
“Amplang dari ikan segar ya Neng…?” Ulang Gilang sambil berpikir keras dan berharap tidak menemukan kendala yang sulit untuk mencari makanan yang istrinya inginkan tersebut.
“Iya, Enengkan sekarang banyak santai. Jadi banyak waktu melihat goggle tentang makanan yang dari bahan dasar ikan. Amplang sejenis kerupuk bentuknya gemoy gitu. Dan pasti banyak di daerah pesisir pantai, karena mudah mendapatkan bahan bakunya.” Jelas Gita yang sudah sungguh lupa akan kekesalan dan perdebatan mereka berdua tadi.
“Kita magriban dulu ya Neng.” Ajak Gilang mengalihkan perhatian Giya soal menu makanan selanjutnya.
Sementara di rumah sebelah. Tak usah di tanya selain makan dan sholat. Pengantin baru itu tampak tak terlihat batang hidungnya. Mereka hanya menghabiskan waktu berduanya di dalam kamar saja. Mungkin awalnya hanya ngobrol, tapi mungkin obrolannya ga singkron dan kurang afdol jika tidak di akhiri dengan saling gigit. Meninggalkan bekas kemerahan di bagian tubuh atas keduanya.
“Si Akang… mentang-mentang sudah sah. Nyosor melulu. Tadinya ku kira, kita bakalan diam-diam bae, kang.” Celetuk Siska merapikan kancing piyamanya, karena akan keluar kamar untuk mengambil stok air putih di dapur.
“Itu naluri lelaki Nyai. Di kira enak apa, selama ini liat kemasan terus. Pas tiba bisa nyicip isinya, candu deh.” Tangan Asep sudah menekan nekan lagi dari luar squisy kembar di bagian depan Siska.
“Aku jadi keluar ambil air, ga nih?” tanyanya sengaja berhenti agar Asep tak berhenti merem as, benda berjajar itu.
“Jangan lama-lama di dapurnya. Kangen…” Rengek Asep manja, super manja. Mana Siska sangka setelah beralih status Asep sebegitu mesum dan manjanya.
“Ya ampuun … norak banget sih.” Kilah Siska keluar kamar dengan senyum terkembang.
Bahagia.
Bahagia dong, Asep adalah pria satu-satunya yang ia tunggu untuk menoleh kepadanya. Asep adalah lelaki yang sanggup ia tunggu sampai putus dengan kekasih sebelumnya. Asep juga adalah satu-satunya lelaki Indonesia yang terkemas blesteran Korea, yang tercipta hanya untuknya. Tak usah di tanya siapa yang bucin. Siska tak pernah malu mengakui, jika dialah yang pertama kali jatuh cinta pada sepupu sahabatnya itu.
Seandainya di minta menyerahkan diri sebelum sah pun, hampir ia lakukan demi menunjukkan betapa ia tak ingin lepas dari Asep. Ia bahkan rela mengikat Asep dengan janin yang hadir sebelum halal, jika memang Asep memintanya. Tetapi, Asep tidak tega itu, ia pun tak punya alasan untuk menyia-nyiakan wanita sebaik Siska.
Bohong saja ia tak tergiur untuk melakukan hubungan yang dapat menyeret mereka ke ranah dosa. Tapi, iman mereka cukup kuat untuk tetap bersabar, untuk menunggu saat yang sudah mereka rancangkan. Yah, walaupun harus memecahkan perawan itu hanya di desa bahkan di jeda adegan mati listrik. Toh, mereka tetap telah melakukannya dalam waktu yang sudah tepat dan halal.
Tadinya Siska hanya ingin keluar mengambil air minum, tapi obrolan orang di depan rumah membuatnya beralih untuk ke luar rumah. Di sana ia dapati Gilang dan Gita yang tampak berbicara seru dengan ibu, ayah serta adiknya.
__ADS_1
“Ngobrol apa sih, asyik bener.” Celetuk Siska nimbrung di antara mereka yang tengah bercengrama di luar rumah itu.
“Eh… pengantin baru. Kirain sibuk di dalam.” Goda Gilang yang bagai musuh bebuyutan jika sedang berinteraksi dengan Siska.
“Udah di stok kok. Jadi tahan sampai pagi.”
“Apa coba…?” bingung Gita dengan bahasa suamidan temannya itu.
“Ya apa aja deh.” Jawab Siska terkekeh.
“Jadi … di kios tadi ada amplang bu?” Gilang memastikan adanya makanan yang tadi sempat di sebut oleh Gita.
“Ya ada lah, semua jenis makanan yang berbahan dasar ikan itu. Hampir semua ada di produksi di sini. Dan di jual di kios desa. Tadi sudah sampe sana atau belum?” tanya ibu Siska pada Gilang.
“Sudah bu, tapi kan yang Gilang cari Cuma pempek. Mana Gilang tau, dede bayinya cari amplang lagi.” Gerutu Gilang.
“Enggak lah Neng. Namanya juga selera, mana bisa di atur kan.” Gilang mengelus pipi Gita dengan lembut.
“Daerah sini ikan laut melimpah, yang namanya ikan kering jangan di tanya. Di sini gudangnya. Tetapi katanya itu tak baik untuk kesehatan. Juga tidak menarik selera anak-anak. Jadi, kami di latih di kota untuk membuat makanan lain, selain ikan kering.” Jelas ibu Siska semangat. Sudah seperti duta pantai saja ia mempromosikan hasil laut desa mereka.
“Apa saja olahannya bu?” tanya Gita bersemangat mendengarkannya.
“Ada baso ikan, nugget ikan juga, otak-otak. Semua dari bahan dasar ikan.”
“Oh… semacam frozen food tapi dari ikan semua?” tanya Gita dengan mata berbinar. Taj tau mengapa, mungkinn sejak hamil ini. Selera makannya lebih cendrung ke ikan dan makan laut. Hampir tak pernah Gita makan daging-dagingan.
“Iya… kan kita nyesuaikan bahan yang banyak di daerah ini, Git.” Jawab ibu Siska.
__ADS_1
“Kebetulan sekali. Eneng sekarang lagi doyannya makan yang serba ikan bu.”
“Waaah… pasti cewek nih si dedek bayinya, kalo hamilnya suka makan ikan.” Ujar Ibu Siska sumringah.
“Masa bu…?” Gilang memastikan.
“Iya… dulu waktu ibu hamil Siska dan Mirna. Sangat puas makan ikan, apalagi ikan segar. Tinggal di panggang di atas kayu bakar. Sama sambal matah. Ya ampun, ibu makannya banyak sekali.” Slruup. Mendengar cerita ibu Siska saja, air liur Gita sudah menetes-netes.
“A’a… mau ikan bakar.” Rengeknya pelan-pelan.
“Iya… besok pagi kita cari ya…” rayu Gilang pada Gita.
“Maunya sekarang a’a. Pasti wangi banget ya bu, waktu minyak dari ikannya netes kena bara api di kayunya. Heemmm… lapaar.” Rengek Gita yang membuat Gilang dan ibu Siska saling bertatapan.
“Ini sudah malam Neng.” Jelas Gilang memberi tahu jika bulan sudah bertengger megah di atas sana. Pertanda malam semakin kelam.
“Sis… ku ikut bobo di kamar kamu saja.” Gita melangkah tidak tau diri saja,ke kamar pengantin baru itu.
Asep.
Asep yang bingung, bukankah ia sedang menunggu kedatangan istri yang pamit mengambil air untuk stok mereka mala mini. Tetapi kenapa ibu hamil muda ini yang terlihat berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki ala paskibraka. Lalu memilih rebah di atas tempat tidurnya.
“Oh Tuhan gawat. Ngambeknya kumat nih. Kunci, pastikan kunci kamarmu tidak di pintu Sis, supaya eneng ga mengurung dirinya di kamarmu.” Sergah Gilang waspada. Hidup paksu yang istrinya hamil muda kapan tenang sih? Gilang menggeleng kepala.
“Ngurung diri? Yang ada dia malah ngurung suamiku di dalam sana…” Celetuk Siska yang sadar jika Asep sedang menunggunya di dalam kamar mereka.
“Ya ampuun. Neeeng….” Loncat Gilang ingin segera menjemput istrinya yang nyasar ke kamar pengantin baru.
__ADS_1
Bersambung…