
Pintu kamar mereka terdengar di ketuk dari luar. Juga di sertai teriakan khas bocah 3 tahun lewat itu.
"Papaaaaap...,
Mamaaaaam." Teriaknya kencang.
"Tok tok... ada olang di dalam??? Tok tok." Celotek suara cadel itu, siapa lagi pemiliknya? kalau bukan Aydan Attallah Hildimar yang selalu ada ada saja tingkah polah lucunya.
Kevin dan Muna hampir jatuh terjerembab, keduanya blingsatan seperti pasangan mesum yang akan di grebek massa. Mereka masih polosan gais, seutas benang pun tak ada tersampir menutup tubuh mereka setelah bermain main di atas sofa tadi.
Muna terbirit, memungut daster yang ia pakai tadi. Memasangnya dengan cepat juga kain segituga berenda ungu, yang juga ada di lantai. Kevin memilih berjalan menuju kamar mandi, merendam tubuhnya di dalam bath up. Sempat memungut celananya yang juga berserakan di lantai. Makanya bos... malaman dikit kenapa cekgoy nya, di labrak Aydan deh.
Muna bagai kilat, melesat membuka pintu, dengan nafas sedikit terengah engah. Menyambut Aydan bocah kesayangan.
"Mamaaam. Tadi Ay bobo sama papap. Ta... tapi ... tapi pas Ay bangun. Papap ilang. Papap di mana, mam?" lapor Aydan yang kini sudah dalam gendongan Muna. Kakinya melingkar di pinggang Muna, persis bayi koala.
"Ada kok, papap di situ. Lagi mandi mungkin." Tunjuk Muna ke arah kamar mandi.
"Pap... papap di dalam...?" akting Muna seolah tak tau jika Kevin, tadi jelas jelas lari ke arah kamar mandi mereka.
"Heeem... iya." Jawab Kevin tak kalah memainkan perannya, dengan suara agak nyaring. Agar Aydan mendengar suaranya.
"Mam... ini kenapa? Cakiit mam??" tanya Aydan sambil menunjuk-nunjuk ke arah leher Muna yang terdapat beberapa bercak merah keunguan.
"Hhah..., mana?" Muna pura-pura tidak sadar, pura-pura tidak tahu ada bercak merah di sana. Padahal dalam hatinya ngedumel sendiri. "Pasti abang sempet buat banyak tadi, cap-capan di leher**ku." Umpat Muna dalam hati.
"Mam..., mam. Kenapa mam? banyak Mam.... catu, ua, iga, apat, imaa. Ima Mam.... banyak." Oh... Aydan mengapa di usiamu yang tiga tahun ini kamu sudah pandai berhitung? itu buat mamamu malu, tau.
"Mam... juga ga tau Ay." Ujar Muna menggaruk-garuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal.
Muna harus bilang apa? kan tidak mungkin dia bilang kalau dia baru saja digigit oleh papap Aydan. Muna segera memutar otak dan dengan asal saja menjawab seadanya pada Aydan.
"Aah... eeh. Tadi ada laba-laba, Ay. Iya, ada serangga menggigit leher mamam." Jawab Muna berbohong. "Laba-laba...? tanya Aydan antusias.
"Laba-laba itu Cepidelman, Mam? Ay like mam. Ay cab see, mam." Aydan lama bersama Muna di Belanda. Kadang Muna dan pengasuhnya juga menggunakan bahasa Inggris padanya. Sehingga ia kadang menggunakan bahasa itu.
"Oh... No. Ay. Not spider-man." Jawab Muna bingung sendiri menjelaskannya.
__ADS_1
"Mam... laba-laba itu cepidelmen yang bisa di dindinh, di atas cana, melompat, loncat loncat tinggi tinggi." Aydan menjelaskan penjabaran tentang spiderman yang ada dalam gambaran di otaknya.
"No... Ay. Bukan itu sayang." Bantah Muna pada imajinasi laba laba dalam pikiran Aydan.
"Laba-laba bukan cepidelmen? Cepidelmen wanna meyah dan blue, mam." Jelasnya lagi.
"No... Ay. Bukan yang itu. Laba-laba itu serangga, warnanya hitam. tangannya banyak, bisa menggigit juga." Jelas Muna. Keduanya tiba-tiba harus terlibat obrolan unfaedah tentang serangga.
"Hah... wanna hitam...? Black mam?" tanya Aydan takjub. Muna tak tahan lama menggendong Aydan. Ia pun membawa Aydan duduk, di sofa bekas mereka melakukan hal yang mereka inginkan tadi.
"Hm..." Jawab Muna tanpa penjelasan.
Aydan meraba bekas jejak cinta hasil perbuatan ayahnya tadi, dia baru tahu kalau laba-laba juga ternyata bisa menggigit leher bahkan leher ibunya sendiri.
"Mam... mam. Mana laba-laba nya m...? Ay mau liat." Pinta Aydan seolah penasaran dengan binatang itu.
"Tuh... laba-labanya masih ngendon di kamar mandi." Tentu jawaban itu hanya Muna simpan di dalam hati. Mana Aydan mengerti dengan perbuatan orang tuanya tersebut.
"Mam... Laba-labanya ilang? cudah telbang?" cecar Aydan lagi.
Muna tepuk jidat serasa menyesal jika tadi dia harus berbohong. Tapi jujur juga tidak mungkin kan.
"Ooh... nyamut mam?" Aydan menyimpulkam jika yang Muna maksud adalah seekor nyamuk.
"Iya... benar laba-laba temannya nyamuk, Ay. Sama sama bisa gigit."
"Ooh... nyamut cama laba-laba teman?" Aydan sedikit mengerti.
"Heeemm... iya." Muna memilih tidak bersebrangan dengan Aydan. Takut kehabisan kata kata, dan lebih buruk memberikan informasi yang salah pada anak pertamanya itu.
"Ngobrol apasih... serius sekali." Kevin sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dengan rambut basahnya, dan lilitan handuk pada pinggangnya. Mempesona.
"Pap... mamam cakit." Aydan menoleh dan memberi informasi pada ayahnya.
"Hah... sakit apa?" kejut Kevin. Bukannya barusan di genjot sampai mentok, oke oke saja, pikir Kevin.
"Itu... yehey maman cakit. Di gigit laba-laba, temennya nyamut nakal pap." Jelas Aydan yang sudah turun dari pangkuan Muna, lalu berjalan ke arah Kevin. Dan menarik telunjuk ayahnya merapat ke tempat Muna berada.
__ADS_1
Kevin tersenyum devil, menertawai wajah masam Muna di sofa tadi.
"Itu ga sakit Ay. Ga luka juga, nanti juga sembuh." Jawab Kevin dengan tenang tanpa beban.
"Oh... tidak cakit pap?" beo Aydan mengulang info yang di dengarnya.
"Tidak sayang. Sudah ya. Sini papap mandikan kakak. Sebentar lagi kita mau ke Bandung. Suka tidak?" tanya Kevin mengalihkan topik. Sementara Muna sudah tanpa suara melangkah ke kamar mandi, untuk mandi wajib.
"Cuka pap. Ay cuka di cana. Ada kolam lenang. Nanti kita benang ya pap...?" Aydan sudah membayangkan senangnya mandi bersama Kevin sang ayah kebanggaannya itu.
"Oke... kakak. Siap." Jawab Kevin sungguh sungguh.
"Omes pap?" Aydan selalu mengangkat jari kelingkingnya jika mengeluarkan kata itu pada sang ayah.
"Omes sayang." Jawab Kevin memeluk Aydan.
Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah di rumah bab Rojak. Mereka pun bertolak. Selalu ada Laras ikut serta dengan mereka, sebagai pengasuh Annaya.
Aydan mana mau duduk di dekat Muna atau Kevin jika ada babe Rojak dan nyak Time. Ia selalu memilih engkongnya teraebut.
"Kong.... tadi di kamal mamam ada cepidelmen." Cerita Aydan pada babe Rojak dan nyak Time.
"Cepidelmen apaan Ay...?" Celetuk nyak Time.
"Laba-laba nyi...." Jawab Aydan cepat.
"Labe-labe dari mane, rumah gedongan, bersih, besar macam entuh kok ada labe-labenye?" tanya Nyak Time penasaran.
"Ada... tadi gigit mamam. Di cininya. Banyak melah melah." Tunjuk Aydan pada lehernya sendiri.
Mampus daah, malu ga tuh Kevin sama Muna, sok so' an bercinta sore sore, ninggalkan jejak pula.
"Ooh... nyang entuh bukan labe-labe Ay. Tapi Spidermen bisa gigit leher manusia." Laah... nyak Time bikin Aydan balik lagi kan bahas Spiderman.
Bersambung....
Ha...ha...haaa
__ADS_1
Bahas Spiderman saja sampe satu bab.
Maaf yeee😁