CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 30 : KELUARGA KOMPAK


__ADS_3

Boro boro kasih hadiah tuh si paksu yang belum 2 bulan jadi suami. Gita yang punya diri saja lupa tanggal ulang tahunnya. Karena fokus mereka bekerja juga menyiapkan pesta itu.


Setelah melaksanakan sholat subuh, keduanya sibuk menikmati view indah dari balik tirai yang sungguh memanjakan mata. Gilang tak henti hentinya mencium cium pucuk kepala Gita, memberikan kesan sayang dan romantis pada istri idamanya itu.


"Neng... ini shamponya wangi, A'a suka." Puji Gilang yang baru sadar aroma yang baru ia rasakan bernrda dari biasanya.


"Oh... a'a suka wangi yang begini. Ntar deh, neng stok yang banyak wangi ini. Ini neng pake yang bubble gum shampo a'."


"Hmmm... a'a suka wanginya segar agak manja. Cocok sama karakter eneng."


"Jadi eneng manja?"


"Ga banget sih, tapi mudah marah, cepat tersinggung dan ambekan."


"Masa...?"


"Ya... kaya tadi malam."


"Hah... itu sih kak Kevinnya aja yang ngasih kejutannya gitu amat."


"Udah ahlak... mana kerasa." Jujur Gilang.


"Heeem. Neng kan bukan a'a. Yang apa apa serba sabar dulu. Neng ga bisa..."


"Tuh kan, udah nyolot lagi. Sayangku... sikap itu bisa di latih kok. Apalagi besok, kalo eneng akan jadi owner di beberapa cafe. Neng harus jadi pemilik yang elegan. Ramah tapi tidak di remehin. Di hargai bukan di takutin."


"Beda di hargai sama di takutin apa?"


"Kalo di hargai, orang orang sangat patuh dengan segenap hatinya, tulus. Kalau di takuti, mereka patuh, tapi bisa saja membicarakanmu di belakang."


"A'a sudah masuk yang mana? di hargai, atau di takuti?"


"Sepertinya baru di ramahin saja. Kan belum jadi pimpinan."


"Hm... iya juga sih."


Keduanya melanjutkan obrolan ringan seputar ahlak dan sikap baik lainnya. Saling menilai satu sama lain, juga saling berusaha nantinya akan memperbaiki diri.

__ADS_1


Setelah ngobrol tadi, ternyata keduanya sepakat untuk mandi berendam bersama yang tentu saja membutuhkan waktu tidak sebentar. Ada ritual yang harusnya di laksanakan semalam, hanya saja hal itu harus tertunda, karena suasana hati Gita yang awut awutan, rambut kali.


Jangan tanya tentang sarapan, mereka sedang berada di hotel bintang lima ya, yang hanya dengan menekan jari, makanan apapun bisa di antar ke kamar mereka.


Penunjuk waktu sudah semakin ke tengah, artinya pukul 11 yang Kevin janjikan semalam lewatlah sudah. Mungkin hanya wacananyan saja jika semalam ingin numpang makan di hotel itu.


"Yang... sayang." Suara Gilang agak nyaring memanggilnya, yang tengah asyik mengeringkan rambut basahnya sisa pertempuran pagi ini.


"Apaan sih a'ayank. Heboh bener." Gita melangkah mendekati sumber suara.


"Dari tadi a'a bolak balik bukain pintu, karena pelayan hotel ini ngantar makanan. Ini semua, eneng yang pesan?" Gilang menunjukan bermacam macam menu makanan yang sudah tersaji di meja makan, pada ruang yang memang terpisah dengan ruang tidur mereka.


"Ga, kak Kevin kali a' yang pesen. Kan semalam bilang mau makan di sini." Jawab Gita.


"Pake baju rapi deh a'. Jangan celana pendek. Paling bentar lagi mereka sampai." Perintah Gita pada Gilang yang tadi hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


Dan benar saja, setelah keduanya telah selesai mengatur tampilannya, pintu kamar terdengar di ketuk.


Gita berlari membuka pintu, dan langsung melihat sang mama dengan sebuah cake kecil siap dengan lilin yang tertancap. Lagu selamat ulang tahun pun menyeruak ke dalam ruangan, bersama masuknya mama Indira, papi Diendra, Daren dan Zahra, juga pasangan fenomenal. Siapa lagi kalo bukan bang Ke vin dan istri.


"Bahagia selalu anak papi." Peluk Diendra pada putri tunggalnya itu.


"Panjang umur, sehat selalu adikku yang tidak muda lagi." Ucap Darel merangkul tubuh Gita.


"Barakallah fii umrik ukhti." Zahra tak mau tertinggal menyampaikan doanya, juga merangkulnya dalam pelukan.


Giliran Kevin, Gita agak sadis. Ia langsung meloncat ke dalam pelukan Kevin, bergendong seperti koala.


"Kakak bikin gemeeeessh." Teriaknya di telinga Kevin.


"Gita...!!! Iiih. Ngapain gendong gendongan, tuh sana sama suami mu." Kevin melepas paksa, meluruhkan tubuh yang sempat menempel di badan kekarnya.


Mereka semua hanya tertawa melihat komunikasi Kevin dan Gita yang seperti anak kecil.


"Selamat panjang umur, tercapai cita dan harapan yang belum terkabul ya Git." Peluk Muna lembut pada Gita yang sesungguhnya menyimpan kaca di dua biji matanya. Terharu. Lagi lagi mendapat kejutan dari keluarga yang menyayanginya. Mana ia sangka jika kali ini dapat merayakan dengan mewahnya, bersama keluarga lengkap.


Tiup lilin dan pemotongan kue sudah terlaksana, selanjutnya menikmati hidangan yang beraneka macam menu itu juga dalam porsi yang banyak.

__ADS_1


"Kok bisa sih pada kompak gitu datangnya. Mama sejak kapan di sini?" tanya Gita di sela makannya.


"Baru... baru banget. Sama papi, Daren juga Zahra. Mereka besok ada meeting. Tau kan papimu dan Daren masih menjalankan perusahaan yang sama, jadi jadwalnya kadang bisa bareng gitu." Terang mama.


"Iya, maunya pas acara tadi malam kami ikut. Tapi masih ada pertemuan penting di Jakarta, ya sekarang baru bisa tiba." Timpal Daren.


"Hmm... makasih ya semuanya." Senang Gita.


"Eh... Git. Makasih saja tidak cukup lho. Untuk membalas semua kebaikan hati kami memberikan kejuatan ini untukmu." Celetuk Kevin.


"Terus Gita harus ngapain nih?"


"Traktir bini kami belanja dong." Jawabnya cepat.


"Kok kayaknya horor ya? di Jakarta saja kami ga pernah ngemall bareng, tiba di sini Gita kaya ketiban apa gitu, harus traktir dua istri CEO dan satu istri dewan komisaris. Hallooo, yang hanya sektretaris di sini aku ya. Mestinya aku kan yang dapat hadiah?" bantah Gita tertawa.


"Iya... kamu memang hanya sekretaris Git. Tapi, sekretaris yang sudah hampir 3 tahun ga ambil gajih. Belum lagi jatah sahammu di perusahaan Mahesa, tak pernah telat lho ya di transfer. Kami hanya mau bantu kamu bobol tabungan, kasian kalo belanja sendiri, takutnya kamu malah beli mall beserta isinya." Kelakar Daren pada Gita.


"Huh... punya sodara dua laki laki tuh amazing ya, yang satu comel yang satu lagi bawel. Ni, dulu hamilnya pada ngidam apa sih?" Umpat Gita yang sesungguhnya senang dengan suasana hangat keluarga mereka yang semakin akrab.


"Git... papi sebenarnya masih mau bantu kamu. Bayarin belanjaan mereka. Tapi statusmu sudah bersuami, artinya bukan kamu bukan tanggung jawab papi lagi. Jadi, papi hanya bisa berdoa, saat kegiatan belanja itu tak dapat di hindarkan lagi. Maka percayalah Allah tetap mencukupkan saldo tabunganmu untuk membayarnya." Hah... Diendra bahkan lebih gokil dari dua anak laki lakinya.


"Hiiyaaaaah... papi parah. Kalian udah kaya trio somplak saja, berkonspirasi ngerjain aku." Celoteh Gita tertawa bahagia.


"Jadi gimana nih? Kami balik ke Indonesia?" tanya Kevin so ga peduli.


"Ya udaah...cus. Bobol tabungan. Buat mama, dan dua kaka iparku yang cantik cantik dan baik hati ini. Paling paling di beliin lingerie udah cukup, buat para suaminya klepek klepek." Bahak Gita yang ikutan ga ada ahklak.


Bersambung...


Happy reading yah.


Puasa boleh, tapi komen dan jempolnya masih bisa kan😚


Makasiiih semuanya


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2