CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 214 : SUNTIK MATI


__ADS_3

Gilang bukan manusia sok alim. Bukan pula ingin menjadi pahlawan kesiangan. Ia menyadari jika tindakannya memberikan ginjal pada sang kakek adalah tindakan ekstrim yang sesungguhnya bertentangan dengan hati nuraninya sebagai manusia biasa.


Gilang juga menyadari, apalah manfaat besar untuk seorang Sudrajat hidup sehat dengan ginjal yang baru. Bukankah ia layak di hukum atas perbuatan semena-menanya terhadap Gilang, ibu dan kakaknya. Tetapi, hati kecilnya yang lain berkata. Lakukanlah yang terbaik dengan ikhlas.


“Gilang … di rumah sakit memang ada beberapa stok organ manusia. Termasuk ginjal. Namun semua itu tidak semudah memasang batrei baru pada boneka atau mainan robot-robota. Kakekmu harus mengikuti serangkaian pemeriksaan untuk di ketahui kondisi dan jenis ginjal yang akan di tukarkan dalam tubuhnya. Dan itu memakan waktu cukup lama. Sedangkan ginjal yang akan di pasangkan, sudah teruji secara klini juga tipenya sudah di ketahui. Sehingga setelah kakekmu melewati pemeriksaan itu, akan segera di ketahui, apakah organ itu akan cocok atau tidak dengan beliau.” Jelas Kevin saat berada di dalam ruang wakil sirektur pada Hildimar Hospital.


“Iya pak … kami sudah memikirkan semuanya. Silahkan lakukan rangkaian pemeriksaan tersebut.” Jawab Gilang yakin.


“Jika ternyata tipe ginjal itu tidak cocok. Maka kemungkinannnya adalah …” kalimat Kevin menggantung.


“Iya… saya paham. Maka, mungkin selanjutmya saya lah yang akan melewati beberapa rangkaian pemeriksaan agar dapat di pastikan. Apakah saya bisa menjadi pendonor untuk kakek.” Jawab Gilang dengan suara sedikit gamang.


“Kamu sudah yakin dengan pengorbananmu?” tanya Kevin memastikan.


“Insya Allah. Jika Allah mengijinkan saya untuk berbagi ginjal dengan kakek. Maka saya yakin, Allah juga sudah menjaminkan keselamatan hidup saya, walau harus hidup dengan satu ginjal nantinya.” Jawab Gilang dengan mata yang sedikit memerah, menahan rasa apa saja yang bersemanyam dalam otaknya. Hatinya sesungguhnya sedang berperang. Gilang hanya manusia biasa. Yang tak luput dari rasa takut, khawatir juga iba.

__ADS_1


“Kita akan cari pendonor lain yang cocok, jika stok yang ada tidak sesuai dengan kakekmu.” Kevin sedikit menawar, semacam menggoda dan mengoyahkan iman Gilang.


“Tidak ada keharusan untukmu mengorbankan diri. Apalagi dengan riwayat masa lalu kalian.” Pancing Kevin.


“Saya tidak ingin mengecewakan Allah. Saya tak pernah lama memiliki ayah. Mungkin Allah pertemukan saya dengan kakek, agar saya tetap pernah merasa memiliki orang tua.” Jawab Gilang tertunduk.


“Saya pernah memiliki seorang putra. Yang bahkan tangisan pertamanya pun tak sempat saya dengar. Apa yang Allah ingin tunjukkan pada saya, ayah tak punya, anak lelaki binasa. Apa saya juga harus membiarkan kakek begitu saja tanpa usaha yang keras?” air mata Gilang tak tertahankan. Serapuh itu ia merasa dirinya bagai pecundang jika tak rela berkorban.


“Kamu tau … dengan memberikan ginjalmu. Efek terburuknya adalah kematian. Tidakkah kamu berpikir. Tindakan itu akan membuat adik saya akan cepat menjadi seorang janda. Dan keponakan saya menjadi anak Yatim?” Kali ini Kevin bicara dengan ekstrim. Bahkan sangat real bukan.


“Jika kematian adalah balasan niat baik saya pada kakek. Maka itulah yang terbaik yang ingin Allah berikan untuk saya dan keluarga saya.” Klasik sekali jawaban itu. Bahkan tak ada kekuatan di dalamnya. Seolah Gilang telah siap mati. Dan tak berpikir panjang, akan nasib Gita yang mungkin akan menajdi single parent.


“Selamat pagi Kakek Sudrajat. Perkenalkan saya Kevin dan ini istri saya Muna. Saya kakaknya Gita, Cucu menantu kakek.” Kevin dan Muna menyambangi Kakek Sudrajat yang sudah menggunakan pakaian pasien khas rumah sakit yang mereka miliki.


“Oh … iya. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang kalian lewat menantu saya. Terima kasih, Allah sempatkan saya berjumpa dengan orang hebat seperti kalian.” Puji Sudrajat yang takjub akan kunjungan pasutri yang ia kira adalah pasangan paruh baya. Ternyata mereka adalah pasangan yang tergolong muda di mata sang kakek Sudrajat.

__ADS_1


“Semoga ceritanya tidak berlebihan ya Kek.” Kekeh Kevin berbasa-basi.


“Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menyampaikan. Jika mulai hari ini, kakek akan menjalani pemeriksaan lengkap. Untuk mengetahui secara detail penyakit kakek, juga untuk memastikan solusi untuk pencangkokan ginjal kakek. Di rumah sakit ini, kebetulan kami memiliki beberapa stok organ, yang mungkin cocok dengan yang kakek miliki. Maka besar harapan kami, salah satunya cocok dan bisa di pasangkan untuk kakek.” Jelas Kevin panjang lebar.


“Tidak usah repot-repot. Panjang umur saja tidak berguna bagi kakek. Sempat bertemu kalian orang-orang baik saja membuat kakek malu dan tak berhak meminta untuk sembuh.” Kakek Sudrajat sepulang dari rumah sakit di Bandung kemarin memang sempat merasa jumawah. Perasaan sehatnya membuatnya ingin berubah menjadi orang tamak dan serakah kembali. Rasa iri dan dengki yang ia miliki dan pernah berakar dalam hatinya, tentu meronta saat tau jika Gita bukan menantu biasa.


Sudrajat tau betul, jika menantunya Dian sangat beruntung menpunyai Arum dan Gilang yang tumbuh menjadi anak yang berbakti. Bahkan Gilang yang mampu mendapatkan istri kaya raya. Sempat di sela rasa sehatnya pasca di rawat di rumah sakit membuat pikirannya oleng. Ingin kembali menjadi penguasa dalam rumah menantunya.


Namun, dalam sepertiga malam. Ia kerap kali mendengar tangisan pilu sang menantu. Yang memohon maaf dan ampun pada Allah. Agar mengubah pikiran anak dan menantunya. Agar sedapatnya saja membantu pengobatan sang kakek. Sudrajat paham akan tangisan pilu itu. Dian tak ikhlas jika Gilang mendonorkan ginjalnya. Dian yang setiap hari sudah sangat tulus merawatnya, walau dengan keadaan jantung yang sudah terpasang ring. Namun, selalu tampak tersenyum untuknya.


Masa muda mereka sudah di rengut olehnya. Dua cucunya sudah tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Haruskah kini, cicitnya ia tantang untuk menjadi anak yatim, masih dalam rangka ingin membelanya?


Sudrajat pernah kejam bahkan keji. Namun ia tidak semonster itu untuk menjalani sisa hidupnya.


“Maaf … jika boleh. Apakah ada suntikan agar saya cepat mati saja? Agar tidak merepotkan dan lagi-lagi mengeluarkan banyak biaya untuk kesehatan saya?” hah. Pertanyaan konyol macam apa itu? Yang keluar dari mulut seorang Sudrajat. Apakah ia sungguh telah bosan hidup.

__ADS_1


“Kakek … kakek bahkan sampai di bawa ke sini demi mendapatkan kesehatan. Lalu mengapa sampai di sini, kakek justru ingin membuat kami menjadi pembunuh?”


Bersambung ….


__ADS_2