CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 32 : TAK ENAK HATI


__ADS_3

Senyum sumringah tersampir di wajah ketiga wanita beda asal dan budi pekerti itu. Di tangan mereka tidak hanya ada satu paper bag. Tapi banyak. Sebab Muna tak ingin kalah membelikan kado untuk Gita, sama halnya dengan Zahra.


Gita di bebaskan Muna untuk memborong parfum kesukaannya dalam jumlah banyak, dari botol yang besar hingga kecil. Yang nantinya akan ia bagi bagikan sebagai oleh oleh untuk teman kantornya.


Muna memberi ide, agar Zahra benar membelikan lingerie untuk Gita dan Zahra juga.


"Kak Muna tidak?" tawar Zahra.


"Ga usah... pap Ay itu omes. Dia jarang suka Muna pakai ginian." ujar Muna tertawa.


"Hah... pasti polosan." Celetuk Gita asal.


"Nah tuh tau." Heeeerrr... kenapa wajah Zahra yang memerah menyandang malu. Bukankah yang bicara adalah Muna dan Gita.


Zahra belum banyak tau, Gita darah Mahesa sudah tentu omes, kalau Muna sudah keseringan bergaul sama si raja omes, jangkit deh.


Sama sekali tak ada raut marah, bosan atau kesal di wajah 3 suami yang dari tadi menunggui istri mereka belanja di pusat perbelanjaan sedari tadi.


Kevin mana tau malu, langsung menarik Muna untuk duduk di pangkuannya tanpa peduli itu tempat umum.


"Mana abang liat, Gita beli apa buat nyonyaku..." Ujarnya mengecup kecil pipi Muna. Ah, lagi lagi Zahra malu dan buang muka, mengambil tempat di sebelah kiri Daren.


"Nih... jam tangan, bang. Cantik kan, Muna suka." Jawab Muna yang berusaha mengalihkan pan tatnya agar tidak di atas paha suaminya itu.


Kevin meraih jam tersebut, meraba dan memperhatikannya dengan detail.


"Oke... makasih ya Git." Ucapnya puas. Kevin tau jika harga jam yang di belikan Gita untuk istrinya itu mencapai seperempat M.


"Untuk Zahra...?" Keponya lagi, takut saja Gita hanya membelikan untuk istrinya, tapi tidak untuk istri Daren.


"Sudah kakak. Tuh sama jam tangan limitied edition juga. Yang ada emas putihnya, ada taburan berlian juga. Mantapkan?" Ujar Gita mengeluarkan jam milik Zahra.


Kevin terkekeh senang. "Anak pintar. Gitu donk, duitnya sekali kali di pake. Lang, kamu jangan sungkan minta traktir dia, tabungannya itu banyak. Beli Jets 5 biji, juga sudah mampu." Tawa Kevin antara meledek dan menyampaikan berita yang benar.


"Iiih.... kakak lebay." Jawab Gita menyeruput air mineral yang di sodorkan Gilang untuknya.


"Oke, kita pisahnya di sini ya. Kami langsung ke Jakarta. Dan besok pagi pagi saya yang masuk kantor Lang. Sampai Rabu. Selamat menikmati bulan madu ya. Dan Daren, semoga urusan dan programnya lancar, oke semua..." Pamit Kevin pada kedua adik dan iparnya.


Peluk cium perpisahan sudah terjadi lagi. Tersisa dua pasang pengantin di sana.


"Kalian habis ini kemana?" tanya Daren pada Gita.

__ADS_1


"Ambil sisa pakaian dulu deh kayaknya, soalnya kan. Malam itu kami di usir paksa dari apartemen." Gita manyun manyun lagi ingat drama malam itu.


"Hahahaa... oke deh. Kami ke apartement papa dulu ya." Pamit Daren.


"Nginap di sana?"


"Iya, besar dan kosong juga kan." Gita mengangguk anggukkan. Lalu merekapun berpisah di sana.


***


Gilang dan Gita sudah kembali ke hotel, setelah sebelumnya singgah ke apart Kevin untuk memastikan barang mereka tak ada yang tertinggal di sana.


Sholat ashar sudah mereka laksanakan bersama, pengantin baru ya biasa, kan ya. Kalo ga jalan jalan, ngobrol ya tiduran deh.


"Neng kalo a'a ga salah hitung. Sekali belanja si eneng tadi ngabisin setengah M ya." tebak Gilang yang sesungguhnya dari tadi sudah menahan diri, menahan rasa gemuruh di dalam dadanya, tercengang dengan semua belanjaan sang istri. Sekaligus sadar semakin sadarnya jika mereka sesungguhnya memang bagai bumi dan langit. Sungguh berbeda.


"Hm... iya a'."


"Gimana rasanya?"


"Biasa aja."


"Hm... ga kayak berasa kerampokan gitu?" tanya Gilang lagi dengan lembut.


"Ya Tuhan, jika belanja adalah kebahagiaan istriku, maka berilah hamba rezeki yang banyak untuk selalu dapat mengajaknya shopping. Aamiin." Sindir Gilang.


"Amiin. Harus itu a'. Karena pada akhirnya cowok yang biasa ngajak chatting akan kalah sama cowok yang ngajak shopping." Kekeh Gita setuju dengan doa sang suami.


"Ya sebab a'a yakin bahwa berbelanja lebih murah daripada pergi ke psikiater." Gilang tak sanggup lama lama dalam rasa baper melihat nominal belanja istrinya.


"A'a kira neng akan gila jika tidak pergi belanja, hah....??" Gita baru sadar akan sindiran Gilang tadi.


"A'a ga bilang gitu."


"Tapi efeknya ke situ a'a."


"Perasaan neng saja." Jawab Gilang.


Gita bangkit dari posisi rebahannya. Lalu berjalan ke ruang sebelah.


"Kemana?"

__ADS_1


"Mau ngabisin cake ultah tadi. Sayang kalo ga habis. Mubazir ntar." Jawab Gita sembari mencepol rambutnya asal. Gilang pun menyusul.


Gita memotong dan menyuapi kue itu untuknya dan Gilang bergantian. Hingga pisau yang ia gunakan untuk memotong kue itu, menabrak sesuatu di dalam sisa potongan kue tadi.


"Hah... ada plastik a'." Ujar Gita kaget. Gilang pun ikut memperhatikan plastik yang Gita maksudkan.


Pelan pelan ia tarik dan ternyata berisi sebuah benda agak berkilau di dalamnya. Gita membuka dengan dua tangannya. Ternyata sebuah gelang bentuk rantai yang di penuhi berlian, kerlap kerlip berkilauan. Taksiran harga mungkin kisaran 35juta.


"Waaaa.... keren banget. Pasangin a'a." Pinta Gita yang tak sadar perubahan wajah suaminya sejak mereka berduaan di kamar hotel ini.


"Siapa yang beliin ya? Apa mama?" Gita segera memoto tangannya yang memakai gelang lalu mengirimkannya pada sang ibu.


Jawaban itu yang membuatnya tau, jika surprise itu datang dari Daren. Daren yang sengaja meminta orang memasukan gelang tersebut dalam cake ultahnya.


Gita pun segera melakukan video call, untuk mengucapkan terima kasih pada Daren. Sebab sungguh tak mengira masih dapat kejutan kembali.


Gita tak dapat menyembunyikan kesenangannya, sama halnya dengan Gilang yang semakin merasa kerdil dengan keluarga sang istri.


"A'a wajahnya kenapa?"


"Ga apa apa." Jawabnya datar.


"Bohong... a'a sakit?" Gita meletakan punggung tangannya di dahi suaminya. Normal biasa saja dengan suhu badan itu. Tapi raut wajah itu...


"A'a bilangin sama eneng ada apa?" paksanya pada Gilang, dengan mendudukan bo kongnya di atas paha suaminya yang sedang duduk di sofa tunggal dengan posisi tubuh menghadap Gilang tak berjarak.


"Ga ah. A'a baru sadar saja. Kalo a'a teh hanya seorang kurcaci yang sedang menjaga seorang putri raja." Gilang mengandaikan dirinya sekecil kecilnya di hadapan Gita.


"A'a ... udah deh. Ga usah kaya cewek lagi datang bulan. Eneng tuh cinta sama a'a. Eneng tuh sayang pake banget a'a. Mana eneng pernah mikir a'a kaya atau miskin. Asal a'a setia sama eneng, ga khianati eneng. Udah a'. Selanjutnya rejeki dan lainnya kita bisa cari sama sama." Gita meyakinkan.


"Tapi semua saudaramu sangat melimpahimu dengam semua barang mahal neng. A'a malu. Ga kasih eneng apa apa."


"Cukup kasih sayang eneng banyak banyak a'. Itu udah cukup."


Bersambung...


Makasih yang selalu setia dan nungguin nyak up ya...


Semangat...


Makasih

__ADS_1


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™


__ADS_2