CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 103 : MAU ANAK CEWEK


__ADS_3

"AAABBAAAAAANG!!!" Histeris Muna saat matanya melihat handuk putih itu sejajar dengan mata kaki Kevin. Dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil bergeser menjauhi dirinya.


"Mae... apa siih. Bisa ga, mulutnya ga teriak-teriak gitu. Untung kamar ini kedap suara, kebayang ga sih? Suara teriakanmu itu bisa bikin orang mikir ada praktik pembunuhan atau pemerkosaan di sini." Kevin kesal pada Muna kemudian berbalik ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Abang mesum." Serunya dengan tajam.


"Mesum apaan? Otak Mae yang ngeres." Kevin ikutan bernada tinggi.


"Handuk abang... tuuh masih di lantai pan. Abang mesum!!!" Muna masih menunduk ke arah lantai, tidak berani melihat ke atas, lebih atas dari lutut Kevin.


"Buka tutupan matamu dan lihat dengan benar. Abang hitung sampae tiga, kalo ga. Abang beneran telanjang deh di depan Mae." Ucap Kevin yang bahkan sudah memasang pakaian atasanya. Dan bagian tubuh bawahnya sejak tadi memang sudah menggunakan boxer dan celana pendek di atas lutut. Hanya sengaja di lilit kembali dengan handuk.


Secepatnya Muna membuka tangan yang ia gunakan untuk menutup matanya dan melotot ke arah Kevin yang memang tampak telah berpakaian dengan sempurna.


Pletakh...


Kevin sukses menjitak dahi kekasihnya itu dengan gemas.


"Bilang sama abang kriteria mesum dalam otak kamu itu yang bagaimana Mae...?" tanyanya dengan suara yang sudah melunak.


Muna cengegesan sambil menggosok dahinya bekas jitakan Kevin.


"Ya maaf... Muna kire abang keluar tadi cuma pake handuk doang. So' so' an jadi model iklan yang lagi promosi gitu bang." Jawab Muna malu setengah mati, sambil menjepit bibirnya.


Kevin dan Muna terpingkal mengenang masa itu. Saat Muna yang selalu double gardan,. menjaga dirinya dari kemungkinan tindakan mesum sang cassanova.


Sejak awal Muna tau Kevin play. Tapi ia sudah suka pada pertemun pertama. Sejak pertama kenal, ia juga tau attutude Kevin buruk, tapi ia yakin semua bisa berubah seiring waktu juga perhatiannya. Juga atas ijin yang maha kuasa serta dari keinginan dirinya sendiri.


Sehingga terbukti, kini Kevin kadang sudah ngalahin ustad kalo sudah ceramah. Tapi, dalam urusan bercinta, hmm... jiwa petualangnya tetap tak reda. Padahal usianya pun sudah di angka 38.


Perut keduanya sudah terisi, setelah selesai berolahrga malam. Beruntung amunisi Aydan dan Naya juga masih banyak, sehingga tidur balita itu tampak masih pulas.


Kesempatan bagi Muna bermanja dengan sang suami, tidur dalam dekapan hangat yang selalu membuatnya nyaman, meletakkan kepalanya di lengan Kevin yang selalu terbuka untuknya.


Tentu saja pucuk kepala Muna selalu di cium cium oleh sang suami yang selalu jatuh cinta pada istrinya setiap hari, tak kenal kata bosan.


"Resort itu abang beli?" tanya Muna memastikan yang Siska spill tadi.


"Hmm..." Dehemnya.

__ADS_1


"Hmm itu ape artinye bang?" tanya Muna lagi.


"Abang cuma mengubah nama kepemilikkannya sayang." Ujarnya sambil menyimpan senyum di lipatan bibirnya.


Plakh.


Muna memukul pelan perut Kevin.


"Itu siih sama aje dengan beli, abang ku sayang."


"Kalo ga gitu, sampe tua tu kamar beneran ga bakalan bisa di pake buat kikuk-kikuk sama Mae, dong." Alasan mesum Kevin kumat dong.


"Hmmm... alasannya ga jauh jauh dari otong aje." Cerca Muna menepuk nepuk otong.


"Tangannya tolong di kondisikan bu. Kalo dia bangun, cuma si mumun yang bisa menidurkannya lagi." Ucap Kevin dengan santainya.


"Eh... ga jadi kalo gitu." Muna membalik tubuhnya memberi punggungnya.


"Selamat malam sayangku, cintaku, nafasku, selamat tidur." Peluk Kevin pada tubuh yang sudah membelakanginya tersebut. Bak guling besar tubuh Muna berhasil di peluk oleh Kevin.


Keinginan yang sama, pada pasangan lainnya. Ingin senantiasa di perlakukan mesra, tanpa memandang usia juga masa. Sehingga para wanita selalu merasa di lindungi, di sayang dan merasa berguna bagi pasangan walau sudah beranak lebih dari satu.


Pagi cerah merekah, di sambut mentari yang menjalar hangat. Posisi tidur Muna dan Kevin pagi itu, tentu sudah tak sesuai konfigurasi awal. Sebab ada Naya yang sudah nemplok di dada Muna, juga Aydan yang sudah bertelungkup di atas dada Kevin. Perubahan formasi itu terjadi tepat setelah Kevin dan Muna menyelesaikan sholat subuhnya.


"Morniing kaka Ay." Jawab Kevin dengan suara tak kalah semangat.


"Morniing Naya... cup." Pipi Naya plus pipi dada Muna di senggol dengan sengaja oleh Kevin. Di sambut senyum kecut Muna.


"Hati-hati pap. Cium de Nayanya. Nanti kena mamam." Hardik Aydan melihat hidung Kevin tertabrak galon air milik Naya tadi.


"Oh... ga boleh kena mamam ya. Ya sudah di sini saja. Cup." Kevin beralih mencium pipi Muna, sampai wajah itu bersemu merah masih merasa malu.


"Iiih... papap cium mamam." Ledek Aydan merasa geli.


"Hah?? ga boleg juga?" tanya Kevin pada Aydan.


"Ga boyeh. Itu mamam Ay cama Naya. Yang boyeh cium, Ay aja."


"Masaaa... papap boleh cium siapa donk?"

__ADS_1


"Cium de Naya aja. Ini mamam Ay." Ujarnya memeluk Muna dan mengusap pipi Muna bekas ciuman Kevin.


"Oh gitu... oke. Oke." Jawab Kevin tidak mau membahas soal itu dengan anak comelnya tersebut.


"Pap... kata tete Ica. Hali ini kita ke pantai. Iya pap?" tanya Aydan memastikan.


"Oh... ya donk."


"Papap ikut?"


"Pasti. Yuks... kita sarapan dulu, biar cepat sampai pantainya." Semangat Kevin.


"Kesananya pake apa pap?" heran Muna yang tau mobil mereka di bawa Tama.


"Tama sudah 30 menit nunggu kita di depan." Jawab Kevin santai.


"Waaah... kasihan Tama lama menunggu kita." Muna merasa bersalah.


"Ga papa. Bos itu bebas sayang." Kekeh Kevin.


"Ay... mandi sama papap ya. Biar mamam ngurus de Naya aja." Gendong Kevin pada anak sulung ke banggaanya itu.


Mana mungkin Aydan menolak, dekat dan banyak waktu bersama ayahnya adalah kebahagiaan Aydan yang sulit ia ungkapkan.


Mereka sudah tampak siap, kecuali sarapan. Kerena mereka memang bersepakat akan menikmati makan paginya di perjalanan menuju pantai nanti.


Dan benar saja, bukan hanya mereka yang bersarapan di jalan. Gita juga tiba-tiba ngiler melihat gaya makan Aydan yang lahap sekali. Walau hanya sosis bakar, buatan bunda Laras.


"Bunda Laras ada buat yang ayam ga?" tanya Gita pada Laras pengasuh Aydan juga Naya.


"Ga ada non. Kalo sosis semua sapi. Kalo baso sih ada yang ikan. Mau?" tawar Laras antusias.


"Mau... mau. Iih emang maunya yang ikan." Jawab Gita dengan riang.


"Cieee yang mau punya anak cewek." Ledek Kevin melihat ekspresi Gita yang selalu ia dapati menjadi penyuka ikan.


"Hah... kakak apaan siih." Malunya tak terbendung.


"Sejak kemarin udah cek belum?" cecar Kevin.

__ADS_1


Gita dan Gilang saling berpandangan. Baru sadar jika dua minggu ini Gita memang terlambat datang bulan, dan keduanya selalu lupa untuk memeriksanya, walau hanya dengan tespack.


Bersambung...


__ADS_2