CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 128 : AKSI DAPUR (Part 3)


__ADS_3

Tadinya Gita hanya mau melihat secara detail Gilang memasak untuknya, mulai awal proses memasak sampai selesai saja. Dan muncul ide untuk merekam agar ia bisa menirunya kelak. Mana Gita tau, yang  Gilang lakukan di luar ekspektasinya. Yang justru sangat keren untuk di perlihatkan untu nak-anak mereka kelak. Gilang tak hanya gombal tapi makin gokil juga.


Suaminya tampan, cekatran dan cerdas juga tentunya. Hanya yang ber IQ tinggi bukan, yang mampu mempertahan kan senyum bahkan tawa seseorang dalam durasi yang lebih dari 15 menit. Bahkan yang ia masak hanya sarden kalengan doang. Gilang Gilang, suami super kerena sepanjang sejarah pokonya.


“Lihat ni gaiish… bawangnya udah berubah warna, baru kita cemplungin ikan sarden yang sudah kesesakan di dalam kalengnya. Persis kayak ayahmu dulu zaman kuliah Kadang naik angkot nak, sesak, mana bau keringat


orang-orang di dalamnya 41 macam lagi. Untung ayahmu kuat terhadap segala tantangan hidup. Termasuik tak menyerah saat di minta bunda mu, memasak buat kalian hari ini.” Celoteh dengan narasi yang makin lames itu.


“Banyak omong yaa nak, ayahmu.” Elus Gita pada perut ratanya, sambil senyum mnerasa terhibur.


“Oh iya … di dalam kaleng ini sudah ada rempah dan bumbu yang sudah tercampur dengan komposisi yang sudah di takar dan di timbang dengan seksama. Persis dengan saat ayah memutuskan untuk melamar bundamu. Ayah udah tahajud 3 minggu lho, untuk memastikan dan yakin. Akan hanya memilih bundamu untuk menjadi wanita satu-satunya yang akan ayah lamar menajdi istri satu-satunya sepanjang hidup ayah.”


“Amiiin.” Jawab Gita cepat.


“Berhubung bumbunya kental, sekental rasa cinyta ayah ke bunda. Maka ini wajib kita tambahkan sedikit air, untuk menguras sekaligus memastikan bahwa taka da bumbu yang tertinggal di kaleng. Sama seperti hati ayah dan bundamu dulu, yang sudah di kuras bersih dari masa lalu dari mantan pacar masing-masing.” Wajah Gilang cengegesan sendiri.


“Buseeeet.. detail banget sih.” Balas Gita makin kagum dengan ocehan unfaedah Gilang namun benar itu.


“Okeeeh… sedikt ajha ya airnya, sebab kalo banyak ntar lama nunggu surutnya.” Ujar Gilang lagi.


“Allahu Akbaar.” Teriak Gilang tiba-tiba.


“Kenapa a’… “ spontan Gita berdiri ikut terkejut.

__ADS_1


“Maaf neng, aGi lupa merebis mienya  tadi supaya zat lilinnhya ga banyak masuk ke sini.” Jawabnya pelan.


“Iiih… aGi bikin kaget aja. Kan dii sebelahnya bisa.” Saran Gita pada Gilang yang cukup membuatnya terkejut.


“Iya ya… bener juga.” Secepat kilat Gilang meletakan teplon datar berisi air, agar segera mendidih. Dan setelah blebeg blebeg air itu mendidih ia segera memasukan mie keritingnya tadi ke dalam teplon datar tadi, membiarkannya terendam di sana.


“Alhamdulilah… terkejar waktunya. Sekarang kita  masukan kacang panjang yang sudah jadi pendek tadi ke dalam campuran bawang emas dan ikan sardennya. Kita ambil secubit garam, secubit saja ya supaya tidak ke asinan. Lalu kita tambahkan secuil kaldu jamur, untuk menambah gurih masakkan kita.” Lanjut Gilang yang sepertinya mulai kehilangan kata-kata gombalnya karena lupa meredam mie keriting tadi.


“Untuk apinya kita buat kecil saja ya, sebab kita masih menungugu mie keriting kita melembek. Senenarnya sih bisa aja, minya langsung di cemplungin di wajan ini, tapi airnya harus banyak, terus ikannya kelamaan di masak bisa hancur, sehancur perasaan ayah, saat melihat penampilan tampan mantan bundamu dulu nak.” Gombalnya keluar lagi.


“Plis deh aGi… ga usah bahas soal orang ke tiga, empat dan lima. Ini edisi buat anak-anak kita nanti lho.” Pangkas Gita tanpa mematikan kamera yang terus saja merekam indahnya momen memask mereka itu.


 “Maafkan hamba paduka ratu.” Kekeh Gilang meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kirinya, dan menganggukan kepala. Tanda penyesalan.


“Oh Tuhan… mana ku sangka bersuami gombal dan lebay ini ternyata begitu menyenangkan. Makin cinta kamu aGi… muach, muach, muach…” Gita lagi mengirimkan kiss jauh untuk suaminya yang masih beraksi memasak untuknya.


“Duk aduk aduk. Semuanya di aduk. Persis perasaan ayah yang akan mengucapkan kata Qobul diu depan penghulu, saat akan meresmikan bundamu menjadi istri yang sah di mata Tuhan, agama dan Negara Republik Indonesia, Merdeka.”Teriak Gilang mengejutkan Gita lagi.


“AGiii… plis deh. Ga usah teriak-teriak gitu, bikin spot jantung.” Tegur Gita sebab Gilang makin meresahkan jiwanya.


“Maaf terlalu bersemangat sayang. Daaan… taraa!!! Semuanya sudah matang sempurna. Jangan tunggu tomat dan cabai itu layu dan berubah warna ya. Sebab, semua akan kehilangan vitamin jika semuanya sudah melewati masanya. Tetaplah bertahan pada rasa dan rupa yang sama, walaupun sudah berada dalam penggorengan yang panas. Sama seperti cinta kita, jangan pernah layu apalagi membusuk , lapuk di makan waktu. Tetaplah bertahan dengan warna dan rasa yang sama seperti saat pertama kita saling jatuh cinta. Selamat menikmati, wasallam.” Gilang menutup rangkaian memasak sarden plus-plusnya itu.


“Yeeey… masak. Terima kasih suamiku tersayang, tercinta, tergombal dan terlebay, aku padamu ayah anakuku.” Gita berdiri lalu memeluk Gilang dengan semangat.

__ADS_1


Merenggang sebantar, memandang wajah letih suaminya yang berkeringat setelah kurang lebih 30 menit berhadapan dengan kompor panas di hadapannya.


“Sini… a’. Eneng keringkan keringatnya. Uttuuh tuuh..tuh. Capek ya sayangnya eneng?” timang Gita pada suaminya dengan irama yang amat manja.


“Ga lah, masa masak gitu aja capek. Capek ngeyakinin mama kamu kali neng, agar mempercayai a’a untuk jadi suami eneng.” Ujar Gilang memeluk tubuh istrinya lebih erat.


“Ga usah bahas masa lalu, yang penting sekarang kita udah jadi satu, bahkan udah mau jadi ortu.” Gita melepas pelukan suaminya. Dan akan mengambil piring siap menyantap masakan buatan suaminya.


“Ya ampun. Lupa di stop kamerenya a’. “ Kejut Gita yang baru sadar obrolan mereka masih saja terekam oleh benda pipih milik Gita itu.


Klik. Gilang mematikan kamera.


“Jangan di edit, apalagi di hapus. Supaya anak kita nanti liat cinta kita asli, bukan hasil editan. Toh, semua yang kita ucapkan tadi, tidak semuanya bohong. Maka, biarkan mereka mengetahui bagaimana pasang surut perjalanan cinta kita.” Ujar Gilang memeluk Gita dari belakang.


“Iya suamiku sayang. Semoga Allah menjodohkan kita sampai surge.”


 “Amiin.” Balas Gilang mencium pucuk kepala Gita.


“Udahan mesra-mesraanya, a’. Eneng laper. Dan ntolong saat makan nanti jangan ada narasi panjang, gombal dan lebay lagi. Sumpah eneng laper banget.” Pinta Gita lucu.


 “Ya ampun… lupa masak nasi neng.”Kibul Gilang pada Gita.


“Hah… mas iya eneng Cuma di kasi sarden sama mie sih a’…” teriaknya agak kecewa.

__ADS_1


“Tapi bo”ong.” Ledek Gilang yang selalku suka membuatr istrinya histeris.


Bersambung ….


__ADS_2