CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 182 : KE TIGA


__ADS_3

“Cu … keluarnya tunggu nenek ya …” Pinta Rona pada calon cucu yang masih ada dalam perut Muna.


“Jangan dong Maa … kalo Ade Mau keluarnya cepat ya biarin, ga usah tunggu mama dan Abah donk. Makin sakit ntar …” Cemberut Muna pada sang mama pada panggilan bericon biru itu, ia takut akan terlalu lama merasakan pegal, nyilu saat cabang bayi itu, terlalu lama muter-muter menuju jalan lahirnya.


“Oh iya . Maaf . Maafkan mama Nak. Iya Cu … jangan tunggu nenek, keluar dengan cepat dan selamat ya. Ga papa kalo adenya udah mau cepet keluar, asalkan mamamu mau kasih cucu sekali lagi, yang harus nenek jaga di hari hari terakhirnya melahirkan.” Gurau Rona mengikis kesedihan Muna.


“Mamaaaa ….” Pekik Muna yang wajahnya sudah bercampur aduk, antara menahan sakit juga agak kesal dengan candaan yang mamanya sampaikan padanya.


“Siap Ma … untuk urusan anak selanjutnya serahkan pada Kevin.” Dengan sigap Kevin langsung menjawab permintaan ibu mertuanya tersebut.


“Satu ini aja belum kelar sakitnya … udah mengkhayal saja mau tambah lagi.”Rutu Muna sungguh makin kesal melihat konspirasi mama dan suaminya.


“Oke sayang … sampai jumpa di Jakarta. Semangat dan jangan lupa berdoa ya sayang … doa mama dan abah juga selalu untuk kalian.” Rona menutup obrolan.


Menu pesanan Kevin dan Muna pun terhidang tampak nikmat di hadapan mereka. Muna segera melahap sajian tersebut dengan frekuensi tak jelas. Sebab kadang terjeda karena kontraksi yang datang secara tiba-tiba.


"Sakit Mae ...?" elus Kevin pada tangan istrinya.


"Ga usah di tanya, anak Abang lagi muter muter cari jalan keluarnya." Jawab Muna datar, tanpa melihat wajah khawatir pada wajah Kevin.


"Maaf ..." Ucap Kevin seolah menyesal.


"Udah kodrat, Bang." Jawab Muna singkat kembali melanjutkan makannya, sebab rasa nyeri tadi sudah hilang.


Setelah makan, Muna tak langsung masuk ruang bersalin. Ia memilih berjalan ke sana kemari, sekitar dalam rumah sakit. Ia bahkan naik tangga menuju ruangannya. Dan sekedar melihat beberapa pegawai administrasi rumkit. Sekedar untuk menawar waktu, mengalihkan rasa sakit yang dirasanya semakin mendera.


Hingga saat Rona dan Dadang datang pun. Akhirnya Muna sudah merasa tak berdaya untuk terus mengayunkan langkah kakinya.


Buku-buku lututnya sudah lemah, tak bisa di gunakan untuk menopang tubuh akibat sakit yang semakin tak berjeda di bagian perut bawahnya.


Peluh Muna sudah memenuhi wajah,leher dan bagian lainnya.


Kini Muna sudah berada di ruang bersalin, rebah dengan posisi terlentang dengan kaki yang di tekuk dan terbuka menghadap meja berisi peralatan medis yang tentu berguna untuk membantu proses kelahiran anak ke tiganya.

__ADS_1


"Tarik nafas dalam, buang pelan. Tiup tiup. Baguuus. Teruus, pelan." Perintah dokter wanita yang berdiri tepat di depan posisi Muna yang siap bersalin. Ada mama Rona di sisi kanannya, ada Nyak Time di sisi kirinya. Juga ada Kevin di bagian kepala Muna. Mereka adalah pendukung Muna garis keras.


Kevin mencium-cium dahi basah penuh keringat istrinya, tak perduli hal itu akan hanya menyisakan rasa asin setelah bibirnya bertemu kening basah milik istrinya.


"Semangat sayaang ..." Bisik Kevin sambil mencium daun telinga Muna.


Manik mata Muna mengerling ke arah suaminya.


"Ini sakit sekali ... " Rintih Muna pelan hampir tak terdengar


"Maafin Abang ..." Kevin sontak merasa bersalah, saat melihat peluh dan airmata Muna bercampur tak dapat di bedakan.


"Istigfar Mun." Nyak Time mengingatkan, sambil memijat asal betis di dekatnya.


"Doa terus sayang... Kamu bisa." Mama Rona tak kalah memberi semangat untuk anak semata wayangnya ini.


"Nnggkh ... " Rintihan Muna terdengar berat dan penuh beban.


"Teruss ... Atur nafas. Tariiik. Buaaang kuat bu." Perintah dokter lagi pada Muna.


Kevin memberi tangannya untuk Muna gigit. Agar suara Muna tertahan dan berganti dengan perpindahan rasa sakitnya pada sang suami.


"Aaacchhh ... Nak. Ampuuun. Mama ga kuat sayang, Ade cepet keluar ya ..." Rengek Muna penuh pinta dan hampir menyerah.


"Iya ... Pinter. Terus bu, sudah kelihatan kepalanya. Lebih kuat lagi, nafasnya tariik dalam, bu. Tiup tiup." Arahan dokter tak hentinya mengatur Muna.


"Aaaaaacchhh... Eemmph"


"Huuwaaa ... Huaaaa." Seketika suara tangis bayi menguar di ruang bersalin tersebut, pertanda Muna sudah berhasil mengakhiri perjuangannya melahirkan seorang bayi.


"Alhamduliah." Seru mereka semua serentak.


Jangan tanya Kevin sedang apa. Ia bahkan tak menggubris tangannya yang hampir berdarah akibat gigitan Muna tadi. Semua terbayar dengan suara lantang bayi mereka yang baru menyapa dunia tersebut.

__ADS_1


"Selamat pak, bu. Bayinya sempurna, jenis kelamin laki-laki, berat badan 3,2kg. Panjang badan 54cm." Jelas dokter yang menangani kelahiran tadi.


Lega, senang bercampur jadi satu di dada Muna. Dua tangannya terangkat meminta agar bayinya segera di serahkan untuknya.


"Sebentar ya bu, kita selesaikan proses pengeluaran ari-ari dan penjahitan terlebih dahulu." Ujar dokter yang masih harus menuntaskan proyeknya. Sementara para asisten yang di sana, sudah dengan cekatan melaksanakan tugas mereka membersihkan, memberi salap mata juga membedong bayi agar selalu merasa hangat.


"Ijin pak. Silahkan jika ingin mengadzani bayinya." Seorang perawat menyerahkan bayi merah itu pada Kevin.


"Iya terima kasih." Kevin segera menyambut anak ketiganya tersebut.


"Adera Bintang Mahesa aku mengadzani engkau ... " Kevin mulai melakukan tugasnya sebagai ayah.


Muna sudah selesai di bersihkan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak ada lagi aroma amis darah yang tadi sempat mendominasinya. Tak ada lagi peluh beraroma kecut yang tadi memenuhi tubuh dan wajah.


Bahkan kini baby Adera sudah berada di atas dadanya. Melakukan inisiasi menyusuui dini.


"Jadi namanya beneran Ade nih?" tanya Mama Rona mendekati cucu ke tiganya.


"Iya mah." Jawab Muna singkat sambil memandang wajah tampat bayinya.


"Dan pake nama Mahesa juga." Lanjut Rona dengan wajah lembut dan penuh senyum bahagia.


"Iya ... Kami sudah bersepakat. Sejak hasil USG menyatakan jenis kelaminnya laki laki, maka nanti ia akan menggunakan nama Mahesa. Biar adil." Kevin mendekati Muna dan Adera. Sambil menyampir anak rambut yang menghalangi pengelihatan Muna pada wajah anaknya


"Huum... Annaya Intan Mahesa. Adera Bintang Mahesa. Udah klop. Tapi tidak dengan Aydan Atthalah Hildimar." Dengan pelan seolah Rona ingin menagih perpanjangan nama Hildimar untuk selanjutnya.


"Sabar ya Ma. Nanti kita buat junior Monalisa Hildimar." Kerlingan Kevin penuh arti ke arah Muna yang sedang memandang bayinya merayap di atas dadahnya


"Jangan bilang kalian akan memintaku melahirkan lagi yaah. Ngilu yang tadi masih terasa lho. Ga Mama, ga suami sama teganya." Umpat Muna memasang wajah kesal pada permintaan terselubung dari dua mahkluk kesayangannya itu.


Bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2