
Hati kecil Laela tentu menolak, mana mungkin pikirnya Asep si pria kasep, baik hati, yang sopan selalu itu bisa menghamili wanita lain. Jelas jelas ia yang berstatus sebagai pacar sampai hampir dua tahun saja, tidak pernah di sosor. Ga ada romantis romantisnya, tanda tanda akan nambrak gunung kek, ga pernah sama sekali. Gaya pacaran sama si Asep persis anjuran saat virus Corona lagi marak maraknya, yaitu wajib jaga jarak. Boro boro hamil, deket aja jarang. Kesel banget kan jadinya Laela. Sama dengan tujuan kencan, Asep lebih mirip paman Go-Jek saja, yang siap antar Laela kalo mau belanja ke pasar saja. Bikin senyum dikit, kalo pas ada acara tahunan yang ngadain pasar malam. Itupun dengan segala bentuk rayuan Laela sampaikan agar Asep mau naik bianglala bersamanya, ngenes bangetkan jadi Laela.
Asep baru saja masuk rumah dan langsung di sambut oleh ambu.
"A'Asep... a'a teh cinta sama si Laela anak kepala desa?"
"Ambu teh kunaon, tanya kitu. Asep teh sampe belum duduk sudah di tanya soal cinta." Jawab Asep tak mengerti.
"Sep... ambu te tidak suka sama si Laela. Apalagi ibunya, mereka teh suka pamer, sok baik. Padahal, eta mah bukan duit mereka. Tapi gayanya seperti mereka saja yang paling kaya. Jalan, jembatan, rumah ibadah... huh. Semua dia bilang bisa di bangun karena suaminya yang kepala desa itu. Eta mah... program bukan?" curhat ambu semangat.
"Sebentar... ambu sudah minum teh sore ini?" tanya Asep saat sudah berganti pakaian.
"Belum." Jawabnya singkat.
"Huum... pantes bawaannya teh ambekkan. Niih, kita nikmati kudapan sore dulu ambu, Asep tadi dapat oleh oleh dari desa hulu." Asep pintar mengalihkan kemarahan wanita tua kesayangannya itu. Tanpa di minta ia sudah membuatkan dua cangkir teh untuknya dan ambu.
"Ambu teh kunaon nanya perasaan Asep sama si Laela?" tanyanya pelan pada ambu yang sudah menyeruput teh hangat buatan Asep.
"Ambu tidak mau A'a menikah sama dia. Pokoknya tidak suka. Laela teh, suka marah, ga cocok sama Asep. A'a teh ambu ajarin lembut, sopan dan baik. Masa besok nikah sama gadis kitu. Tapi... terserah Asep sih. Kalo sudah kadung cinta, ambu bisa apa?" ujarnya melemah.
Asep meraih tangan ambu, mengenggam dan meremasnya.
"Nanti a'a periksa hati dulu ya mbu. Apa udah cinta atau tidak sama si Laela. Selama ini Asep hanya dekat, dan berusaha mengenal pribadinya saja. Bukankah sebelum nikah urang boleh punya banyak teman, kenal pribadi cewek banyak banyak. Supaya nanti tidak menyesal pas di jadikan istri." Ujar Asep pelan pada ambu.
"Kalo kitu mah, ambu setuju. Selagi muda dan belum terikat. Sok atuh, kenali banyak banyak wanita. Asep sekarang juga melanjutkan kuliah, cari atuh awewe yang lebih baik dari Laela. Kecuali ambu mati, baru Asep boleh nikah sama dia."
"Astagafirullahalazim. Ambu, ulah kitu atuh. Bilang tidak setuju saja sudah cukup, ulah ngancem sagala. Percuma Asep nikah kalau tanpa restu ambu mah." terangnya pelan.
__ADS_1
"Maafkeun ambu."
Asep menepuk pundak wanita yang melahirkan ibunya tersebut, ambu memang tidak melahirkannya. Tapi ambu adalah pahlawannya. Ambu yang pernah menyelamatkannya saat hampir tenggelam, saat bermain main di sungai bersama teman temannya waktu kecil.
Asep kerap di kucilkan, dan di sebut anak haram saat ibunya jarang pulang ke Indonesia. Saat perekonomian mereka belum stabil, yah saar itu. Dadang abah Muna juga hanya bekerja sebagai supir bukan, di keluarga Hildimar. Sungguh mereka adalah keluarga sederhana saja di masa lalu. Hingga kegigihan dan keuletan, serta ketekunan mereka lah, kini dapat menerima hasil perjuangan.
Asep susah sering melihat, Dadang yang jarang pulang. Sibuk mengantar kemana mana sesuai perintah majikan, belum lagi hatinya tersiksa rindu pada ibunya yang tak selalu pulang tiap lebaran, mirip bang toyib.
Maka beranjakbdari itu, Asep bertekad harus punya pekerjaan tetap. Harus jadi ASN, walau gaji kecil tetapi sampai mati pun, tetap ada yang bertanggung jawab hingga anak cucunya kelak. Apa kabar Kevin yang sesuka udelnya mau Asep berhenti jadi ASN demi mengembangkan perusahaannya di Cisarua. Bukankah, menjadi ASN adalah impian Asep sejak lama. Maka tanpa di tanyapun, jawabannya sudah pasti. Asep akan tetap menjalani pekerjaan yang sangat ia impikan itu.
Agak malam Asep bertandang ke rumah Laela, walau tak tau apa judul perasaannya pada Laela. Asep tetap menepati janjinya. Akan menjelaskan pada Laela semuanya, tentang ponselnya yang harus ganti nomor karena membantu Muna menghilangkan jejak dari Kevin waktu itu. Dan bercerita siapa Muna dan hubungannya. Tetapi sesampai di pintu depan rumah Laela, sang ayah sudah keluar dengan wajah tak bersahabat.
"Selamat malam pa, boleh bertemu Laela?" tanyanya sopan.
"Mau apa lagi?" perntanyaan itu di lontarkan dengan nada tinggi dan kasar.
"Mau bicara pak." Jawab Asep tetap sopan dan lembut.
"Ada apa ya pak?" Asep bingung dong tidak tau pasal, sebab musebabnya.
"Belum puas kamu buat anak saya menangis seharian ini? belum jadi suami saja kamu sudah berani menyakiti hati anak saya. Pulang...!!!" usirnya garang.
"Hah... tapi salah saya apa pak?" tanya Asep yang benar tidak tau permasalahannya.
"Tanya salahnya apa lagi... pergi sana. Jangan pernah menunjukkan batang hidung mu di rumah saya lagi. Awas kalau berani dekat dekat sama anak saya. Dasar penjahat." ujarnya gusar, masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.
Dengan pertanyaan yang berkecambuk di dalam pikirannya, Asep pun membalik arah motornya, kembali ke rumah ambu dengan perasaan bingung, sebingung, bingungnya.
__ADS_1
"A'Aseeeeep." Teriak Laela keluar rumah, tapi asap knalpot motor Asep yang tadi mengepulpun berangsur hilang menguap pertanda laju motor itu sungguh telah membawanya semakin jauh dari rumah Laela.
"Ayah kenapa ga panggil Laela pas ada A'Asep?" hardiknya pada sang ayah.
"Kenapa masih mau mendengarkan dia, kata ibumu. Dia lelaki yang sudah menghamili wanita lain. Bahkan wanita itu sudah pernah tidur berhari hari di rumah ambunya." Ujar ayah Laela santai.
"Tapi itu baru kata ambu, ayah. Laela bakhan belum dengar pengakuan dari dianya." Bantah Laela agak gusar pada sang ayah.
"Maling ngaku... penjara penuh Laela. Bahkan ambunya sendiri yang bilang kebejadan cucunya. Sudah lah, jangan buang waktumu dekat dengan lelaki baji ngan macam Asep itu."
"Ayaaah... Asep itu tampan. Susah dapat seperti itu lagi."
"Halaaaaah... tampan. Besok tua juga ompong, mana ada tampan sampai tua." Sergah sang ayah membantah Laela.
"Tapi Laela cinta dia ayah..."
"Cinta ta i kucing. Kalo dia cinta kamu juga, yang dia buat bunting itu kamu, bukan wanita lain." Stop... ini yang gesrek siapa ya?
Bersambung....
Sorry ya readers agak macet setorannya.
Sama kaya votenya readers jugaπ€
Sampe nyak mental dari rank 200
yaaah curhat deh...
__ADS_1
Makasih ya tetap setia
πΉπΉββππππ