
Demikianlah Asep dan Siska pelan tapi pasti semakin dekat. Peran ambu dan Rona juga lumayan banyak untuk mengada adakan acara dalam bentuk sederhana untuk menghadirkan Siska di rumah Hildimar juga selalu beralasan ambu rindu pada Asep. Sehingga keduanya memang menjadi sering bertemu.
Entah, apakah Asep pernah terlalu dalam mencintai Laela, apakah trauma dalam hal menjalin hubungan dengan wanita. Sehingga ia hanya memilih mwnikmati kedekatannya dengan Siska tanpa status.
Beda orang beda rasa, jika Asep nampak adem dan biasa saja dengan kedekatannyan dengan Siska yang bahkan sudah melewati hampir sepuluh purnama. Tapi tidak dengan Siska. Tentu saja ia sudah merasa tidak nyaman. Hatinya menggelitik makin geregetan dengan kedekatannya dengan Asep tanpa ada kejelasan antara mereka berdua. Di tambah lagi rong rongan dari ambu dan Rona yang sudah sangat klik dengan Siska untuk menjadi istri Asep.
Hingga perkuliahan Asep sudah hampir selesai pun Asep masih tidak menunjukkan tanda tanda akan meresmikan hubungannya dengan Siska.
Tetapi sebuah insiden membuat mereka tak dapat menghindar untuk semakin dekat. Yaitu saat Siska tak punya siapa siapa lagi tempatnya meminta pertolongan. Sebab saat Muna masih di Apeldorn, Siska tinggal di Jakarta sendiri, karena nyak Time dan babe Rojak tinggal di Bandung menemani Kevin.
Saat itu, perkuliahan Asep sudah melonggar sebab akan menunggu masa wisuda saja. Dan Asep sudah di pindah tugaskan ke sebuah kantor di Bandung sehingga ia tak lagi tinggal di desa bersama ambu. Melainkan mereka berdua tinggal di Bandung, di sebuah rumah yang sudah Dadang siapkan untuk ambu dan Asep tempati. Lengkap dengan ART dan supir untuk mengurangi beban Asep yang biasa mengurus keperluan ambu berdua saja.
"A'Asep... dimana?" chat Siska saat merasakan perutnya nyeri mendadak yang dimulai di sisi kanan perut bagian bawah. Siska tidak tau harus menghubungi siapa. Masa Daren? Walau sekota dan lumayan dekat. Tapi Siska tau ia sudah lunya Zahra yang hatinya harus di jaga, walau mereka hanya berstatus pacaran saja waktu itu. Tapi Siska bukan tipe wanita pengganggu hubungan orang, bahkan saat Muna dan Kevin tak saling dekat.
"Masih di Jakarta, ambu belum mau pulang. Ada apa Sis?" balas Asep cepat saat chat Siska memenuhi room chatnya.
"Bisa tolong aku?" chat Siska kemudian. Asep segera mencari icon panggil pada nomor Siska.
"Kamu kenapa?" tanpa salam dan basa basi Asep bicara saat ia lihat panggilannya di respon oleh Siska.
"Perutku sakit sekali A'Asep." Ringis Siska menahan nyeri perut yang bermula di sekitar pusar, lalu berpindah ke perut kanan bawahnya.
"Ke rumah sakit ya, nanti ku jemput." Tanggap Asep dengan cepat. Tanpa menunggu persetujuan Siska. Ia menutup sambungan telepon itu lalu pamit pada Rona dan Ambu.
"Tante Rona... Asep mau ke rumah babe Rojak dulu jemput Siska ya." Pamitnya saat berpapasan dengan Rona yang baru datang belanja.
"Mau di ajak ke sini?" tanya Rona pada Asep yang terlihat tergesa.
"Tidak.... Anu. Siska sakit perut. Asep mau antar ke rumah sakit saja." Jawab Asep menanggapi pertanyaan Rona.
"Bawa ke rumah sakit kita saja, nanti tante telpon pihak IGD." Lanjut Rona lebih tanggap lagi.
__ADS_1
"Oke makasih tante, Asep pergi dulu. Assalamualaikum." Pamitnya mencoum tangan Rona.
"Walaikumsallam, hati hati di jalan." Rona memandang punggung Asep yang pelan meninggalkannya menuju garasi untuk segera menjemput Siska.
Sesampai di rumah babe, Asep hanya mengetuk sebentar pintu itu, kemudian menerobos masuk ke dalam rumah.
"Sis..." panggilnya.
"A'a masuk ya...." pamitnya tanpa menunggu jawaban Siska, lalu membuka pintu kamar Siska. Nampak Siska yang pucat, berkeringat dingin menahan rasa nyeri perut kanan bawah yang terasa semakin buruk saat batuk, berjalan, atau bergerak.
"Panas...?" tanya Asep menyentuh kening Siska dengan punggung tangannya. Siska hanya mengannguk. Sebab jika membuka mulut, akan terasa mual dan ingin muntah.
"Kita ke rumah sakit ya. A'a siapin bawa apa nih?" tanya Asep agak bingung. Siska menggeleng, tak sanggup bicara. Hanya menunjuk tas kecil berisi dompet dan ponselnya.
Asep meraih tas selempang itu, dan menyilangkan di tubuhnya.
"Bisa jalan...?" tanyanya lagi. Dengan lemas Siska mengangguk. Dan berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
Siska masih punya akal sehat, maka tanpa di minta tangannya masih kuat membuka pintu mobil, agar Asep tidak kesusahan meletakkan tubuhnya di kursi sebelah kemudi.
Saat tubuh Siska sudah di letakan di kursi depan. Asep tak lantas meninggalkannya, tetapi menyetel kursi tersebut agar Siska berada di posisi nyaman, seolah berebah.
"A'Asep kunci rumah dulu ya Sis." Pamitnya pada Siska. Dan hanya di balas anggukan, sebab sungguh Siska merasa tak berdaya karena demam tinggi bahkan membuat tubuhnya mengigil seolah kedinginan dari dalam.
Asep segera melajukan mobil menuju Hospital Hildimar sesuai saran Rona mama Muna. Sesekali Asep melempar pandangannya ke arah Siska, dan mengusap kening Siska yang berembun kepanasan.
"Permisi kami tangani dulu ya pa." Ijin perawat pada Asep yang masih menyimpan kepanikan di wajah tenangnya.
Asep pun mundur memberi keleluasaan pada pihak para medis untuk memeriksa keadaan Siska.
"Data pasien..." Ucap seorang petugas menghampiri Asep yang terlihat sedang berbicara di telepon dengan seseorang.
__ADS_1
Asep merogoh tas Siska yang sedari tadi terselempang di dadanya, tanpa rasa malu walau itu adalah tas perempuan. Lalu tanpa permisi membuka dompet untuk mengambil kartu identitas Siska di sana.
Petugas segera kembali ke tempatnya, untuk melanjutkan pekerjaan sesuai bagiannya.
"Keluarga pasien atas nama Siska..." Panggil salah satu petugas medis yang menangangi Siska.
"Siap... saya suster." Jawab Asep tanggap, yang langsung berdiri menghampiri perawat yang menyebut nama Siska.
"Pasien harus di opname, keadaannya sangat lemah dan kami masih harus menunggu hasil periksaan darahnya. Untuk memastikan penyakit yang ia derita." Jelas perawat itu pada Asep.
"Iya... siap. Lakukan yang terbaik saja untuk dia suster." Jawab Asep sopan.
"Silahkan bapak ke bagian loket itu, untuk memilih ruang rawat pasien selanjutnya, dan persetujuan pasien akan di rawat di sini." Jelas perawat itu kembali.
"Siap... terima kasih." Ujar Asep lalu melangkah ke bagian loket yang di arahkan padanya tadi.
"Permisi... saya keluarga pasien yang baru di periksa di dalam." Ujar Asep menarik kursi di depan loket tersebut.
"Oh... iya. Sebelumnya pasien pernah di rawat di sini pa?"
"Ti... tidak." Jawab Asep ragu. Siapa dia? mana ia tau riwayat sakit seorang Siska.
Bersambung...
Makasiih dukungannya ya...
Semua sudah normal
Semoga nyak upnya juga makin rajin.
Okeeeh
__ADS_1
Loppe kalian semua❤️❤️