CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 115 : GARIS DUA


__ADS_3

Ketukan di luar pintu kamar pengantin membuyarkan euforia yang baru saja terjadi agak lebay. Karena Siska sungguh tak menyangka akan mendapat hadiah dari Daren dan istrinya Zahra. Sungguh Siska sangat beruntung memiliki sahabat seperti Muna, kehidupan ekonomi keluarganya yang meningkat, masa depan adik-adiknya kelak tentu tak menjadi beban hidup lagi. Di tambah lagi, kini ia telah sah menjadi istri sepupu Muna.  Yang walau hanya seorang ASN, tetapi harta dan warisan dari kedua orang tua Muna , sudah menjadi tanggung jawab Asep yang juga mereka anggap seperti anak kandung mereka sendiri.


"Ayo kita jama'ah dulu." Ajak ibu Siska saat pintu kamar sudah terbuka.


"Iya bu." Jawab Asep yang memang sudah siap mengenakan baju koko, dan siap menjadi imam untuk pertama


kalinya di rumah mertuanya. Sebab pak Herman ayah Siska masih teler akibat kebanyakan minum, minuman beralkohol.


Siska langsung berlari ke kamar mandi, bukan hanya untuk berwudhu. Tetapi, sedari tadi ia memang belum sempat mandi, sebab terlalu lama bersama Zahra di dalam kamarnya tadi.


Daren dan Zahrapun, terperangkap dalam rumah Siska. Sehingga memilih ikiut sholat bersama orang-orang di rumah tersebut.


"Nak Asep, jangan tiru bapak ya. Ga malu apa? Baru punya mantu malah mabuk-mabukan." Ujar ibu Siska, saat


mereka berkumpul akan menyantap makan malam mereka bersama di meja makan.


"Insyaallah bu." Jawab Asep sopan.


"Oppa bisa minum juga?" tanya Siska sedikit melotot ke arah suaminya, sambil mengambilkan nasi putih ke atas piring Asep.


"Bisa. Bismillah. Nih, aku minum." Ujarnya cuek, mengambil segelas air putih di sebelah kanannya.


"Bukan minuman itu, paaa. Minuman keras yang ku maksudkan." Lanjut Siska cemberut.


"Ha... ha... ha. Yang beralkohol? Bisa nyai." Jawab Asep tersenyum simpul tanpa beban.


Daren dan Zahra hanya saling pandang dan tersenyum tipis melihat interaksi pasangan pengantin baru tersebut. Apalagi mereka juga tau, bagaimana tidak kompaknya mereka dalam urusan menggunakan panggilan kesayangan di antara keduanya. Yang satu ala Korea dan yang satunya lagi masih ingin mempertahankan kultur ketimurannya. Tetapi, bukan berarti mereka tak saling cinta, hanya Asep sepertinya sangat senang membuat Siska merasa keki dan terlihat bete. Entahlah, katanya di situlah letak cantiknya Siska.


Makan malam selesai, Daren dan Zahra pun pamit kembali ke resort. Sementara di luar rumah Siska, tampak masih berlanjut lagi, dengan hiburan rakyat. Seakan para pelaku seni itu tak ada lelahnya mengekspresikan dirinya untuk terus bernyanyi juga berjoged tak jelas di luar sana. Juga beberapa warga pun masih asyik menikmati tontonan gratis, sebab hanya segelintir orang yang berani naik ke atas panggung untung memberi saweran pada penyanyi yang kadang gayanya justru lebih mirip dengan gerakan senam aerobic, zumba sampai senam lantai.


Seru, heboh dan sangat amat meriah, itulah suasana desa saat pernikahan Siska dan asep di gelar. Namun, sejauh keramaian itu berlangsung, memang taka da aksi brutal yang memungkinkan terjadinya kekacauan. Para pedangang dadakan, satu persatu berkurang. Hilang bersama jualan yang habis terjual. Hal itu tentu saja menghasilkan sukacita yang melahirkan doa syukur yang mereka haturkan pada sang pencipta, pun kepada  pihak peyelenggara yang mempunyai hajat, doa restu, panjang jodoh, berlimpah rahmad dan rizki tentu tak henti, hentinya terucap dalam sanubari mereka yang paling dalam.

__ADS_1


Suasana dalam rumah Kevin yang tepat berada di sebelah rumah keluarga Siska, sedikit demi sedikit berkurang suara candaannya. Sebab setelah Gilang dan Aydan datang, ternyata Gilang tidak membelikan pembalut untuk Gita. Melaiankan mendatangkan ibu Bidan desa itu, untuk memastikan keadaan Gita istri tercinta.


Acara rujakan selesai sudah, adzan magrib pun sudah mereka laksanakan bersama di pimpin oleh Kevin.  Suasana cukup tegang, saat bidan itu masuk kedalam kamar Gita.


“Maaf permisi, alat pendeteksi di desa ini ya hanya tespack bu. Tapi, saya bisa memastikan ke akuratannya melalui denyut nadi dan pemeriksaan lainnya.” Ujar Bidan itu sopan. Menyodorkan sebuah alat pendeteksi kehamilan pada Gita.


“Ini, saya celupkan di air seni saya kan bu. Tapi, hasilnya pasti negative. Kan tadi saya mulai flek. Sebentar lagi pasti darah kotor lainnya akan menyusul.” Bantah Gita yang takut kecewa.


“Neng…” tegur Gilang yang tak kalah berharap, agar istrinya segera hamil.


“Di pakai saja dulu. Kapan haid terakhir?” tanya bidan lagi.


“Bulan lalu. Jika ini tak keluar sudah tiga minggu telat nya.” Jawab Gita sambil merengut.


“Monggo silahkan di coba.” Pinta bidan itu dengan ramah, menunjukkan tspack tersebut.


Gilang menarik tangan Gita, agar mau melakukan yang di minta oleh bidan tersebut.


Dengan langkah gontai, Gita malas malasan, mengikuti saran bidan itu.


”Ga… usah. Neng bisa sendiri.” Jawab Gita masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan test.


“Baru menikah ya pak?” tanya bidan itu pada Gilang saat mereka berdua saja dalam kamar tersebut.


“Iya bu, hampir jalan 4 bulan.” Jawab Gilang agak tersipu.


“Pantas saja, masih hangat hanhgat dan mau banget punya momongan.” Jawab Bidan itu dengan senyum mengerti.


“Istrinya manja dan sensitive sekali. Apalagi nanti pas hamil, manjanya dua kali lipat lho. Bapak yang sabar saja


menghadapinya.” Ujar Bidan itu tak lepas tersenyum.

__ADS_1


“Amiin. Ga papa bu, mau manja gimana juga. Kan memang sudah mau.” Jawab Gilang tegas.


Gita sudah keluar dari kamar mandi namun tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Datar dan diam saja.


“Mana hasilnya neng?” tanya Gilang berjalan mendekati Gita.


“Ada di dalam.” Ujarnya menunjuk dengan kepala. Lalu memilih duduk di tepi ranjang dekat bidan tadi.


“Sebentar saya ambil ya bu.” Ujar Gilang yang super pengertian itu.


“Ibu ada liat?” tanya bidan itu pada Gita.


Gita menggelang.


“Kenapa?”


“Ga mau aja.” Jawabnya tak bersemangat.


“Ini bu…” Gilang mengibas-ngibaskan kertas kecil sebesar telunjuk berwartna biru putih tersebut kepada ibu bidan yang tak kalah penasaran dengan hasil test yang di lakukan Gita barusan.


“Tuh kan, garis dua.” Celetuk bidan itu senang.


“Hah..? Artimya?” tanya Gilang ke arah bidan itu.


“Selamat ya, ibu dan bapak akan segera menjadi orang tua.” Ucapnya dengan gambling.


“Maksudnya…? Saya hamil bu? Tapi plek tadi?” tanya Gita tak percaya.


“Itu hanya plek, tapi ibu sudah hamil. Jika di hitung dari haid terakhir, usia kandungan ibu memasuki minggu ke


tujuh.” Jelas bidan itu pada Gita dan Gilang yang sudah saling berpelukan.

__ADS_1


“Memang garis keduanya belum merah benar, nih masih agak kemerah mudaan. Tapi ini jelas positif. Flek td adalah tanda kehamilan. Itu hanya berlangsung beberapa jam, atau mungkin 3 hari, namun tidak banyak. Saran saya, ibu bedrest total dulu saja di sini. Mungkin dalam sepekan dulu bisa bersantai di sini, jangan melakukan perjalanan luar kota yang jauh terlebih dahulu.” Terang Bidan tersebut yang serasa ngambang di telinga pasangan yang memang sangat ingin memiliki buah hati tersebut.


Bersambung...


__ADS_2