CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 25 : ANAK SHOLEH


__ADS_3

Pasangan halal antara sekretaris dan wakil CEO itupun sudah berada di Singapura. Dimana cinta keduanya pernah bersemi dengan malu malu.


Benar saja, kini mereka sudah masuk ke dalam apartemen milik Kevin. Yang suasananya tak berubah, masih sama seperti terakhir mereka tinggalkan beberapa tahun lalu.


Saat itu Kevin dan Muna baru punya Aydan, dan Gilang dan Gita lah pengasuhnya. Hingga dengan alasan itu pula yang membuat mereka bisa tidur bareng di tengah ruangan dengan modus menjaga Aydan.


Gita dan Gilang saling melempar senyum saat mata mereka melihat kearah ruangan itu, lalu saling terbahak sambil terus berpegangan tangan erat.


"Kenapa neng?" goda Gilang.


"Ga ada apa apa." Ujar Gita mengulum senyum di balik bibir indahnya.


Gilang melingkarkan tangannya ke pinggang Gita dari belakang.


"Ga ada apa apa, kok ketawa senang."


"A'a juga kenapa ketawa?"


"A"a kaya dejavu neng. Kaya liat pasangan bukan muhrim udah tidur bareng di situ."


"Sama kali a'..." Gita berbalik menghadap suaminya.


"Eh... ga cuma tidur kali. Meluk mah... malam itu. Eneng keenakkan kan di peluk a'a dari belakang." Gilang masih memerangkap ingatan mereka ke masa lalu.


"Enaklah tapi malu."


"Ga papa, kan doa a'a mau bobo bareng eneng terkabul waktu itu."


"Dan ucapan bohong eneng ke Baskoro, kalo a'a suami eneng juga keturutan."


Wajah Gita sudah di cium Gilang di mana mana. "Terus... apa yang buat eneng malu?" ujarnya menghentikan aksinya.


"Waktu kita tidur pelukan... sempat di foto kak Kevin a'..."


"Masa... yank?"


"Iya... karena setelah itu kan. A'a dapat kiriman dari Sita. Jujur waktu itu eneng udah mau mundur aja. Ngerasa kalah sebelum berjuang. Kalo urusan kerja, manajemen bisnis gimana aja, sampe beaok neng hadepin. Tapi kalo urusannya udah sama keahlian masak, eneng mundur a'... itu bukan skill eneng." akunya yang kini sudah di bopong Gilang ke dalam kamar yang pernah di tiduri oleh Gita.


"Segitunya mau mundur dari Sita. Mau Sita si orang baru, atau Risna orang lama. Tetap Neng Gita juaranya yang menguasai hati a'a mah."

__ADS_1


"Neng jangan goyah untuk tetap jadi rumah, tempat a'a pulang dalam keadaan lelah sekalipun ya neng. Eneng udah kaya oksigen yang a'a hirup tiap saat. Eneng satu satunya alasan a'a hidup dan semangat untuk selalu berjuang untuk bahagiakan eneng." Lanjutnya dengan sungguh.


"Jangan kepanjangan gombalannya a'ayank."


"Hm... kan pasti di kira a'a ngegombal lagi."


"Ya a'ayank selalu gitu."


"Neng... orang yang nyasar biasanya rugi banyak. Rugi waktu, rugi tenaga, dan rugi bensin. Tapi, a'a nggak pernah ngerasa rugi karena udah nyasar ke hati bidadari, yaitu neng Gita istri a'a." Kekehnya sudah mengendus leher jenjang istrinya.


"Nyasar ke hati bidadari. Tangan a'a nih yang udah nyasar. Tuh, baju sama daleman neng kenapa udah pada di lantai?" Ya... sambil ngegombal tadi tangan Gilang sambil kerja, nyicil ngelepas atribut yang melekat di tubuh Gita.


"Oh... iya maaf. Bentar a'a kasih pasangannya di sana. Biar mereka kompak pada ngumpul di lantai." Dengan cuek dan cepat Gilang sudah meloloskan pakaiannya sendiri, juga melorotkan celananya. Menyisakan kain segitiga saja. Oh Gilang sudah tertular mesum akut.


"A'a... kita bahkan baru sampai. Masa ia langsung beginian." Gita so menolak.


"Katanya mau punya anak. Selain doa, usaha kita juga harus keras neng." Gilang sudah nemplok di benda sama, kenyal kesukaannya.


Bagaimana Gita bisa menolak setiap kenikmatan yang di sajikan suaminya. Sedangkan iapun sudah begitu candu dengan semua prilaku dan sentuhan yang mampu menyetrum tapi bukan listrik di sekujur tubuhnya.


Gelora asmara itu selalu mampu menggetarkan seluruh persendian, buku buku tulang keduanya. Membuat mereka menggelepar.


Kulit putih, halus dan mulus Gita seolah memanggil tangan Gilang untuk di telusuri dengan lembut. Pelan namun mampu membangkitkan gairah, yang membuat keduanya saling mendamba dan menagih lebih.


Bukankah Gita tak punya alasaan untuk menolak. Gilang suaminya, keturunan itu tujuannya, nikmat adalah ganjaran dari perbuatan mereka, bahkan pahala adalah berkahnya. Maka sia sialah penolakannnya. Hanya mengurangi durasi untuk keduanya menguji adrenalin satu sama lain.


Keduanya larut dalam cumbuan yang mereka ciptakan seindah mungkin. Serangan yang saling berbalasan, tak hanya sepihak. Hanya mulut Gita berkata tidak, tapi tidak dengan tubuhnya. Yang selalu berkhianat, bahkan selalu meminta lebih dan lama.


Tubuh keduanya bagai magnet, memiliki dayabtarik menarik sama kuat, yang lengket bahkan erat. Saat jaka dan iting sudah saling masuk pada peraduan masing masing. Jangan tanya bagaimana wajah dan suara Gita saat di hentak hentak kuat oleh Gilang. Sebab Gilang pun dengan sekuat tenaga memompa wanitanya itu dengan gagah.


Kali ini Gilang sungguh ingin memuntahkan bibit premiumnya pada rahim yang sedang dalam masa subur itu. Dalam otak dan hatinya tak pernah ia lupa melafalkan doa niat agar penyatuan mereka menjadi janin.


Gita lebih memohon pada pemilik kehidupan, usianya tidak lagi belia. Bahkan terbilang tua untuk ukuran wanita yang ingin segera berubah status dari istri menjadi seorang ibu.


Saat usaha mereka lakukan dengan rutin, maka Allah lah satu satunya tempat untuk meminta, sebelum menyerah pada dokter obgyin. Untuk sebuah progtam kehamilan.


Tubuh keduanya sudah banjir peluh, AC kamar hampir tak terasa, tiba tiba gerah akibat ulah anak Adam yang baru selesai melakukan ritual menyambung keturunan Hawa.


"Habis marathon sayang...?"

__ADS_1


"Ga usah ngeledek, badan basah udah ngalahin tukang becak gitu juga." sewot Gita pada suaminya yang juga bersimbah peluh.


"Emang harus sekuat tenaga kali neng ngenjotnya biar cepet jadi anak." Gilang membersihkan sekujur tubuh Gita dengan handuk. Agar tak masuk angin karena peluh yang mebasahinya.


"Amiin."


"A'ayank..."


"Apa sayangku... cintaku... bidadariku..?"


"Iis lebay a'a ah. Geli neng dengernya." Gilang hanya nyengir kuda memamerkan hampir seluruh deretan gigi rapinya.


"Nanti kalo neng hamil... neng gendut lho a'a."


"Ya kan hamil. Kalo tetap kurus, anak kita kurang gizi dong."


"Bukan gitu. Nanti eneng kan di rumah aja. A'a pasti di kantor liatnya yang se ksi se ksi. A'a berpalingkah dari eneng?"


"Hah...?" tanya Gilang.


"Kok hah... a'a ga denger?"


"Denger sih. Cuma kaget aja. Masa iya sampai sekarang eneng masih ragukan cinta a'a ke nengGi...?"


"Ya kan nanti body eneng melar kemana mana, ga cantik lagi. A'a masih setia?"


"Neng... a'a jatuh cinta ke eneng bukan karena rupa. Tapi hati eneng. Kalo ternyata eneng cantik juga kaya itu bonus saja buat anak sholeh seperti a'a." Puji Gilang pada dirinya sendiri.


"Anak sholeh...? Hm... ya ya."


Bersambung...


Thanks a lot buat doa readers semua. Nyak udah agak baikan nih.


Happy week end yah


Makasiih gitf nya❀️


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2