CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 108 : SYAHDU


__ADS_3

Kevin memang kepala keluarga, tapi bukan berarti bisa lepas tanggung jawab dari perintah ibu negara. Walau hanya perkara kecil, dempulin kulit memar Muna karena ulahnya sendiripun, Kevin tetap menurut dan manut saja.


"Ini apa sih Mae... mantap juga. Sekali oles udah ketutup."


"Kenapa? mau jadi bintang iklannya?" tanya Muna cuek sambil memastikan bagian mana lagi yang harus di tutupi.


"Bukan gitu. Tau ada yang beginian kan abang buatnya banyak banyak di leher. Tanpa khawatir du interogasi Ay atau babe." Kekehnya nakal.


"Busyeet deh abang, ga ada malunya."


"Bukan malu Mae, tapi mau terus."


"Udaah... stop. Bagian deket situ biar Nuna aja yang oles. Ntar bablas lagi." Pinta Muna dengan nada galak. Ya iyalah, tangan Kevin sudah dengan lincahnya mengoles area, puncak coklat muda di dada Muna. Kesempatan kan.


"Hmm... takut banget sih, yank."


"Abang... yang nikah pagi ini tuh Siska ya. Bukan kita...!!!" Tegas Muna.


"Trus... kalo karena mereka yang nikah kita ga boleh kawin gitu?" Kevin, Kevin selalu sukses membuat istrinya rada sebel.


"Udah... selesai. Yuk, kita berangkat. Tama udah jemput belom?" tanya Muna mengalihkan fokus mereka.


"Udah donk, sejak kita sarapan dia sudah nunggu." Jawab Kevin serius.


"Ok let's go." jawab Muna mengangkat tas kecilnya.


"Sayang..."


"Apa pap...?"


"Baju kondangan abang dimana?"


"Baju kita semua di rumah yank." Jawab Muna berubah mesra.


"Waduuh... jadi abang cuma celana pendek nih ke rumah. Duh... mana udah siang lagi. Pasti orang orang udah pada rame." Celetuknya memasang kacamata hitamnya.

__ADS_1


"Terima nasib malu aja kitanya. Siapa suruh ada serangan fajar tadi." Ujar Muna merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya.


"Salah siapa, suguhan bini abang selalu enak dan bikin nagih." Bisiknya sambil mencium telinga Muna. Walau saat itu mereka sudah berjalan di koridor menuju reseptionis tanpa malu dengan tatapan mata orang yang melihat mereka.


Yah... begitulah Kevin dan Muna yang selalu hangat dan mesra di manapun berada. Tak bosan bagi keduanya untuk selalu menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Seolah baru kemarin mereka bertemu dan saling jatuh cinta.


Benar saja, Tama sudah dengan sabar menunggu majikannya keluar dari kamar reaort itu. Ia pun sudah terbiasa dengan pemandangan, betapa mesranya pasangan itu. Yang kadang di dalam mobil pun, bisa saling bertukar kecup. Seolah Tama itu buta, tak melihat dengan yang mereka lakukan di belakang.


Tetapi bukankah hal itu tidak salah.


Sebab mereka pasangan sah, wajar dan mungkin harus di lakukan untuk merawat rasa cinta agar tetap berada di tempatnya.


Muna dan Kevin datang di TKP memang hampir telat. Tiga puluh menit lagi, akad berlangsung. Keduanya pasrah saja dengan tatapan mata orang-orang yang semua sudah berpakaian rapi khas kondangan.


"Mamam... yiat kaka. Yiat kaka..., kakak kata engkong cakep, mam." Celoteh Aydan saat melihat kedua orang tuanya masuk ke rumah. Sambil mematut matutkan pakaian barunya di hadapan sang mama.


"Wow... anak mamam keren banget siih. Cakepnya kebangetan kakak Ay." Respon Muna pada sang anak.


"Lailahahilaulaaah Mun. Ngape kaga ntar sore aje lu bedua datengnye..." Siapa lagi dong yang berani ngomel sama Muna kalo bukan nyak Time.


"Mun... buruan dah lu bedandan. Noh... MUA katanya dari tadi nungguin elu." Lanjut babe.


"Bentar be, Muna mau nen Naya dulu." Jawab Muna menuju kamar Laras.


"Ga usah bu, Naya sudah kenyang minum susu di botol. Dia masih di kamar non Gita. Ketiduran lagi." Jawab Laras yang ternyata sudah cantik, di poles oleh tukang rias.


"Oh... ok." Jawab Muna yang kemudian mengambil pakaian untuk Kevin kenakan.


"Pap... ganti baju." Perintahnya pada Kevin yang sedang meladeni Aydan bercerita pengalamannya ke pantai lagi, pagi tadi.


"Iya mam, sebentar." Muna mengangguk lalu masuk kamar untuk di rias sambil menyedot air yang terbendung di dadanya yang mulai terasa penuh.


Muna sudah cantik, kulitnya bersih terawat. Bentuk wajahnya tak perlu di countur untuk mendapatkan hasil yang memukau. Sehingga, sang MUA tak perlu kerja keras untuk menyulap riasan itu. Lagipula, Muna hanya sebagai tamu. Bukan pemeran utama hari itu.


Sebab yang harus di dekor maksimal adalah Siska, yang sejak kemarin juga sudah melaksanakan ritual dan rangkaian calon pengantin pada umumnya.

__ADS_1


Acara pengajian, khatam alquran, siraman dan rangkaian adat pun sudah terselenggara dengan runtut di hari sebelumnya. Tak heran, kampung mereka mendadak ramai. Sebab, pak Herman ayah Siska memang sengaja menggelar acara tersebut dengan skala besar. Yang melibatkan warga desa secara menyeluruh, untuk ajang silaturahmi dan meningkatkan nilai nilai gotong royong yang tetap wajib di junjung tinggi, terutama di desa mereka.


Asep tak terlihat di rumah mempelai wanita. Sebab, sudah menunggu kekasih hatinya di sebuah masjid tak jauh dari kediaman keluarga Siska. Sebab memang demikian yang telah di aturkan untuk acara mereka.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Asep Suparta bin Dae Jung dengan anak saya yang bernama Siska Sulistya binti Herman Kuriawan dengan maskawinnya berupa emas 24 karat dengan berat 100grm, tunai.” Lafal Ijab di ucapkan dengan tegas oleh Herman ayah Siska.


"Saya terima nikah dan kawinnya Siska Sulistya binti Herman Kurniawan dengan maskawin tersebut di bayar tunai." Lantang Asep dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi, Sah...?" Ucap penghulu melemparkan pertanyaan wajib yang tentu menginginkan jawaban satu suara dari para saksi dan semua orang yang berada di ruang mesjid tersebut.


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulilah." sahut penghulu mengucap syukur usai ijab dan qobul telah lancar terlaksana.


Selanjutnya mereka menyiapkan surat nikah yang harus kedua mempelai tanda tangani. Serai menunggu Siska memasuki ruang mesjid untuk duduk berdampingan juga melaksanakan rangkaian acara sakral selanjutnya.


Pemasangan cincin dan menerima kecupan hangat dan mencium punggung tangan Asep dengan hormat untuk pertama kalinya setelah sah sebagai pasangan suami istri.


"Cinta kita adalah yang terbaik karena imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga.” Ucap Asep tanpa berkedip menatap dua bola mata Siska, dengan peluh di kening bercucuran. Sembari menyemat cincin di jari manis Siska, istrinya.


“Aku ingin cinta yang akan berkata: "Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insya Allah.” Jawab Siska tak kalah romantis dan penuh kepasrahan pada sang khalik pemilik manusia di muka bumi.


Mendadak suasana dalam mesjid itu begitu syahdu dan khusuk atas kesakralan yang tercipta dengan sendirinya.


Bersambung...


Selamat menempuh hidup baru Siska & Asep. Readers ga sabar tunggu unboxing ala kalian berdua lho.


Yang mau nyak double up


Lempar mawar yaaak🤭


__ADS_1



__ADS_2