
Gilang dan Gita memutuskan untuk pulang saja dari café tersebut. Bukan karena si jaka sudah kebelet mau ketemu iting. Tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sehingga tepat bagi mereka untuk segera pulang. Dan melanjutkan cerita tadi di rumah saja, dengan posisi lebih romantis dari di luar rumah.
Begitu tiba, keduanya menyelesaikan kewajiban untuk sholat terlebih dahulu. Barulah kemudian mengatur di mana tempat keduanya bertengger untuk lagi, melanjutkan kisah yang terjeda dalam perjalanan tadi.
“Jadi neng, sejak itu ayah keluar dari rumah kakek Sudrajat. Dan tinggal bersama ibu di rumah kakek Henra Suteja. Klasiklah neng yang terjadi saat baru nikah. Ibu keburu hamil, ayah masih kuliah. Sedangkan kewajiban laki laki saat sudah memutuskan untuk menikah adalah memberi nafkah pada sang istri. Tapi, saat itu boro – boro ayah kasih nafkah buat ibu. Tinggal saja masih numpang mertua. Bahkan sering ibu yang kasih uang buat transport ayah pergi ke kampusnya.”
“Wah… ibu jadi tulang punggung donk a’. Bukan tulang rusuk.” Celetuk Gita menyela.
“Ya gimana lagi, mereka salah. Yang mereka lakukan sama sekali tidak benar dan tak patut untuk di tiru. Tetapi, hal itu tidak membuat ayah berdiam diri. Ia pun berusaha untuk mencari pekerjaan. Awalnya ikut bekerja di warung makan, tempat ibu bekerja. Dengan alasan menggantikan tugas ibu sebagai pelayan sebab di awal kehamilan. Ibu ngidam parah. Tapi, setelah ibu sudah baikkan. Ia bekerja kembali dan tugas ayah hanya sebagai penjaga parkiran. Hasilnya sedikit sekali, untuk makan saja hampir tak cukup. Untung ikut tinggal di pondok mertua jadi ketutup saja untuk urusan makan. Tetapi ayah sadar mereka tak bisa selamanya begitu, maka berhenti kuliah adalah satu satunya keputusan terbaik yang bisa ayah lakukan agar bisa fokus mencari uang. Jadi ia tak harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja.” Cerita Gilang panjangsungguh dengan runtut.
“Ayah bekerja di banyak tempat, jaga parkir di pasar tradisional lebih ramai di banding di warung makan. Memang sistem bergantian, tetapi ayah lebih banyak dapat sebab kadang jadi kuli angkut juga.
Malamnya jadi spesialis tukang cuci piring lagi di warteg yang buka hingga pagi. Ayah jarang pulang kerumah demi rupiah. Tetapi dengan begitu, ia mampu keluar dari zona nyaman di rumah mertua. Ia sungguh ingin bertanggung jawab pada pilihannya. Jadilah mereka tinggal berdua saja di sebuah kost sederhana tak jauh dari pasar. Sehingga ayah bisa sering pulang menjenguk ibu untuk memastikan keadaanya baik baik saja. Ibu sudah tidak bekerja dwarung makan, membeli peralatan membuatkue. Ia pun di rumah membuat kue untuk di titip di pasar. Mereka sungguh melewati masa tersulit di sepanjang hidup mereka, saat ibu hamil teh Arum.” Kenang Gilang.
“Heem. Sampai kapan mereka begitu a’?”
“Hingga usia teteh setahun saja. Tiba-tiba kakek Sudrajat datang, menemui mereka di kost. Dengan marah setelah tau jika ayah bukan hanya terminal kuliah tetapi berhenti. Kakek kecewa denganbjalan yang ayah pilih, ia cukup kesal ayah menikah. Dan lebih kesal lagi setelah tau kuliahnya gagal. Ia menangis melihat tubuh cungkring ayah yang sudah kehilangan daging juga ketampanannya akibat kerasnya bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan ia dan ibu juga teh Arum. Ayah tak sanggup melihat tangisan sang ayah. Ia tak mau lebih dalam lagi membuat orang yang ia hormati itu kecewa. Maka atas permintaan kakek Sudrajat ayah harus segera mengejar ketertinggalan kuliahnya. Kakek hanya ingin ayah memiliki ijazah, agar kelak tak bekerja kasar. Ia sungguh sedih melihat keadaan sang anak.”
“Ya iyalah… mana ada ayah yang tega melihat anaknya menderita.” Celetuk Gita menyimak kisah tersebut.
__ADS_1
“Lalu ibu di kembalikan pada orang tuanya untuk di urus dengan benar secara sepihak. Dan Ayah tinggal kembali di rumah mereka agar fokus dengan kuliahnya. Ayah tentu menolak karena tak bisa lama pisah dengan teh Arum dan ibu. Tapi, lagi melihat tatapan sayu bundanya yang ternyata sejak ayah menikah terkena serangan stroke, setengah lumpuh. Terlalu sedih memikirkan putranya meninggalkan keluarga. Akhirnya ayah kembali
dan tiap akhir pekan dan tak ada jadwal kuliah, ia pulang ke rumah kakek. Untuk berkumpul dengan ibu juga teteh.” Gita mengangguk angguk.
“Semua berjalan lancar, keuangan ayah pun tak sepilu saat ia memutuskan untuk putus hubungan dengan keluarganya. Ibu dan teh Arum di cukupkan nafkah lahir dan batin, walau tak tinggal di rumah yang sama. Hingga ibu hamil a’a.” Gita menggerakkan alisnya turun naik dan sedikit senyum.
“Kuliah ayah selesai anakpun sudah dua. Tapi walau a’a laki laki. Ayah tidak mau mendedikasikan nama Sudrajat di belakang nama a’a. Sebab katanya, a’a teh lebih banyak di keluarga ibu sejak hamil. Makanya namanya Surendra. Suryati nama nenek dan Henra nama kakek. Di buatnya lah Surenra di belakang nama Gilang.”
“Sejak tadi eneng tuh, nungguin munculnya Gibran Sudrajat a’… bukan Gilang Surenra. Iiih bertele-tele banget sih suami eneng.” Komen Gita geregetan.
“Kan a’a sudah bilang ini teh kelarnya dua hari dua malam. Dan sekarang sudah hampir tengah malam. Jadi sok atuh… waktunya kita tidur. Rahang a’a juga udah pegel neng, bicara melulu dari tadi.” Tukas Gilang sungguh merasa lelah bicara.
Hap
Lalu di lahap oleh Gilang.
Jangan tanya dulu kelanjutan kisah sejarah asal muasal tentang Gibran Sudrajat ya gaes, sebab kisah itu terjeda iklan pembuatan anak. Bukan kisah yang terlontar dari mulut Gilang lagi yang terdengar. Tapi justru desa han e rotis yang menguar di ruang keluarga rumah Gilang.
Ya … rupanya mereka tadi melanjutkan cerita di sofa tengah rumah, hingga malam itu lagi lagi sofa empuk berwarna merah marron menjadi sasaran tempat mereka melepas hasrat yang tak dapat tertunda lagi.
__ADS_1
Decakan bersahutan dari keduanya, saat indra pengecap itu bersatu melebur menjadi satu. Tak kenal dengan rasa lelah apalagi bosan. Gilang sudah tak bisa pergi dari paksaan tangan Gita yang menggiring kepalanya menuju squisy kembar di depan dadanya. Gita yang candu untuk di cumbu. Seolah mendukung dan memaksa Gilang untuk nempel memendar lidahnya menyapu dan membasahi area kenyal kesukaannya.
Sementara itu tangannya pun tak diam saja, ia sudah berhasil melucuti pakaiannya sendiri sehingga tangan Gita yang tadinya mengarah dan merem as rambutnya, kini sudah berada di bawah. Mengelus mesra dan lembut si jaka yang makin on fire.
“Wess… batang jaka makin kuat dan keras sekarang a’…” Gita mulutnya makin somplak saja.
“Jangan berisik itu batang udah siap tanam neng.” Sela Gilang di antara kesibukannya menjelah area pegunungan.
Bersambung…
Haii readers setia nyak😁
Sehat???
Masih semangat ya nungguin tiap partnya.
Hari ini senin ya, boleh kasih vote buat nyak?
Janji hari ini double up deh
__ADS_1
Makasih❤️❤️❤️