CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 206 : MEREKA MASA DEPANMU


__ADS_3

Saat rungunya mendengar mamanya meminta bantuan untuk membiayai pengobatan kakek Sudrajat, Gibran sudah malu. Apalagi saat netranya melihat sang mama sempat berlutut memohon pada ibu Gilang. Aliran darah Gibran sungguh hampir terhenti. Tak sanggup jiwanya melihat betapa sang mama menurunkan egonya mengemis pada orang yang jelas pernah luka dan kecewa karena kehadirannya.


Gibran sudah dewasa sekarang. Masa otaknya tak bisa memindai dengan benar mana hal baik dan hal buruk. Saat tau Edy Sudrajat beristri dua saja, baginya itu sudah janggal. Saat samar mengingat pernah punya kakak bernama Arum dan Gilang di rumah besar Sudrajat saja, Ia merasa aneh. Akan hubungan kekerabatan keluarga itu.


Lalu saat ia tau jika Edy bukan ayah kandungnya, mengertilah dia. Bahwa mamaya tak lebih baik dari seorang pelakor. Tapi, anak mana yang tidak membela orang tuanya sendiri. Walau itu salah. Sedapat mungkin sang anak akan mencari alibi untuk membenarkan keputusan juga alasan yang telah di lakukan orang tuanya.


Tapi, apakah Gibran mengijinkan mamanya kali ini mengulang kesalahan di masa lalu. Dengan memanfaatkan keadaan Gilang yang jauh lebih beruntung dari mereka sekarang. Lihatlah, bukankah smeserta sedang menunjukkan karmanya. Gilang kecil yang dulu sangat menderita lika hati juga mungkin fisik. Hanya sedang menuai kebaikan yang pernah ia tebar. Tapi, apa kabar ia dan mamanya yang pernah menabur angina. Bukankah kini saatnya mereka sedang menuai badai?


“Hanya orang kaya yang tanpa persiapan saja, mampu memberikan nuang lima juta secara Cuma-Cuma begini, Bran.” Ulang Lisa dengan tegas pada sang anak.


“Tidak kah mama pikir itu hanya kalimat basa-basi. Bisa saja mereka memang berencana menyiapkannya.” Gibran mencoba meluruskan pikiran mamanya.


“Ya … walaupun itu basa-basi. Tapi itu sungguh mengisyaratkan jika mereka memang orang mampu. Setidaknya mama tak perlu pusing memikirkan di mana mama pinjam uang untuk biaya pengobatan papamu. Kamu tau sendiri keuangan kita. Hasil jual asset kakekmu Sudrajat itu sudah habis untuk pengobatan papamu yang juga tidak sembuh-sembuh. Dan lihatlah, orang-orang di desa itu bahkan sudah mengantar kakekmu pada kita, saat ia sudah sekarat.” Umpat Lisa dengan nada emosi.


Ternyata selama ini, Lisa memang mengirimkan Sudrajat ke desa. Agar di rawat oleh saudaranya saja di sana. Sementara asset yang Sudrajat miliki sudah ia gunakan untuk biaya hidup, pendidikan dan pengobatan suaminya. Dan uang setinggi gunung pun akan runtuh bukan, jika terus di gali tanpa pernah ada niat untuk menimbunnya kembali.


“Usahakan, berhutangpun jangan dengan mereka Ma. Gibran malu menjalani hari-hari Gibran di kantor saat bertemu mereka. Kita pernah jahat pada mereka. Gibran malu.” Jujur Gibran pada sang mama.


“Letakkan saja rasa malumu di bawah kakimu. Apa kamu mau papa dan kakekmu itu mati hanya karena kita tak punya biaya?” hardik Lisa pada Gibran anakmya.


Gibran bukan malaikat. Bahkan hati kecilnya diam-diam sudah ikhlas jika dua orang itu mati saja. Dari pada hidup hanya sakit-sakitan. Untuk apa memanjangkan usia mereka, toh mereka tidak produktif. Bisanya hanya menyusahkan saja. Itu hanya pergolakan dalam hati Gibran. Ia hanya sedang berada dalam titik jenuh, berusaha tanpa bermuara. Ingin berhenti pun di atas rel yang belum kelihatan mana ujung terminal.


“Ibu mau Gilang bagaimana?” tanya Gilang sebelum kembali kerumah. Saat Gita terlihat mengobrol pada Arum. Juga, Guta sengaja membiarkan suaminya berbicara dari hati-ke hati berdua saja dengan ibunya.

__ADS_1


“Maksudnya …?” Ibu Gilang pura-pura tidak mengerti akan arah pertanyaan Gilang.


“Apakah ibu mau Gilang bantu kakek ?” Gilang memperjelas pertanyaannya pada sang ibu.


“Saat kamu menyebutnya kakek saja, ibu sudah bangga. Dan saat kamu bersedia membantunya, maka ibu merasa bangga telah berhasil mendidikmu menjadi lelaki sejati sesungguhnya. Di cuci bagai manapun, dia adalah kakekmu, ayah dari ayahmu. Tidak ada kamu jika tak dari dia.” Ucap Dian lirih dengan suara pelan.


“Kamu tak punya banyak kesempatan berbakti pada ayahmu, maka wujudkan syukurmu saat Allah memberimu kesempatan untuk memanjangkan usia kakekmu.” Ucapan ini jelas dan lugas. Jika ibu Gilang sungguh meminta Gilang berbakti pada sang kakek.


Gilang diam saja. Dengan terus memandang lekat wanita yang terlihat berbicara dengan tatapan nanar. Seolah hati dan ucapanya tidaklah singkron.


“Apa alasan ibu meminta Gilang membantunya?” setelah hanya suara jangkrik saja mengisi kekosongan itu, Gilangpun bersuara.


“Karena Allah. Ibu takut akan Allah. Ibu tidak berani mendahului Allah, untuk lebih lama menyimpan kebencian.” Ada buliran bening jatuh di kedua pipi wanita yang melahirkan Gilang ke dunia.


“Gilang benci melihat airmata ini jatuh bu. Gilang ingin ibu selalu bahagia.” Ujarnya mengusap air yang jatuh itu dengan telunjuktangannya.


“Baiklah … semua akan Gilang pikirkan. Dan juga akan Gilang diskusikan dengan neng Gita. Tapi, maaf. Ibu jangan kecewa jika nanti kami tidak bisa maksimal menolongnya.” Jawab Gilang tidak berani menjanjikan apa-apa.


“Tidak … tidak perlu maksimal. Selama ada niatmu sedikit saja menolong mereka. Ibu sudah sangat berterima kasih denganmu. Maaf membawamu dalam masalah keluarga ibu yang tak kunjung usai sejak dulu.” Ibu Gilang merasa malu, pada urusan masa lalu yang terseret ke masa sekarang. Padahal ia kira semuanya sudah berakhir tepat setelah ia di usir dan tidak di anggap menantu Sudrajat lagi.


“Masalah ibu juga masalah Gilang. Ingat jaga jantung ibu, sebab Gilang mau ibu panjang umur dan puas bermain dengan Gwen, cucu ibu.” Manisnya Gilang merata. Tidak hanya pada Gita istrinya. Terlebih pada Dian wanita beruntung yang memiliki hati sebaik Gilang Surenra.


Bersambung …

__ADS_1


Gaees


Udah Mampir ke RAHIM PELUNAS HUTANG belom?


Yang belom, buruan mampir udah mo tamat itu.


Daaan, di sana ada pilihan judul karya baru yang mungkin tayang di bulan Feb.


Pliis bantu komen ya, biar nyak segera lanjut nulis yang mana duluan.


Yang mana duluan aja, artinya keduanya juga akan di tayangkan.


Semoga readers tak bosan dengan karya nyak.


Juga …


Mungkin ini juga akan End.


Dan di lanjutkan dengan kisah anak-anak Kevin dan Muna.


Tapi .. nyak buat hanya jika banyak yang minta saja.


Jika sudah tak berkenan, nyak ga jadi buatnya

__ADS_1


Hihiii… bikin gemezh ga seeeh


Oke… thx attentionnya ya.


__ADS_2