CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 11 : SARAN GITA


__ADS_3

Rencana awal Gilang untuk menggelar acara ngunduh mantu akan di laksanakan di rumah baru mereka. Selain lebih besar, juga akan berkenalan dengan warga sekitar, semacam selamatan untuk menempati rumah baru.


Tetapi ibu Gilang bersikeras meminta agar acara tersebut di laksankan di rumah mereka saja.


"Kamu malu Lang, kalo acaranya di rumah ibu?" tanyanya pada Gilangm


"Siapa yang malu? hanya tidak mau ibu kerepotan saja." Jawab Gilang apa adanya, saat ia dan Gita mampir mengantar mobil Voxy untuk Atum gunakan sesuai kesepakatan mereka.


"Kan judul acaranya ngunduh mantu Lang. Artinya kan menantu yang di terima di rumah mertuanya. Kalo di rumahmu ya ... masa ngunduh istri." alasan ibu Gilang.


"Iya sudah... siap. Nanti kita adakan di sini saja. Sabtu ... ya bu." Tembak Gilang.


"Hah...? kok cepet?"


"Lebih cepat lebih baik bu. Supaya Gilang cepat fokus dengan kerjaan. Kalo di tunda tunda, malah bisa ga terlaksana. Dua minggu lagi, Gilang ada jadwal perjalanan dinas ke Singapura. Lama, kurang lebih dua mingguan gitu, kan sulit bagi waktunya." Imbuh Gilang lagi.


"Tapi ibu ga siap Lang." Lagi wajah ibu kelabu, belum habis rasa terkejutnya melihat pesta resepsi pernikahan putranya begitu megah, masa iya harus keluar uang lagi untuk acara ini.


"Ibu ga siap apanya? Ibu cukup buka rumah saja, lalu duduk manis. Udah gitu aja."


"Lang... ngundang tetangga dan besan itu perlu dana lho." ucapnya pelan.


Untuk menghindar dari pendengaran. Gita.


Padahal apapun yang Gilang sampaikan pada ibunya, sekarang sudah terlebih dahulu Gilang sharingkan dengan ibu negara. Untuk di sepakati bersama.


"Tenang... semuanya sudah Gilang siapkan. Nanti jumat sudah akan ada orang yang membersihkan dan mendekorasi rumah ini. Rabu,. insyaallah undangan sudah bisa di bagikan ke tetangga sekitar, dan teman Gilang juga neng Gita." Jelas Gilang.


"Makanan?"


'Sudah ... pokoknya ibu hanya duduk manis. Semua sudah di atur deh, bu."


"Lang... uangmu banyak habis ya buat acara kemarin. Tambah acara besok lagi. Kasihan kamu Lang." Rutu ibu kembali bersedih.

__ADS_1


"Tidak bu, semuanya sudah ada oihak yang mensponsori. Bugetnya bahkan sampai acara ngunduh mantu ini."


"Alhamdulilah. Semoga rejekimu tambah lancar ya Lang." Doa ibu terucap tulus.


"Amiin." Jawab Gilang mengusap dua telapak tangan pada wajahnya.


"Teh.." Panggil Gilang pada Arum yang sejak tadi duduk di warung pengisian ulang air mineral.


"Iya Lang, ada apa?" tanya Arumnsaat sudah berada di rumah.


"Ini kunci kontak mobil Gilang. STNK ada di dalam. Teteh pakai saja, untuk keperluan, ngajak Riswan, Haniyah juga ibu untuk jalan jalan atau kemanapun."


"Hah...? Lalu kalian bagaimana?" tanyanya terkejut.


"Itu, ada mobil eneng yang bisa kami pakai sehari-hari."


"Waaah... beneran ga papa teteh pakai?" tanya Arum ke arah Gita.


"Iya teh, pakai saja. Garasi rumah a'a kepenuhan kalo ada dua mobil di sana." Gita menambahkan penjelasan untuk Arum.


"Teh... maaf sebelumnya. Gita boleh saran ga? atau hanya tanya saja. Tapi ga di jawab juga ga papa sih." Ujar Gita.


"Apa sih neng? Serius banget." Gilang yang agak heran. Sebab yang ini belum mereka bicarakan sebelumnya.


"Iya... soal apa Git?" tanya Arum berubah tegang agak serius.


"Itu soal penjualan air isi ulang. Apa selama ini pembelinya hanya untuk rumah tangga?" tanya Gita serius.


"Iya... terutama tetangga sekitar sini." Arum sedikit lega, dengan pertanyaan itu. Tadinya ia kira, pertanyaan seputar jodoh atau kapan mengakhiti masa janda.


Gita mengangguk sambil mengangkat dua alisnya.


"Pendapatannya stabil teh tiap bulan? Maaf tanya." Gita sungguh berhati hati, takut menyinggung perasaan kakak iparnya tersebut.

__ADS_1


"Ya stabil sih. Sesuai berapa rumah yang berlangganan."


"Biasanya mereka ambil sendiri, atau sistem antar?"


"Maunya pelanggan sih di antar. Tali kalo teteh antar, ga bisa di pastikan di warung ga ada yang jaga. Kecuali sore. Tapi kadang, orang perlunya juga ga tentu waktunya."


"Teteh pernah ga, kasih sample air minum isi ulang teteh ke perusahaan?"


"Ga... emang kenapa Git?"


"Gini... coba teteh buat proposal lalu di ajukan ke satu perusahaan. Tujuannya adalah untuk membuat suatu perjanjian kerjasama. Pastikan kualitas air isi ulang teteh mampu bersaing dengan air mineral kemasan. Berikan pula bonus atau hadiah menarik bagi perusahaan yang nanti menjadi patner. Misal, beli 10 galon gratis 1. Atau misal, pembelian minimal 5 dapat 1 lusin kopi kemasan. Dan yang paling penting tuh, teteh siap mengantar ke tujuan."


"Keperluan air minum pasti selalu lebih banyak di bandingkan pemakaian rumah tangga. Apa lagi jika teteh bisa bekerja sama dengan pihak rumah makan. Mereka tentu tak selalu punya waktu untuk mengambil air minum, jika pelanggan sedang banyak. Jadi, mereka tinggal hubungi teteh untuk pengantaran."


'Asal, teteh punya satu atau dua orang anak laki laki yang tenaganya kuat untuk jadi buruh angkut."


"Teteh bisa mencari di panti asuhan. Mungkin masih ada beberapa anak yang ingin mendapatkan penghasilan walau masih usia sekolah. Jadi pengantaran akan di sesuaikan dengan waktu belajar di sekolah."


Bukan hanya Arum yang kagum, tapi Gilang lebih speecless dengan ide yang Gita berikan tadi. Tak terpikir oleh mereka untuk mencoba mempromosikan usaha mereka dengan cara itu. Lebih cendrung menunggi saja rejeki itu datang sendiri. Tapi yang saran Gita justru lebih ke metode jemput bola.


"Wah... ide bagus itu. Benar lebutujan di sebuah kantor justru lebih banyak dari pakaian rumah tangga. Sebab, orang orang rata-rata menghabiskan waktu 8 jam berada di kantor. Walaupun tidak juga kerjaannya, hanya minum air putih. Tapi jumlah pegawai dalam satu kantor tentu lebih banyak dari satu rumah tangga." Gilang ikut mengkalkulasi sirklus penjualan air isi ulang tersebut.


"Tapi mengapa harus pake proposal?" tanya Arum.


"Sebab dalam proposal itulah terdapat keungulan produk teteh dari yang lain. Air minum kemasan atau air isi ulang lainnya tentu selalu bilang produknya yang terbaik, bukan. Untuk itu, dalam proposal harus teteh jelaskan dengan detail apa saja keungulan bahkan promo menarik agar pihak tersebut berminat untuk melakukan perjanjian kerja sama. Dengan demikian, teteh tidak selalu duduk menjaga warung, menunggu pembeli. Misal ada yang datang pun, paling pembeli membeli 2 galon. Sedangkan yang teteh antar mungkin mencapai 20 galon." Jelas Gita semakin bersemangat.


"Jaman ini yang penting pelayanan prima teh, tepat waktu mengantar, bonus menarik juga keramahan sang penjual." Imbuh Gita lagi.


Arum mengangguk-angguk mengerti.


"Bagaimana kalau teteh siapkan ajuan proposal kerja samanya untuk perusahaan dan pabrik kami saja terlebih dahulu. Jangan lupa bawa sample untuk di jadikan testimoni bahwa kadar air isi ulang teteh layak di minun." Gilang langsung mendukung saran istrinya juga membuka jalan rejeki untuk kakaknya.


Bersambung...

__ADS_1


Huh... readers mah. Makin iri kalo punya ipar macam Gita.


Mohon tenang, ini hanya ada di dunia halu ya🙏🙏


__ADS_2