
Gita memiliki kebiasaan baru sekarang. Yaitu suka menyela di saat cerita Gilang belum sepenuhnya selesai. Sehingga kisah yang Gilang sampaikan terpotong sebelum waktunya.
"Waktu itu, ayah masih kuliah di semester 5 neng. Tapi, selalu mencuri curi waktu untuk bertemu dengan ibu. Bahkan sering menemani ibu di warung tempatnya bekerja." Jelas Gilang, membuat Gita mengangguk-angguk.
"Lalu...?"
"Nenek dan kakek keberatan akan sikap ayah waktu itu. Sehingga ayah di minta berbicara dengan serius pada mereka. Intinya, menanyakan apakah mereka serius dalam menjalin hubungan yang semakin terlihat dekat itu. Dan ayah dengan tegas menyatakann dengan penuh keberanian, justru melamar ibu waktu itu."
"Sendiri a'...?" potong Gita
"Ga neng se RT." Jawab Gilang agak kesal, sebab omongannya selalu di sela.
“He…he… beneran?” tanya Gita dengan manjanya.
“Sendirian neng. Sebab waktu itu ayah ke rumah hanya sambil mengantar ibu pulang dari warung tempatnya bekerja saja.” Gita manggut manggut.
“Terus lamarannya di terima a’…?” penasaran Gita lagi.
“Ya… mereka kan saling cinta. Kakek dan nenek dari pihak ibu sama sekali tidak menentang. Mereka justru meminta agar ayah meyegerakan saja, hubungan mereka untuk di halalkan. Walau secara
sederhana, asalkan juga di restui oleh pihak keluarga ayah.” Kali ini Gita hanya diam, tapi Gilang yang terhenti untuk menarik nafasnya untuk kemudian melanjutkan cerita.
“Tarohlah kisah mereka bagaikan Romeo dan Juliet yang terhalang restu. Pihak kedua orang tua ayah tidak setuju dengan alasan ayah masih kuliah, juga ibu tak selevel dengan keluarga mereka yang berada.” Gilang terhenti lagi semacam mangatur nafas dan ingatannya pada kisah yang mulai memasuki konflik rumah tangga tersebut.
__ADS_1
“Ayah dan ibu salah neng di masa lalu. Terlalu nekat dalam urusan memperjuangkan cinta mereka. Sedangkan ibu hanya manut dengan keinginan ayah. Hingga nikah siri pun mereka lakukan bahkan tanpa sepengetahuan kedua orang tua ibu. Mereka menikah diam diam, hanya bersepakat untuk menghalalkan hubungan mereka berdua agar tidak dosa di mata Allah.” Gita tak berani berkomentar lagi, diam seribu bahasa menyimak kelanjutan kisa yang Gilang ungkap.
”Ayah anak orang kaya, sehingga besar kecil pengeluaran ayah tidak di permasalahkan oleh kedua orang tuanya. Maka menyewa sebuah kost pun, ayah lakukan untuk mulai membina rumah tangga sirinya bersama ibu. Namun masih sembunyi sembunyi dan hampir tak pernah bermalam berdua. Hanya sampai larut malam saja. Tapi, bagaimanapun status mereka berdua sudah suami istri bukan? Sehingga hal selayaknya suami istri pun mereka lakukan, hingga ibu hamil.” Ujar Gilang dengan pelan.
“Terus…?”
“Kehamilan bukan sesuatu yang bisa di tutupi selamanya, di awal kehamilan ibu lemes katanya. Muntah tiap pagi dan sebagainya deh. Sehingga nenek mengetahuinya dengan segera. Ditanyakanlah baik baik. Dan ibu tak punya alasan untuk tidak mengakui perbuatan mereka berdua. Kakek ingin marah, karena malu. Ia kira anaknya hamil di luar nikah, ia takut itu akan menjadi aib bahkan gunjingan dan dosa seumur hidup mereka. Ayah segera di panggil dan mereka berdua pun di sidang oleh kakek.” Gilang menghembuskan nafasnya berat.
“Mau tidak mau, suka tidak suka ayah di paksa untuk menyampaikan berita kehamilan ibu pada kedua orang tuanya agar segera di lakukan pernikahan yang sesungguhnya. Kakek tidak mau seolah berpihak pada hubungan yang sebenarnya masuk kategori terlarang itu.”
“Namun, belum sempat ayah mengaku. Ternyata mata mata kakek Sudrajat sudah lebih dahulu mengetahui keberadaan kost ayah. Di sana ayah d seret untuk mengaku semua perbuatannya. Bahkan mereka tidak percaya jika ayah dan ibu telah menikah siri, dan tiudak ingin mengakui jika kehamilan ibu itu atas perbuatan ayah.”
“Ayah lebih tau bagaimana ia meng gauli ibu, dan siapa saja orang yang selama ini dekat dengan ibu. Dengan penuh kesadaran mereka memang melakukan itu atas dasar cinta. Jadi ayah memang keukeh mengakui jika kehamilan itu memang hasil perbuatan mereka.”
“Sejak itu, ayah di buang, di usir dari rumah. Di stop segala sumber keuangan dan fasilitas yang selama ini ia gunakan. Ia tak di anggap lagi sebagaiu bagian dari keluarga Sudrajat.” Giliran Gita yang menghela nafasnya masih penasaran dengan kisah cinta yang rumit itu, padahal hanya ingin tau siapakah Gibran Sudrajat saja.
meninggalkan rumah mewah milik orang tuanya hanya dengan berbekal satu tas pakaiannya. Lalu memohon kerelaan kakek untuk menerimanya dirumah kediaman keluarga ibu.”
“Kakek tak punya alasan untuk menolak, ia bahkan mengerahkan seluruh keuangannya untuk menikahkan secara resmi dan ramai di lingkungan tempat tinggalnya. Kakek Sudrajat memang keras, tapi tidak dengan nenek. Diam diam dengan berlinang airmata beliau hadir saat pernikahan ayah berlangsung. Membawa sekotak perhiasan yang sekarang jadi milik eneng, sebagai mahar yang ia berikan untuk ibu.” Ujar Gilang.
“Namun, beliau datang hanya sebentar. Sebagai tanda bahwa sebagai ibu yang pernah melahirkan ayah, ia memberikan doa terbaiknya untuk anak lelakinya yang sudah memutuskan sebuah pilihan.”
“Terus a’…”
__ADS_1
“Terus… kita pesan kopi lagi deh kayaknya neng, karena kisahnya masih perlu dua hari dua malam lagi baru kelar.” Kekeh Gilang mendusel kepala Gita penuh sayang.
“Ya udah… sok buruan pesan. Eneng masih penasaran ini. Si aGI, eneng Cuma tanya siapa Gibran, tapi yang di ceritakan soal sejarah. Ya iyalah puanjang banget jadinya. Langsung ke intinya saja kenapa?” Gita memberi masukan.
“Lah yang dari tadi bilang terus,terus , terus siapa?”
“Ya kirain udah makin deket. Ternyata kisahnya masih di jaman sebelum masehi.”Kekeh Gita.
“Ya harus runut dong biar lebih jelas. Nanti salah pengertian bakalan runyam urusannya.”
“Intinya langsung kenapa?”
“Kalo intinya langsung itu neng, adanya di tengah. Dan ga bisa di ini in di sini.” Eh… busyet. Gilang ga jera pas baru nikah di giring Satpol PP karena kemesraan mereka. Laih ini tangannya udah nunjuk nujuk aja di area si iting itingnya Gita. Apa coba…
“AGi … tangannya kenapa ke situ di tempat umum.” Cubit Gita gemas dengan suami yang kesininya makin cabul itu.
“Tadi bilangnya langsing ke inti. Intinya aGi teh, ya si iting neng.”
“Ca bul.” Bisik Gita tajam ke telinga sang suami.
“Biarin istri sendiri ini.”
“Ga di sini juga, aGi sayang.” Tangan Gita mencengkram tangan Gilang takut ada serangan selanjutnya.
__ADS_1
“Kalo gitu, ceritanya to be continue aja. Si jaka mau main ke iteung nih.” Kekeh Gilang nakal dengan senyum setannya yang tetap tak melunturkan ketampanannya.
Bersambung…