CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 189 : TABAH YA


__ADS_3

Entah Gita benar tegar atau memang masih belum sadar akan arti kata kehilangan. Air matanya pun terurai saat tau jika salah satu buah hati yang ia lahirkan kemarin sudah tak bernyawa. Namum, ia hanya sedang berusaha untuk belajar menerima dengan ikhlas ketetapan Allah untuk mereka.


Drama tangis suami istri di ruang rawat inap itu kini sudah berakhir. Setelah mendengar ketukan pintu dari luar. Yaitu perawat yang sudah menggendong bayi mungil nan cantik untuk di perkenalkan dengan sang ibu. Bayi itu segera di letakan di atas dada Gita yang sudah terbuka. Untuk di perkenalkan dengan sumber makanan yang sesungguhnya.


“Hai cantik … terima kasih mau temani bunda dan ayah di dunia.” Sapa Gita getir. Bagaimanapun. Ia sudah sering melihat dari layar monitor jika dalam perutnya ada dua manusia yang ikut hidup bersamanya. Tapi, semesta tidak mendukung mereka menjadi orang tua yang langsung memiliki anak dua. Maka hanya di perkenankan merawat satu bayi saja.


Gilang ikut mengelus kepala bayi mungil mereka, saat mulut kecil itu belajar mencari sumber kehidupannya di dada istrinya.


“Apa dia boleh terus di sini, sus …?” tanya Gita pada perawat yang masih terlihat menunggu proses pertemuan mereka.


“Asalkan ibu tidak keberatan. Kadang ibu yang baru melahirkan belum terbiasa dengan tangisan bayi, juga masih perlu banyak istirahat agar cepat pulih.” Jelas perawat itu pada Gita.


“Ijinkan dia di sini dulu bersamaku. Sebab, nanti ayahnya akan pulang untuk memakamkan yang satunya.” Pinta Gita yang membuat Gilang takjub. Sungguh hati Gita sekeras batu. Ia terdengar sangat ikhlas akan kepulangan Genta.


“Kami akan memberikan tips lebih untuk kalian yang bersedia menemani istri dan anakku. Saat aku tidak bisa menjaga mereka di sini.” Pinta Gilang pada perawat yang terlihat bingung di depan mereka.


“Tidak perlu memberi tips lebih Pak, sebab menjaga pasien sudah tugas kami.” Ucap salah seorang dari perawat itu. Kesepakatan untuk sebentar meninggalkan Gita pun selesai. Kini Gwen tidak kembali ke ruang bayi, melainkan tetap berada di sisi tangan Gita, untuk ia terus pandangi wajahnya, ia belai pipinya dan sesekali ia terus usahakan untuk menyu suinya sejak dini.


Sementar Gilang sudah pulang kerumah mereka, mendapati kerumunan beberapa warga yang ikut berbela sungkawa atas kehilangan putra pertama mereka. Kevin sudah menyiapkan segala sesuatunya. Dari urusan di rumah hingga pemakanan. Sehingga Gilang hanya perlu pulang untuk mandi dan bersiap mengantarkan Alm. Genta Akbar Mahesa ketempat peristirahatannya yang terakhir.


Genta memang hanya seorang bayi, bahkan tanggal lahir dan matinya di batu nisan sama. Menandakan memang tak pernah ada kehidupan yang tercatat untuknya. Namun, bukan berarti ia tak pantas untuk di kenang. Ia tetap pernah menorah kenangan selama sembilan bulan dalam perut bundanya. Kacamata hitam sangat membantu Gilang untuk menyembunyikan manik sedihnya saat ikut menyolatkan putra pertamanya tersebut.


“Ikhlas ya Lang. Allah lebih tau kemampuan kalian merawat dan mendidik anak-anak kalian. Dialah kelak yang akan menyambut kalian di hari kiamat.”Kevin menepuk bahu Gilang pelan.

__ADS_1


Gilang hanya menganguk, dengan hidung yang memerah menahan sesuatu di sana. Bohong lah jika ia tak sedih, bahkan perih. Sebab tak ada kehilangan yang semudah itu untuk di ikhlaskan, apalagi ini adalah seorang anak pertama.


Prosesi pemakaman Genta sudah selesai. Kini fokus mereka hanya tertuju pada kepulihan Gita juga kesehatan si bayi Gwen. Gilang sudah kembali kerumah sakit ikut bergabung dengan anak dan istrinya yang baru beberapa jam ia tinggal namun menumbuhkan rasa rindu yang menderanya.


“Asalamualaikum anak ayah dan bunda kesayangan.” Sapa Gilang dengan nada yang sudah terdengar jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Walaikumsallam, ayah tampan.” Sahut Gita bahagia.


“Gimana si cantik Gwen … udah bisa nen sama bunda belum?” tanya Gilang mendekati dua wanita kesayangannya itu.


“Udah pintar ngemutnya, ayah. Tapi air susunya belum banyak keluar.” Jawab Gita memandang Gwen tyang tidur nyenyak di lengannya.


“Bunda banyak makan ya,biar ASInya lancar. Sini, gantian. Ayah juga mau peluk Gwen, biar bunda bisa tidur nyenyak.” Gilang langsung mengendong putrinya, agar Gita bisa beristirahat.


“Jangan taruh di box ya A’. Neng sulit liat wajah cantik mempesonanya.” Ujar Gita pada Gilang.


“Gimana Genta …?” Gita sudah bisa memiringkan tubuhnya pelan-pelan. Sehingga mereka bisa saling berhadapan walau di atas ranjang yang berbeda.


“Sudah beres. Prosesinya berjalan lancar. Ternyata banyak yang ikut mengantarkannya, orang orang di kantor dan tetangga kita juga banyak yang perduli pada kita.” Kisah Gilang pada Gita.


“Nanti kalo eneng sudah sehat, kita adakan acara Tahlilan untuknya ya A’. Eneng juga tidak sabar ingin segera sehat, biar bisa ke makamnya.” Pinta Gita.


“Iya bunda. Nanti kita sama-sama ke sana menjenguknya. Tapi tanpa putri ayah ya … Dia masih kecil sekali, ga boleh pergi jauh-jauh. Hanya boleh di sekitaran ketek ayah dama bunda aja.” Gilang berbicara gemas mengelus pipi Gwen bayi merahnya itu.

__ADS_1


“Iya ayah …” Jawab bersuara cadel seolah anak balita.


“Istrirahat ya Neng. Biar cepat sehat.” Ujar Gilang yang juga baru merasa kantuk datang menderanya, setelah beberapa waktu sejak Gita melahirkan tak sempat lama memejamkan matanya.


Suasana kamar ranap itu hening beberapa jam, sebelum Gita dan Gilang di bangunkan oleh suara tangisan Gwen yang sudah tentu lapar atau kebasahan popoknya.


“Stt … jangan keras-keras cantik. Bunda lagi bobo, sama ayah saja ya manjanya.” Gilang terkesiap dengan suara tangis di sampingnya. Namun, Gilang sudah terbiasa menjadi ayah siaga. Punya bayi sendiri memang baru ini, tapi anak Arum sudah pasti pernah ikut ia jaga. Sehingga naluri ke bapakannya memang sudah ada. Belum lagi semasa hamil, Gita memang sudah sering membuatnya triba-tiba bangun dan melayani dengan sepenuh hati.


“Assalamualikum.” Sapa suara beberapa orang di balik pintu tepat saat Gilang sudah menggendong bayinya. Mereka adalah Diendra dan Indira. Yang baru siap menjenguk putri dan cucu mereka.


“Walaikumsallam.” Jawab Gilang yang masih terlihat sibuk menenangkan Gwen.


“Mama …” Gita terbangun mendengar suara berisik di ruangannya.


“Selamat ya sayang sudah jadi ibu. Maaf, mama tidak banyak menemanimu selama kehamilanmu.” Ungkap Indira terdengar sedih.


“Ga papa … mama juga harus jaga kesehatankan.” Jawab Gita penuh pengertian.


“Anak papi … sudah jadi orang tua. Yang sabar ya, Nak. Sayangi putri yang masih di amanahkan untuk kalian.” Peluk dan cium Diendra pada putri tunggalnya itu.


Haru … itulah yang kini terbingkai dalam ruang rawat inap Gita sekarang.


Bersambung ….

__ADS_1


Jangan merajuk dengan keTEGAan nyak hilangkan Genta di karya ini. Selalu nyak bilang, hidup ga selalu indah. Banyak hal yang bisa kita pandang dengan kacamata positif.


Tetap semangat🙏


__ADS_2