CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 43 : PERTEMUAN


__ADS_3

Kevin terkekeh mendengar celotehan Muna pada Annaya tentang ke mesumannya, yang patut ia banggakan yang ternyata membuat Muna rindu. Ha … ha … ha, mana tau kan justru tindakan mesumnya itu membuat Muna klepek klepek dan melupakan kesalahannya di masa lalu.


Annaya tampak sudah kenyang dan tidur pulas kembali. Annaya tak pernah sekalipun mencicipi susu formula sejak ia lahir. Sebab Muna selalu menyimpan ASI nya, dalam jumlah banyak untuk stok putri keduanya tersebut. Jika melihat stok ASInya, tentu Annaya tak kekurangan, saat di berikan dengan dot, tetapi Muna memang lebih suka memberikannya secara langsung. Karena ia dapat mengalirkan kehangatan dan kasih sayang pada anaknya tersebut. Dari kerlingan manik mata mereka berdua, manis sekali.


Muna kembali melangkah ke arah dapur. Membuka tudung saji untuk memastikan jika sop iga tadi masih tersisa.


“Makan lagi?” tanya Kevin yang sudah berpakaian rapi akan pergi ke rumah sakit kembali.


“Iya… enak banget tadi. Ga puas rasanya.” Jawab Muna dengan cuek kembali duduk di meja makan tersebut.


“Ga papa kan?” tanya Muna lagi pada Kevin yang duduk menungguinya makan.


“Abang senang malah, lihat Mae makan banyak gitu.” Jawab Kevin kembali.


“Siap…” Kekeh Muna melahap makanan itu penuh semangat.


“Mae… jam 4 ini abang sudah buat janji ketemu Sisil. Ikut ya…” Ajak Kevin pada Muna.


“Sisil siapa?” tanya Muna menyelesaikan makannya tadi.


“Akuntan.”


“Oh… mantannya abang.” Tawa Muna mencuci tangannya.


“Mantan…? Rasanya bukan deh, ntar liat rupanya dulu. Pernah jadi mantan atau bukan.” Kevin mengingat ingat wajah Sisil.


“Muna pake baju apa nih, mau ketemu orang penting di masa lalunya abang.” Goda Muna pada suaminya yang mulai cengegesan.


“Mae lebay. Bukan mantan pacar atau patner ranjang Mae. Dia teman satu kampus waktu ambil S1. Di Inggris. Maklum lah sama sama di negeri orang tuh, dengan teman udah rasa saudara.” Cerita Kevin saat menemani Muna mengganti pakaiannya di kamar mereka.


“Terima kasih infonya suamiku sayang. Terserah ya, mau mantan pacar, mau itu patner ranjang di masa lalu. Muna ga peduli, karena abang sudah pilih Muna untuk jadi pasangan sekarang dan masa depan kan? Jadi sudahlah. Muna kan ibu Negara, yang ga perlu bersaing sama siapaun.” Ujar Muna percaya diri.


“Luar biasa… terima kasih kepercayaannya. Istriku sayang.” Kevin hampir lupa jika mereka akan pergi lagi di jam kedua. Kalau saja mengikuti kata hati, bukan hanya bibir Muna yang di santapnya. Tapi seluruh tubuh itupun ingin ia cicipi saat itu juga. Mesum bukan?

__ADS_1


“Sama sama abang sayang. Udah ya… ini isinya udah hampir habis di isep Naya. Abang ga usah repot repot bantu ngosongin isinya.” Tawa Muna menjauhkan kepala Kevin yang mulai mengendus bongkahan kembar identic dalam kain berenda itu.


“Haha … haaa tau aja susu favorit abang lho ini.” Puji Kevin dengan tetao merem as bagian itu.


“Iya tau. Bahkan lebih mudah menyapih Aydan lho, ketimbang abang. Biar brenti nyu su.” Tawa keduanya tumpah akan obrolan mereka yang sudah sama sama somplak itu.


“Aydan cepet di sapih kalo sama susu ibunya, tapi nanti kalo sudah punya ibu anak-anaknya. Pasti juga ga bisa di sapih.” Bela Kevin pada anak laki-lakinya.


“Iya kayak papapnya.” Jawab Muna masih dengan tawa canda yang kental. Sambil memasang pakaian rapinya untuk bertemu Sisil.


“Bikin suami senang itu pahala yank.” Kevin menyunggar rambutnya memastikan penampilannya sudah tampan maksimal.


“Itulah cara termudah mendapatkan pahala. Muna juga suka di gituin.”


“Kita tunda ya ketemu Sisil?” Tawarnya lagi.


“Ngape…?” Muna mode nyolot.


“Pengen.” Manja Kevin kumat dan memeluk tubuh Muna dari belakang.


“Candaaa… Mae. Yuks, berangkat. Telepon babe. Bilangin kita agak malam jemput Aydan. Mungkin dekat Isya.” Perintah Kevin kembali pada mode tegas dan seriusnya pada Muna.


“Siap tuan Kevin.” Jawab Muna singkat.


Keduanya sudah berada di sebuah café sesuai janji temu yang sudah Tama aturkan untuk Kevin dan Sisil. Sepanjang perjalanan tangan Muna hampir tak pernah lepas, selalu ada di dalam genggaman suami bucin itu. Muna sudah terbiasa dengan perlakuan suaminya tersebut.


Sesampai di sana, Muna agak keder melihat ada sosok wanita cantik. Bahkan di mata Muna. Wanita itu lebih cantik darinya. Parasnya yang ayu jelita, sungguh mempesona. Belum lagi manisnya senyum yang tersampir di wajah itu, begitu sempurna Tuhan menciptakan wanita bernama asli Sisilia Priskila tersebut.


“Hai, Sil. Sudah lama?” Sapa Kevin berjabat tangan pada wanita yang siang itu mengenakan pakaian semi formal berwarna gelap bercorak ceria itu.


“Tidak… aku juga baru tiba. Siapa ini?” tanyanya mengarahkan pandangannya pada Muna yang sebenarnya juga tak kalah cantik darinya.


“Ini Ny.Kevin. Monalisa Hildimar.” Kevin memperkenalkan Muna dengan nama sesuai pemberian Rona dan Dadang.

__ADS_1


“Ouuh… istrimu. Hai… Hallo. Senang berkenalan dengan Ny.Kevin.” Jawabnya antusias.


Kevin menarik kursi untuk Muna dan mempersilahkan istrinya itu duduk. Muna mengikuti saja, sebab memang selalu begitu.


“Ga nyangka bisa bertemu kamu lagi di sini lho Vin. Sudah lama sekali rasanya kita tidak saling kontak. Terakhir waktu kamu masih di Mahesa ya. Sekarang kerja di mana?” tanya Sisil saat pelayan sudah membawa catatan menu pesanan mereka.


“Sekarang kerja di mana ya? Ga jelas juga statusku Sil.” Jawab Kevin ambigu.


“Gitu deh kalau sudah kebanyakan punya cabang usaha. Bingungkan mau ngaku tempat kerjaan yang mana?” Tawa sisil berderai menambah level kecantikannya naik satu tingkat saja.


“Perusahan kami di Bandung. Tapi nyonyaku ini, dapat warisan dari keluarganya jadi ikut bantu bantu di situ.” Jawab Kevin agak merendah.


“Basa basi banget sih, jadi tujuan kita ketemu apa ya?” ternyata Sisil bukan tipikal orang yang suka menunda waktu, sebab dalam agendanya jelas tertulis jika pertemuan ini untuk kerja sama.


“Masih kerja di bagian audit kan Sil?” tanya Kevin menjurus ke urusan awal.


“Iya… masih bekerja di Kantor Akuntan Gunadi & Rekan.” Jawab Sisil serius.


“Nah… itu dia. Nyonyaku ini, ingin bekerja sama dalam hal mengaudit keuangan rumah sakit yang di pimpinnya sekarang.” Kevin menjelaskan.


“Pimpinan rumah sakit?” tanya Sisil agak heran.


“Iya … istriku direktur Hildimar Hospital yang di Jakarta Selatan.” Sesat Sisil menelan salivanya sendiri. Seakan tak percaya jika istri teman kuliahnya ini bahkan menikahi seorang direktur yang terlihat masih sangat muda belia.


“Oke… sebelum kerja sama di lanjutkan. Boleh saya mengajukan syarat kontrak kantor kami?” tanyanya ke arah Muna.


“Boleh saya pelajari terlebih dahulu?” tanya Muna dengan nada yang sangat sopan. Lalu, Sisil pun menyerahkan notebooknya untuk Muna membaca perihal kontrak. Tentu menyangkut urusan dana pembayaran jasa kantor tersebut.


Bersambung…


Tidak ada bau pelakor ya di sini. Readers tak usah panik dan su'udzon sana nyak 😁


Makasih timpukannya

__ADS_1


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏



__ADS_2