
Sepulang keluarga besar Gita, rumah Gilang mendadak sepi. Tak ada riuh rendah suara celotehan nyak Time dan kelakar dari babe Rojak.
Paman Ali baru 2 kali bertemu Gita dan keluarga besarnya sehingga belum paham benar akan sifat dan karakter keluarga tersebut.
Tadinya paman Ali ingin bertanya langsung, tapi ia urungkan. Merasa pertanyaannya mungkin tidak penting. Namun, kali ini Anisa yang ternyata memiliki kebingungan yang sama dengan sang ayah.
"Git... boleh tanya?"
"Tanya apa?"
"Itu tadi yang ngomongnya Betawi sekali siapa? Keluarga kalian?"
"Oh... Babe Rojak dan Nyak Time...?"
"Iya, yang pintar pantun."
"Itu orang tua angkatnya mama Aydan."
"Oh... pantesan beda, istri pak Kevin bule banget. Tapi orang tuanya Betawi."
"Kakeknya Muna Belanda, menikah dengan orang Sunda. Jadi mamanya blesteran deh. Nurun mata mereka semua ga hitam. Terus mamamya nikah sama orang Sunda juga."
"Oh... gitu. Sekarang mereka di mana?"
"Masih di China berobat. Habis transpaltasi hati. Mungkin 3 bulan atau 6 bulan lagi baru pulang ke Indonesia."
"Waw... banyak sekali biayanya ya Git." Akrab Anisa pada Gita yang juga baru saling kenal.
"Iya... lumayan lah. Tapi bagi mereka mungkin ga seberapa."
"Mereka kaya ya Git?"
"Banget... bukan hanya kaya." Hati Anisa cenat cenut mendengar penjelasan Gita. Bagaimana orang kaya memuji kekayaan orang lain.
"Kak Muna itu direktur sebuah
rumah sakit swasta di Jakarta. Dia itu pewaris tunggal dari kakeknya."
"Masa...?" kaget Anisa.
"Istri pak Kevin tadi direktur? Bukan pak Kevinnya yang direktur?" tanya Anisa jadi kepo.
__ADS_1
"Bukan, kak Kevin CEO perusahaan tempat Gita dan a'Gi bekerja. Di rumah sakit, kak Kevin menjabat wakil direktur saja. Untuk sementara kak Muna bisa terjun langsung. Karena masih punya bayi 4 bulan."
"Humbel banget ya Git. Tadi ku lihat walau ada baby sitter tetap dia yang selalu gendong bayinya. Apalagi yang kakaknya si Aydan kalo ga nemplok sama papanya pasti nempel sama engkongnya."
"Iya mereka memang begitu sama anak anaknya. Pake jasa baby sitter tuh kalau keadaan darurat saja. Apa lagi urusan masak untuk suami. Kak Muna jarang kasih kesempatan sama pelayan. Selalu dia yang kerjakan." Jelas Gita pada Anisa yang juga tak luput dari perhatian paman Ali juga bu Dian.
"Makanya kak Kevin sering marah sama aku, dia paling tidak suka kalau aku tidak bisa mengurus suami terutama soal makanan. Karena ia terbiasa di layani oleh istrinya itu."
"Hebat ya ... padahal sepertinya masih muda."
"Iya... memang. Karena kak Kevin saja aku panggil dia Kak Muna. Padahal dia 3 tahun lebih muda dari ku."
"Wah... muda sekali. Cepet nikahnya ya?"
"Iya... ga sempat lulus S1 sudah di nikahi kak Kevin. Takut di ambil orang." Kekeh Gita.
"Ya iyalah... muda, kaya, pintar melayani suami lagi. Beruntungnya kakak mu memiliki istri seperti itu."
"Ya... kak Kevin sangat beruntung dapet kak Muna. Perpect dia mah. Ga seperti aku, ga bisa masak. Hobby cuma leyeh leyeh aja." Lanjut Gita.
"Ga papa kali Git, ga bisa masak. Kan ada ibu tuh yang jago masak. Pasti nanti pelan pelan di ajarin. Ya kan Wa...?" pancing Anisa pada ibunya Gilang.
"Iya... asal Gitanya aja rajin ke sini. Kalo jarang main ke sini ya sulitkan ibu ngajarinnya." jawab bu Dian santai.
"Ibu takut ganggu pengantin baru. Ibu kan juga mau cepat dapat cucu dari kalian." Ibu Gilang tampak tidak setegang sebelumnya.
"Ha...ha... ha. Sabar bu. Kan masih baru, kami mau honeymoon dulu." Jawab Gilang duduk bersebelahan dengan Gita.
"Enaknya yang punya banyak modal nikah, selesai pesta. Masih ada dana buat bulan madu." Ledek Anisa.
"Hah... kita mau bulan madu a'...?" tanya Gita agak terkejut, sebab Gilang tak pernah membicarakan hal itu padanya. Dan bukankah setelah akad mereka sudah langsung berbulan madu.
"Hehehe... model model pekerja di bawah perintah pimpinan seperti kita. Mana ada waktu bulan madu neng. Apalagi cuti menghamili." Kekeh Gang sambil mencubit hidung Gita.
"Terus tadi... apa artinya?"
"Sibuk apa sih. Sekretaris kok lupa jadwal. Minggu depan kita dinas luar ke Singapura. Rapat rutin dan pembahasan progresif perusahaan. Biasanya pak bos yang datang. Tapi kayaknya dia ga berangkat deh."
"Oh iya. Kok bisa eneng lupa ya. Eneng ikut a'a?"
"Ya iyalaah. Masa a'a ajak Siska atau Haikal?" Seloroh Gilang pada Gita yang matanya sudah berbinar-binar kesenangan itu.
__ADS_1
Hmm... mereka akan melakukan perjalanan ke Singapura. Negara pertama yang menjadi saksi bahwa mereka pernah sempat tidur bersama saat tak ada ikatan pernikahan, bahkan komitmen berpacaran.
Ingata Gita sontak melayang, saat ia membohongi Baskoro, jika Gilang itu suaminya. Mana ia tau, jika ucapan itu benar bagai doa. Di negara itu pula hal ikhwal kedekatan mereka berdua, saling terbuka dan mengenal pribadi satu dengan yang lainnya.
"Hmm... ngelamun dia. Mikirin jorok ya?" Kejut Gilang pada istri cantiknya itu.
"Iish... a'a."
"Mandi... mandi sana. Sudah ga sholat, malas mandi juga." Tegur Gilangblada Gita yang sejak kemarin memang sudah mendapat jatah bulanannya.
"Iya... siap bosku." kekehnya beranjak untuk mandi.
"A'.. eneng sama Anisa tidur sama ibu ya. Biar a'a sama paman Ali. Besok mereka sudah pulang. Jarang jarang bisa ketemuan." Ujar Gita setelah mandi dan sedang memasang pakaian tidurnya di kamar Gilang.
"Yakin ga cari lengan a'a buat bantal?" goda Gilang yang sudah memangku Gita di atas tempat tidurnya.
"Hahaaa... baru sebulan jadi bantal eneng aja, udah kaya eneng ga bisa tidur tanpanya." Balas Gita menggoda Gilang.
Ceklek
Pintu kamar di kunci oleh Gilang.
"Kenapa di kunci a...?"
"Mau nyu su sebentar. Takut kurang gizi sejak kemarin kegiatan full. Banyak tenaga dan pikiran terkuras untuk acara tadi." Alasan Gilang yag sudah mengangkat baju atasan piyama Gita. Lalu mengeluarkan benda sama, di dalam kain berenda melintang di dada istrinya.
"Jangan lama lama, nanti nagih yang lain." Tegur Gita yang sesunggunya sangat menikmati sesapan itu.
"Gimana mau sebenatar. Kepala a'a malah di tekan dan di arahkan ke kiri dan kanan gini." Lepas Gilang dari gigitannya itu.
"Biar adil aja. Kiri dan kanan. Kalo ga sama, nanti gatel." Tawa Gita menutup wajahnya dengan tangan.
Gilang membuka telapak tangan yang menutup wajah itu. Dan beralih menyerang mulut yang sudah pintar beralasan tadi.
Terjadilah balas balasan sapuan lidah di dalam rongga mulut keduanya. Berganti isap, saling bertukar saliva. Sebelum keduanya benar akan tidur terpisah malam itu.
Bersambung...
Thanks vote, mawar n kopinya.
Semoga selalu bahagia dan murah rejeki yaaa
__ADS_1
πΉπΉββππππ