CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 49 : GARA GARA AMBU


__ADS_3

Asep bukan pria yang pandai bicara apalagi menggombal. Jika ingin kita terbiasa dengan bualan ala ala duo G, dalam pasangan Asep dan Siska tidak akan kita temui manis manianya gulali, juga pahit pahitnya kopi.


Asep cendrung serius, mungkin akibat terlalu bergaul dengan lansia. Sehingga selera humornya agak sopan, tapi sangat peka dengan gerak tubuh. Asep super perhatian, sebab terbiasa mengurus ambu. Si ambu, ngupas apel saja tidak di ijinkan oleh Asep. Apa apa di perhatikan oleh Asep, cuma ngunyah nasinya saja yang di lakukan sendiri sama cebokkan. Selebihnya, ambu bagai ratunya saja di perlakukan Asep.


Hal itu yang membuat Laela betah dengan Asep. Walau Asep tak sebahagia Laela. Tapi, dia orang yang tidak neka neko. Apapun yang di lakukan Laela, banyak menurut saja. Cinta damai, malas bertengkar.


Tapi, setelah kejadian Laela menyetop mobil yang di tumpangi Muna sekeluarga akhirnya, ia pun meledak.


"A'Asep harus jelaskan sama Laela. Kenapa hape a'a teh ga aktif berhari hari?" Serang Laela waktu mereka selesai upacara pagi di halaman kantor.


"A'a teh. Ganti hape La."


"Ganti hape kan, ga harus ganti nomor juga...!"


"Mestinya gitu, La. Tapi, aduh. Gimana ya ngejelasinnya sama kamu teh. Nanti siang A'a ceritakan selengkapnya. Hari ini ada jadwal mendampingi pa Camat peninjauan ke 2 Desa dan 1 Kelurahan. Sabar nya..." Sabar Asep yang sesungguhnya tidak enak, dengan mata dan cuitan teman - teman yang melihat mereka bicara masih di halaman kantor Kecamatan.


"Banyak alasan... sakarang pokoknya a'a jelasin." Marahnya pada Asep.


"Cie... cie... ceweknya minta kawin tuh Sep. Sok bawa atuh ke kantor sebelah, penghulu selalu siap." Ledek seorang teman menunjukkan KUA yang berjejer di samping kantor Kecamatan itu. Asep hanya tersenyum sambil mengangguk, dan membawa Laela agak menepi ke tempat rindang dan agak jauh dari gerbang pintu kantor.


"La... beneran. Pulang kantor a'a jelasin. Sekarang waktunya mepet."


"Ga...!! bilang dulu siapa cewek yang nginap di tempat ambu beberapa hari lalu...? hah? jawab...!!! A'a kira Laela teh buta, ga bisa liat ada cewek bule di sana? Hah? A'a kira teh Laela tuli, ga bisa denger gosip kalo nenek kamu itu ngurung cewe asing ga di kenal di rumahmu. Jawab...!!!" Laela mendorong dorong tubuh Asep semaunya. Asep belum sempat menjawab gencatan Laela.


"A'a teh berubah sejak ada cewek itu. Hape ganti, nomor hilang, a'a ga berusaha juga hubungin Laela, a'a teh ga rindu kitu sama Leala? Ga resah kitu mikirin Laela. A'a teh ga cinta sama Laela." Ekspresif sekali gaya Laela selain berteriak teriak ia juga sampai terduduk di depan Asep. Membuat Asep bingung dengan kelebayan kekasihnya sendiri.


"La... jangan begini La. Ga enak di lihat orang, di kira kita ngapain." Asep membantu Laela berdiri, tak enak matanya melihat wanita yang dekat dengannya itu sampai terduduk menangis di depannya.

__ADS_1


"Asep... di panggil pak Camat." Panggil Darso supir pak Camat.


"La... beneran nanti pulang kerja. A'a jelasin. Ini a'a pamit berangkat ya." Pamitnya pada Laela dengan sopan kemudian benar meninggalkan Laela.


Agak bingung Laela melihat punggung lelaki tampan pujaannya itu. Rasa menyesal tiba, saat tubuh itu menjauh masuk ke dalam ruangan kantor. Mengapa tak ia ijinkan Asep menjelaskan siapa cewek yang membuatnya penasaran.


Laela, tidak sabaran. Ia tidak patuh pada janji yang Asep sampaikan padanya tadi. Maka saat istirahat makan siang, ia memutuskan untuk ke rumah ambu. Menanyakan langsung kebenaran siapa gadis yang tinggal di rumah ambu tersebut.


"Laela...? Asep teh kerja. Sana cari di kantor." Ambu memang tidak ada ramah ramahnya dengan Laela.


"Iya mbu, tau. A'Asep lagi dinas luar sama pak Camat." Jawab Laela agak kikuk.


"Naah... udah tau, kenapa ke sini?" tanya ambu dengan sinis.


"Laela mau tanya sama ambu. Siapa atuh, awewe gelis yang tinggal beberapa hari di rumah ambu?" tanyanya langsung.


Bukannya menjawab ambu malah menangis, menggerak gerakkan bahunya, memegang hidungnya sendiri, sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa. Ambu hanya malu."


"Malu..." beo Leala mengulang kata terakhir yang ambu ucapkan.


Ambu mengangguk angguk, sambil kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Laela... jangan bilang siapa siapa ya." Ujarnya setengah berbisik pada Laela.


"Ada apa?" Laela menyendengkan telinganya, bersiap mendapatkan info yang benar.

__ADS_1


"Awewe iye teh... e.." kalimat ambu menggantung tampak berpikir sebentar.


"Saha ambu...?" Laela makin tak sabar.


"Iye teh ... naon nya... iye teh lagi hamil. Hamil anaknya A'Asep." Ambu menutup mulutnya sendiri, memberi kesan terkejut yang mendalam pada Laela.


"Hah...? Hamil? Anak A'Asep? Ambu ngabohong. Leala ga percaya...!!" Nada suara Laela meninggi, agak melotot ke arah ambu.


"Stt... ulah keras keras atuh, malu. Ambu teh sudah bilang, ambu juga malu. Ambu juga sudah marah marah sama a'Asep. Sia sia rasanya ambu ngedidik Asep teh, jadi kurang ajar kitu. Hati ambu teh sakiiiit, La." Akting ambu ternyata juara, sepertinya ia pernah menang award apa gitu dalam hal berakting bohong.


"Ambuuu... bilang ke Laela, ambu teh ngabohong wae, atuh mbu." Laela menghentakkan kakinya kesal.


"Sagala... ambu di bilang ngabohong. Percuma atuh ambu setua ini, kerjaan cuma ngabohong." Ambu sok so'an merajuk.


"Mbuuu... lamun awewe teh hamil, Laela teh kumaha atuh, Mbu..." Laela menangis meraung raung.


"Hapunten, ambu teh ga becus ngurus si A'Asep nya. Ambu saja yang minta maaf sama Laela."


"Kenapa? Ambu te salah apa? Yang bikin hamilkan A'Asep?"


"Iya... tapi. A'Asep mah, mana mau ngaku sama Laela. Ini rahasia urang. Ambu hanya kasih tau sama Laela. Saran ambu, pelan pelan sok tinggalin si Asep. Dia ga bakal, lamar kamu. Dia te, bakalan sering pergi ke Jakarta menyusul gadis itu." Hasut ambu makin jespleng.


"Masa mbu...?"


"Terserah, Laela teh mau percaya ambu atau tidak. Tapi, ambu teu hayang mun Laela jadi korban cucu ambu salanjut na. Di mana ambu nempatkeun muka ambu. Tolong atuh Laela... jauh jauh saja dari buaya macam A'Asep. Ambu nyesal ngadidik si borokokok macam Asep teh." Ambu memukul mukul dadanya sendiri, memberi kesan asli pada kepedeihan yang ia alami.


"Ambu... Laela teh masih belum yakin. Si A'Asep mah... jangankan buat hamil. Urang ciuman haja hanya di pipi mbua, masa sama gadis lain, A'a bisa bablas begitu?" Laela mencoba berpikir logis.

__ADS_1


"Semua orang teh beda beda. Bisa jadi lagi sama kamu, dia sopan. Tapi dengan yang lain? pancing Ambu pasti.


Bersambung...


__ADS_2