
Hari sudah gelap, sebab mentari tak bersinar lagi. Rembulan belum benar-benar naik, sebab awan hitam pertanda hujan akan turun lebih dominan di langit sana. Sinarnya terkalahkan oleh gumpalan awan yang sudah menggumpal menyimpan kawanan air yang akan tumpah membasahi bumi.
Di perjalanan Muna sudah menghabiskan dua porsi 'Cungkring Kang Memet' sedangkan Kevon harus memasang masker di dalam mobil dan memejamkan matanya akibat tak tahan dengan aroma makanan yang sambalnya mirip Sate itu.
"Bapak sakit ya, Mam?" kepo Ami saat menyambut kedatangan majikannya dan sudah membersihkan tubuh lali segera menggendong Annaya.
"Tidak, Mi. Hanya semacam mabuk, ga tahan cium bau makanan di dalam mobil." Muna menjawab tanpa melihat ke arah Ami, sebab netranya sudah tertuju pada Annaya yang sedang menghabiskan minumannya lewat dot.
"Apakah Ami boleh memijat, Bapak, Mam? Mungkin juga Bapak masuk angin. Di kerok pasti enakkan setelahnya." Tawar Ami pelan, tanpa maksud apa-apa. Orang di rumah itu juga tau, belakangan ini Kevin sering mula muntah jika ada beberapa jenis makanan yang asinh di hidungnya. Pasti ia akan mual.
"Pap ... Mau di pijat Ami ?" tanya Muna saat melihat Kevin keluar kamar dan berjalan ke arah mereka.
"Tidak usah." Jawabnya singkat. Lalu ke kamar Aydan untuk bermain bersama.
Dan setelahnya, Kevin sudah merengek minta di buatkan Sup Kacang Merah dengan Daging pada Muna. Stok makanan mereka di Bandung, beda satu strip dengan supermarket. Jadi, jangan tanya tentang ketersediaannya. Semua selalu ready,. Pun alat masaknya. Sehingga Muna tak punya alasan jika sewaktu-waktu di minta untuk memasak untuk suaminya.
"Sudah di kupas dan potong semua?" Tanya Muna pada Milah, pelayan yang bertanggung jawab di dapur mereka.
"Sudah Nyonya." Jawabnya patuh.
Milah bertugas untuk menyiapkan bahan yang akan di gunakan. Tapi untuk bumbu dan mengolahnya. Muna tidak pernah mempercayai orang lain. Selama ia bisa melakukannya sendiri. Muna terlalu petcaya diri, jika takaran makanan dan bumbu untuj Kevin. Hanya dia yang paling tau.
Kedua anak mereka sudah tidur. Sekarang giliran mereka untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas di luar.
Kevin bagai cacing kepanasan di dekat Muna, padahal suhu di luar sana jelas dingin karena hujan turun dengan lebatnya.
"Abang kenapa?" rutu Muna yang ingin beristirahat.
"Tadi sebenarnya, Abang mau di pijit." Jujur Kevin dengan sorot mata penuh harap pada Muna, agar bisa mengabulkan pintanya.
"Laah kenapa tadi bilangnya, ga usah?" Muna agak bingung.
"Mae rela, badan Abang di sentuh sentuh orang yang bukan mahrom ?" modus Kevin.
__ADS_1
"Bang ... Ami cuma mijat. Mengurangi rasa pegelnya Abang, bukannya menyentuh lantas berakhir bikin pegelnya makin jadi." Muna agak sewot. Kevin sok suci, ga maubdi pijat Ami dengan alasan bukan mahrom. Lah, dulu labih dari di pijat wanita mana saja. Ga pernah mikir mahron kan.
"Kalo Abang candu?" Cecar Kevin
"Mae ga takut tuh dengan kisah terkini. Suami selingkuh dengan babby sitter? Atau, Suamiku ke pincut pembantu, gitu?" Kevin ternyata selain sibuk bekerja dan baca berita terhangat juga suka baca gosip terbaru yaah.
"Ha ... Ha .... Rumah tangga tuh, ga sebercanda itu, Abang. Sejak kapan selera Abang menurun? Dari gadis cantik bermata biru ini langsung turun level ke baby sitter yang kemasannya hampir mirip sama buntelan beras?" Muna hampir keluar air mata menertawakan suaminya.
"Ya ... Biar kaya buntelan juga. Kalo bisa kasih nyaman. Ga ada yang ga mungkin kan segala sesuatu terjadi." Bela Kevin pada alibinya.
"Monggo silahkan. Pepet gih si Ami, kalo memang diam diam mendam rasa. Muna mundur, ngalah aja sama buntelan beras." Muna memegang perutnya merasa lucu.
"Ga gitu Yank." Ujarnya melepas pakaiannya.
"Nih buka baju maksudnya apa nih?" Muna sudah menyeka air matanya, masih merasa lucu dengan arah pembicaraan sang suami.
"Pijetin Abang, Mae." Rengeknya menyerahkan minyak kayu putih dan lotion pada Muna.
"Minta di pijet aja, sampai ngancem mau selingkuh sama babby sitter. Papap kalian gitu, Nak. Banyak modusnya." Usap Muna pada perutnya.
"Bang ... Di kerok aja ya. Biar anginnya cepet keluar." Tawar Muna.
"Pokoknya Mae, mau di kerok atau di gorok sekalipun. Yang penting tetep Mae yang lakukan di tubuh Abang ini. Abang terima." Kevin kalo merayu mana pernah tanggung-tanggung. Dari yang logis sampai tidak logis pun pasti ia kerahkan.
"Abang lebay." Kekeh Muna memulai aksinya melayani suami tengilnya ini. Walau akan jadi ayah tiga anak, mana pernah Kevin berubah. Tetap punya beribu cara untuk memanfaatkan istrinya, yang memang selalu patuh padanya.
Kita tinggalkan pasangan yang sedang sibuk berkerok ria, dan pasti akan berakhir dengan adegan balas budi dari Kevin, karena sudah mendapatkan layanan kesehatan dari sang istri. Kevin gitu lhooo.
"Gimana? Sukses acara peresmiannya Nyi?" tanya Asep ketika mereka sudah berada di dalam kamar mereka.
"Ya ... Selalu lah. Banyak uang, apa sih yang bikin acara kacau." Jawab Siska mulai memejamkan matanya.
"Iya juga siih."Asep memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.
__ADS_1
*Youbu ..." Panggilan itu membuat mata Siska tak jadi terpejam.
"Heem ... ?" dehemnya takjub. Jarang-jarang suaminya mau memanggil dengan sebutan Korea.
"Ada maunya niih?" senyum Siska lebar.
"Tidak."
"Bohong."
"Ga percaya?"
"Tumben aja." Ujar Siska.
"Tadi pagi ambu ngambek lho." Asep membuka obrolan.
"Oh ya ... Kenapa?"
"Katanya di larang kerja oleh istrinya Akang." Pelan sekali Asep menyuarakan itu. Menghindar rasa emosi yang mungkin akan muncul di benak sang istri.
"Biasalah ... Orang tua. Kita bilangnya apa. Tapi naggepinnya apa. Ya kan, Kang?" Siska sepertinya siap dengan konfirmasi di atas ranjang itu.
"Makasih kalo tidak ikut terbawa dengan ambegan Ambu." Asep mengusap rambut Siska.
"Aku pernah kabur dari rumah, pernah lama juga ikut orang yang tidak ada sangkut paut hubungan keluarga dengan ku. Jadi untuk urusan baper dan semacamnya. Aku sudah mahir, Kang." Ucap Siska bijak.
"Akang memang belum banyak pengalaman soal berpindah tempat. Tapi kalo hidup bersama Ambu yang sudah menunjukkan tanda pikun. Akang juga sudah ahli."
"Tadi pagi, aku cuma bilang. Supaya Ambu jangan repot ngurus sarapan dan bebersih. Kalo memang mau gerak. Olah raga ringan saja." Jelas Siska lagi.
"Iya ... Entah bagaimana Ambu menerima pembicaraan itu. Simpulnya, dia sudah tidak di perlukan di rumah ini."
"Aku udah feeling sih. Pas dia nutup pintu dengan keras tadi." Tebak Siska.
__ADS_1
"Makasih tidak tersinggung dan menerima kami. Nyai ... Tidak hanya terima Akang tapi Ambu juga." Puji Asep pada Siska dengan tangan yang sudah ke mana-mana. Mungkin mau kasih hadiah untuk istri yang paling pengertian ini.
Bersambung ...