari Gita.
“Serius mau bikin kue bareng, ya ayoo.” Semangat Gita ada yang menemaninya berkarya kembali.
Sementara Kevin, tak bisa melarang. Juga tak berani bilang capek dalam urusan menjaga Annaya. Sebab, mereka ke rumah Gilang memang tanpa Ami dan Laras. Dan juga, bukankah Kevin sudah berjanji akan bertanggung jawab dalam hal menjaga Annaya lebih banyak, demi menjaga keberlangsungan kehamilan Muna yang ke tiga ini. Jadi, bersabar dan pasrah saja menjadi papa siaga menjaga dua anak balita adalah pilihan yang tak bisa di elakkan.
Aydan sudah membawa satu tas legonya. Menghampar mainan di tempat datar adalah kebiasaannya. Sementara Gilang, sudah pamit akan kembali ke perusahaan. Sebab ia harus menyiapkan susunan acara untuk peresmian anak cabang di Cisarua. Gita dan Muna sudah tenggelam di dapur, tertawa bersama dan berbagi cerita sementara membuat kue yang ternyata di sukai Muna itu.
“Ini tahan berapa lama ya Git. Kayaknya enak deh buat camilan malam-malam. Sambil ngeteh panas gitu.” Muna membayangkannya saja suka, apalagi sungguh saat menikmatinya.
“Kalo baca di resep sih, tahan untuk beberapa hari kedepan. Asal di taroh di tempat sejuk dan di kemas dengan cara yang benar.” Jelas Gita.
“Emang ada cara ngemasnya yang salah?” tanya Muna agak heran.
“Ada kak. Sebab kue ini ada yang manis juga ada yang asin. Jadi pastikan menyimpannya sesuai klasifikasi rasa yang sama. Terus juga kue ini ga harus rasa pandan dan hijau.” Urai Gita bak pembuat kue professional.
“Oh ya … berarti bisa di buat jadi warna ungu donk.” Ujar Muna bersemangat.
“Bisa dong. Tinggal ganti perasa dan pewarnanya saja." Terang Gita.
“Iiiih … kamu punya stok perasanya ga. Aku mau yang ungu dong. Pasti lucu dan enak. Ga ada wangi pandannya juga kan”
“Pandan hanya optional Kak.” Jawab Gita santai. Sambil membuka lemari stok bahan kuenya. Dan ketemu. Sehingga duo bumil itu makin sibuk dan terlena di dapur melakukan hobby baru mereka.
Kevin sudah berhasil menidurkan Annaya, setelah menenggak sebotol susu. Bayi itu kekeyangan dan terbuai di alam mimpinya. Tak jauh beda dengan Aydan, yang sebelumnya sempat merengek minta di buat kan susu di gelasnya. Kini bocah itu sudah tertidur di antara mainanyang berserak di lantai.
“Jadi pengasuh bayi begini amat , ya.” Batin Kevin menyeka keringatnya. Lalu tanpa di perintah membuka tudung saji dan duduk mencomot ikan panggang di atas meja Gita.
__ADS_1
“Hoeeek. Hoeeek.” Gita dan Muna sama –sama menoleh ke asal suara. Sama kagetnya melihat ternyata Kevin yang mual dan beruntung sempat lari ke wastafel terdekat, untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Bersambung …