CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 126 : AKSI DAPUR (Part 1)


__ADS_3

Obrolan Gilang dan Siska berakhir dengan bahak keduanya dan kebingungan ibu Siska yang sungguh tak paham dengan bahasa kode mereka.


“Okeh… bu Gilang minta atau beli nih?” tanya Gilang beralih ke hadapan ibunya Siska.


“Kok beli, ya di kasih lah. Buat calon cucu ibu juga. Yang sabar ngedepin istri lagi hamil ya lang. Biasanya mintanya di luar dugaan lho, nikmati saja. Kesempatan jarang terulang-ulang. Lain kepala, lain pula sikapnya. Yang pasti yang ada ini saja dulu di syukuri.” Nasehat ibu Siska pada Gilang.


“Iya.. siap. Makasih ya bu sumbangan dan nasihatnya. Gilang pamit kesebelah.” Ujarnya membawa plastic berisi bahan yang akan ia masak untuk istrinya nanti.


Dalam perjalanan menuju rumah sebelah Gilang bermonolog dalam hatinya. “Seseram apa sih permintaan ibu hamil. Kenapa semua orang berpesan yang sama. Yang sabar ngadepin ibu hamil. Dari bidan bahkan sampai papi Diendra juga memingatkan hal yang sama. Emang ada gitu, sumai yang sampai frustasi ngadepin istri yang lagi hamil. Atau semuanya hanya menakut-nakuti aku saja.”


Gilang sudah tiba di rumah, mendapati Mirna justru tertidur di sofa. Bukannya menjaga Gita, eh malah ikutan ke alam bawah sadar sana. Namun Gilang tak berminat untuk membangunkan Mirna, ia hanya menjenguk Gita yang ternyata masih terlihat tidur dengan nyeyaknya di kasur empuk mereka.


Gilang bergegas kedapur, memastikan ketersediaan nasi pada alat penanak nasi di dapur. Dan benar saja, tak ada nasi di sana. Sehingga Gilang segera menanak nasi, agar nanti Gita tak menunggu lama saat ingin makan setelah bangun tidur nanti.


Selesai memncuci beras dan memastikan colokan dan setelan penanak nasi itu sudah berada dalam mode cook. Maka selesailah pekerjaan Gilang untuk urusan memask nasi. Kemudian ia celingukan kearah bahan-bahan masakan untuk memastikan hal pendukung lainnya, seperti bawang merah, bawang putih, tomat cabai dan minyak goreng.


Oh Tuhan, untung istrinya belum bangun. Ternyata semuanya kosong. Bukankah selama tinggal di sana, mereka selalu dapat kiriman makanan siap masak dari rumah Siska dan semua tersedia di resort milik Kevin. Tentu saja dapur itu kosong.


Cletek.


Gilang lalu memastikan kesiapan kompor yang akan ia gunakan untuk memasak nanti.


Alhamdullilah, gasnya ada dan sudah terpasang. Sehingga kompor itu siap untuk di ajak bekerja sama, beratraksi di depan istrinya.


Sekali lagi, Gilang harus memasang wajah tebalnya. Akan ke rumah Siska kembali untuk meminta semua bahan yang tak mereka miliki di rumah Kevin tersebut. Tapi belum sempat badannya keluar rumah, ia hampir saja bertabrakan dengan Siska yang sudah berada di ambang pintu.


“Astagafirullahalazim, Sis.” Kejut Gilang hampir bertabrakan.

__ADS_1


“Maaf. Ini, kata ibu di sini pasti ga ada bahan masak. Sekalian alat masak. Talenan dan pisau dapur. Wajan dan panci bekas mereka pakai dulu, ada di laci bawah. Pak Kevin taunya cuma kebersihan ruangan, tapi lupa melengkapi isi dapur juga bahan makan lainnya.” Ujar Siska menyodorkan sebuah plastic berisi bahan makanan lainnya.


“Nak… nak. Beruntungnya anakku hadir di tengah orang-orang yang sangat menginginkan dan menyayanginya. Baru aja aku mau kesebelah minta ini lagi Sis.” Ungkap Gilang penuh syukur.


“Iya… ga cuma kamu yang menginginkan anak itu. Kami semua mendukungmu. Sehat selalu ya…” Ucap Siska dengan tulus.


“Yaap. Oke. Semoga Asep dan Siska junior segera otewe yaaa.” Doa Gilang untuk Siska.


“Amiin.” Jawab Siska.


“Emang iya Sis, udah Goal…?” kepo Gilang lucu.


“Iiih mau tau aja… Stt. 5 ronde lhoo. Semalam ku tahan, ku tahan semalam.” Siska lagi lagi menyanyikan lagu andalannya, membuat Gilang agak malu.


“Ih norak kamu Sis.” Seloroh Gilang menangkis ucapan Siska barusan.


“Udah-udah pulang sana.” Usir Gilang. Hah… kenapa Gilang yang malu. Bukannya mestinya Siska yang pengantin baru yang di bully, kenapa harus Gilang yang di buat malu oleh Siska. Nasib... Nasib.


“AGiii…” Suara Gita memanggil suaminya agak serak manja.


“Iya nengGi sayang, aGi di sini.” Jawab Gilang langsung masuk kamar mereka.


“AGi dari mana?” tanyanya mengucek matanya.


“Ini cari bahan dan alat dapur untuk demo masak buat eneng.” Jawab Gilang lembut. Gita langsung tersenyum puas, mendengar jawaban suaminya.


“Makasih ya a’. Cium dulu.” Pintanya manja memonyong-monyongkan bibirnya minta di kecup suaminya.

__ADS_1


“IIh… gemes banget siih.” Celetuk Gilang pada Gita yang manjanya ga ketulungan.


“Ke dapur sekarang sayang? Mau aGi gendong?” tawarnya lagi.


“Ga usah, eneng bisa jalan sendiri kok. Yuuk masak sekarang. Lapar tau bangun tidur.” Jawabnya sembari berdiri akan melangkah keluar kamar menuju dapur.


Gita memilih duduk di meja makan, yang tidak jauh dari dapur mini di rumah itu. Posisi hadapan tempat masak tidak menghadap dinding. Melainkan membentuk huruf L. Sehingga orang yang akan memasak tidak membelakangi orang yang sedang masak. Maka Gita pun sudah siap dengan kamera diponselnya. Yang siap akan merekam momen memasak suaminya itu untuk di kenang.


“AGi… masak, eneng rekam ya. Supaya  eneng bisa masak sendiri di kemudian hari, kalo aGi ga ada?” ujar Gita.


“Emang aGi kemana sih?”


“Kan nanti aGi kuliah di Jakarta, eneng hamil. Bakalan sering di tinggal aGi kan kalo sedang masuk.”


“Nanti aja neng kita pikirin tentang itu.” Jawab Gilang yang bahkan sudah lupa jika ia sudah mendaftar dan di terima untuk melanjutkan kuliah S-2nya.


“Oke… Bismilah.” Gilang memulai aksinya dengan merapalkan doa sesuai keyakinannya tersebut. Gita tersenyum dan memberikan jempolnya menandakan kamera sudah dalam keadaan on.


“Haiii gaiish. Saya Gilang Surenra suami dari Gita Putri Mahesa. Akan memasak menu pesanan pertamanya untuk memenuhi selera kidaman calon anak pertama kami. Hai anak ayah… ini bukan paksaan dari bunda ya, tapi atas keinginan ayah yang sangat bahagia dengan kehadiranmu. Chek it out.” Sapa Gilang sebagai opening ia akan memasak.


Masakan itu sederhana sekali, tapi memang sengaja mereka kemas dengan luar biasa sebagai bukti betapa mereka bahagia akan kehamilan yang telah di nanti ini. Gita tersenyum dan lagi-lagi memberi jempol untuk suaminya.


“Hari ini kita masak yang sederhana ya, ikan kaleng mix sayur dan mie. Stt… pesenan khusus nih demi orang terspesial di hati ayah.” Lanjut Gilang tanpa canggung.Dan memberi lambang cinta dengan ibu jari yang di tautkan dengan telunjuknya ke hadapan Gita.


“Hal pertama yang wajib dilakukan adalah mencuci tangan. Agar makanan yang di buat nanti dapat di pastikan kehigienisannya." Gilang berbalik sebentar membelakangi kamera untuk memcuci tangannya.


"Taraa… sudah bersih.” Aksi Gilang sungguh membuat Gita terhibur dan tak pernah lepas senyum di wajahnya. Semakin memancarkan aura bahagia di wajah cantik manis itu. Tak salah ia menjatuhkan pilihannya pada Gilang Surenra. Lelaki biasa dan bersahaja itu untuk menjadi teman hidupnya untuk menua bersama. Sepanjang mereka menikah, hanya bahagia yang Gita rasankan. Sampai ia lupa cara untuk bersedih setelah di miliki pria tulus ini.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2